Islam Nusantara: Wacana atau Aksi?


Membuat konsep itu sangat mudah. Yang susah adalah mewujudkannya menjadi aksi dan perjuangan.
Membuat konsep itu sangat mudah. Yang susah adalah mewujudkannya menjadi aksi dan perjuangan.

WACANA Islam Nusantara sungguh sangat menarik di tengah-tengah kekacauan yang ditimbulkan oleh faham-faham Wahabisme. Wacana ini seperti ingin menyuguhkan wajah Islam yang berbeda dengan faham-faham ekstrem ala Wahabisme dan banyak pengikutnya, juga Islam alay.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana ideologi Islam Nusantara ini akan eksis? Apakah ini akan hidup cukup hanya menjadi sebuah wacana, sebuah tumpukan (heap) atau sistem?

Sebuah entitas dapat dikenali sebagai jenis atau kategori tertentu karena memiliki identitas yang berbeda dengan yang lain. Entitas ini harus memiliki ciri keutuhan (unity) sebagai hasil dari relasi komponen-komponennya.Jadi, unity itu adalah syarat mutlak sebuah sistem.

Sistem berbeda dengan heap (tumpukan). Heap adalah kumpulan komponen yang tidak memiliki sistem. Komponen-komponen itu tidak mempunyai relasi satu sama lain. Seperti teori kerumunan, komponen-komponen itu hanya berkumpul di satu ruangan pada satu waktu dengan visi dan missinya masing-masing, tanpa relasi apa-apa. Sebuah sistem harus merupakan kesatuan dari komponen-komponen yang memiliki relasi satu dengan yang lain.

Islam Nusantara hanya akan mendapat ponten bagus karena berbeda dengan Islam garis keras yang disuguhkan Wahabisme. Atau Islam alay ala muballigh-muballigh artis. Hanya ponten bagus. Tidak lebih dari itu. Sementara pada saat mendapat pujian dari banyak pihak bahkan dunia internasional, ide ini hanyalah berwujud wacana. Tidak lebih tidak kurang.

Di Indonesia sendiri ada entitas bernama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dari namanya, mestinya di dalam organisasi ini berkumpul para ulama hebat, baik secara keilmuan, akhlak, maupun level sosial-budayanya. Saking hebatnya, mestinya fatwa-fatwanya lahir dari kajian yang spesial yang dihasilkan dari ijtihad mumpuni.

Karena tidak mungkin mengumpulkan begitu banyak tokoh hebat di satu organisasi—seperti kita lihat memang tak semua orang yang duduk di MUI itu mumpuni—akhirnya MUI ini mirip-mirip stasiun radio asal goblek: menyiarkan acara apa pun semaunya. Hukum-hukumnya tiba-tiba terdengar “haram” dan “halal”. Padahal haram dan halal yang difatwakan tidak digugu, dimana para santri—yang digembleng berbagai ilmu ilmu alat termasuk nahwu, dimana santri dapat dengan leluasa mengakses referensi klassik maupun modern apapun tanpa kungkungan ustadz atau mursyid lagi, dan ushul fiqih—mempunyai visinya

Islam Nusantara Harus Tersistem. Islam Nusantara adalah cara pandang keislaman yang menghargai adat dan budaya. Hal ini di dalam Ushul Fiqh masuk dalam pembahasan Urf (adat), bahkan masuk dalam pembahasan Maslahah Mursalah. Artinya, semuanya yang tidak bertentangan dengan hukum al-Quran-Sunnah dan “kemaslahatan” adalah Islam. Bahkan jika dihadap-hadapkan antara kewajiban dan kesusahan, akan dimenangkan kesusahan, menurut Islam Nusantara.

Inilah Islam yang sesungguhnya, menghargai adat-budaya masyarakat, seperti halnya Nabi dahulu juga begitu. Imam Syafi’i ketika berada di baghdad menelurkan fatwa-fatwa yang dinamakan