Idul Fitri, Konsumerisme, dan Ilmu Nurus Bumi


Sehebat-hebatnya kedudukanmu, sehebat-hebatnya perjuanganmu untuk sukses di dunia, sekuat-kuatnya cita-citamu, kuburan adalah pencapaian terakhir yang akan kauraih. Baik-baiklah dalam bermuamalah....
Sehebat-hebatnya kedudukanmu, sehebat-hebatnya perjuanganmu untuk sukses di dunia, sekuat-kuatnya cita-citamu, kuburan adalah pencapaian terakhir yang akan kauraih. Baik-baiklah dalam bermuamalah….

RASULULLAH SAW bersabda, “Pada hari pertama Idul Fitri, ada (malaikat) memanggil-manggil, ‘Wahai kaum mukmin, pergilah kalian menghampiri penghargaan-penghargaanmu.’ Kemudian bersabda, ‘Wahai Jabir, penghargaan Allah tidaklah sama dengan penghargaan para raja.’ Kemudian berkata, ‘Itulah Hari Penghargaan’.”

Dinamakan Hari Penghargaan karena pada hari itu orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat Qiyam Ramadhan (Tarawih), dan menaati segala perintah Allah pada bulan Ramadhan, mendapatkan pengampunan atas segala dosanya. Pertanyaannya, semua dosa, termasuk dosa besar, atau dosa kecil saja?

Kang Mustari mengatakan bahwa yang diampuni semua dosa minus dosa besar. Sedangkan Kang Ngadiman mengatakan bahwa yang diampuni adalah semua dosa, baik kecil maupun besar. Yang mana yang benar? Mosok yang diampuni hanya dosa-dosa tertentu saja?

Ada hadis yang mengatakan bahwa mereka-mereka yang memenangkan ‘penghargaan’ adalah orang-orang yang memenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syarat itu adalah berpuasa di bulan Ramadhan, melaksanakan shalat malam Ramadhan, menahan pandangan matanya dari melihat maksiat dan hal-hal yang sia-sia, menjaga farji dan lisannya, selalu shalat berjamaah, dan pergi di awal-awal shalat Jumat. Jika orang telah memenuhi syarat-syarat itu, maka dia telah mendapatkan ‘penghargaan’ itu. Diampuni semua dosa-dosanya, dari yang kecil maupun yang besar.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berpuasa iya, tapi shalat malam atau tarawihnya bolong-bolong. Berpuasa iya, tapi nonton film porno jalan terus. Berpuasa iya, tapi hobby-nya nonton acara-acara TV yang disamping sia-sia juga mempertontonkan wanita-wanita seksi. Puasa iya, tapi bergosip, korupsi, kongkalikong, dan seterusnya jalan terus. Menurut teori hadis Nabi sih, orang-orang ini adalah orang yang merugi: berpuasa hanya mendapatkan laparnya saja.

Jangankan berbuat maksiat di bulan Ramadhan, melakukan hal-hal yang sia-sia saja akan merusak puasa. Jangankan berbuat korupsi, kongkalikong dalam proyek, berbuat sia-sia yang tak mengandung dosa saja sangat bisa jadi menghilangkan nilai puasa. Puasa di bulan Ramadhan itu tidak susah, tapi kita sendiri yang suka menggampangkannya. Padahal bulan Ramadhan itu bulan mahal.

Itulah harga mahal bulan Ramadhan. Bulan ini malahan ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad saw. sendiri. Nabi tahu betul bahwa di bulan ini segala kesenangan ruhani diberikan, ditumpah-ruahkan. Ibarat air bah, maka tumpahan kesenangan ini seperti air bah zaman Nabi Nuh. Tumpah ruah ke segala sendi kehidupan: ibadah mahdhah dilipatgandakan 10 kali lipat, 700 kali lipat, bahkan dilipatgandakan dalam jumlah yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Aktivitas bukan ibadah akan bernilai ibadah, juga dengan pahala berlipat-lipat, dimana hanya Allah yang mengetahuinya.

Kita sekarang sudah di penghujung Ramadhan. Entah bagaimana kita mengisi Ramadhan yang hampir berlalu ini. Jika Ramadhan kita isi dengan aktivitas hebat, maka berbahagialah kita. Jika di bulan Ramadhan ini kita masih saja menggeluti dunia seperti hari-hari biasa, bahkan lebih parah, mengejar-ngejar proyek, atau malah menganggap Ramadhan adalah bulan mengumpulkan pundi-pundi Rupiah untuk keperluan mudik, maka sepantasnya kita bersedih dan berdoa agar kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan lagi. Berharap agar pada Ramadhan depan kita dapat memperbaiki kualitas kita.

Konsumerisme Idul Fitri dan Ilmu Nurus Bumi
Konsumerisme berasal dari kata Consumere berarti menghabiskan, memakai sampai habis, menghambur-hamburkan sampai habis. Maka, konsumerisme adalah suatu paham yang menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan bahkan ukuran kesuksesan dalam hidup.

Seseorang akan merasa sukses jika mampu mudik—apalagi—di hari Idul Fitri dengan perhiasan mewah, mobil atau motor baru, dan tentu saja cerita tentang kesuksesannya di negeri rantau.

Gaya hidup seperti ini bukanlah tuntunan Islam. Nabi bukan orang miskin. Tapi Nabi pun bukan orang kaya. Kenapa? Karena tak sehari pun Rasulullah saw. menyimpan harta-hartanya di rumahnya keculai besoknya atau segera sebelum berganti hari harta-harta itu sudah dinafkahkan di jalan Allah. Jadi, bagi Nabi saw. harta itu harus dicari, tapi setelah didapat, harta-harta itu harus dinafkahkan kepada kebaikan, baik bagi orang-orang yang membutuhkan, maupun bagi keperluan-keperluan umum yang lain.

Kita mungkin tak bisa meniru gaya hidup tuntunan Rasulullah ini. Kita perlu menabung untuk merencanakan kehidupan kita dan keluarga kita di masa-masa yang akan datang. Tetapi, bermewah-mewah dalam hidup, apalagi pamer, adalah perbuatan di luar ajaran Islam. Maka, jika gaya hidup mewah di hari-hari biasa bukanlah ajaran Islam, maka apalah jadinya dengan bermewah-mewah dan memamerkan kekayaan kita di hari Idul Fitri?

Menurut Kang Ngadiman ini gaya hidup mewah dan pamer di hari Idul Fitri adalah pertanda buruk seseorang dalam menjalani dan memahami nilai-nilai Ramadhan. Menurut Kang Ngadiman, “Lapar di bulan Ramadhan bagi orang-orang pamer hanyalah perubahan cara makan, tidak lebih dari itu.” Lapar tidak dipahami sebagai ama lan (atau ijazah dalam bahasa pesantrennya) dari Allah dengan tujuan agar dia mendapatkan ilmu nurus bumi tingkat tinggi. Dengan ilmu nurus bumi ini orang dapat mencapai nilai-nilai kubur bahkan nilai-nilai akhirat.

Kang Ngadiman yang memahami nilai akhirat tak mengerti apa itu pamer harta benda. Yang dia mengerti adalah dirinya, cepat atau lambat, akan dimintai pertanggungjawaban atas kelakuan-kelakuannya di bumi. Kesadaran seperti ini—mau tak mau—membuatnya selalu ngeri jika hendak melakukan ‘penyakitan’ atau ‘penyiksaan’ kepada orang-orang miskin atas kemewahan atau kesenangan yang tidak mereka miliki. Penyiksaan dalam bentuk apa pun, bagi kang Ngadiman, adalah jenis aktivitas yang sangat dia benci, seperti Allah juga membencinya.

Ilmu nurus bumi inilah yang tak dipunyai oleh orang-orang pamer. Orang-orang yang suka menyakiti perasaan orang-orang miskin dengan kemewahannya, bahkan di hari dimana orang-orang Islam seharusnya merayakannya secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s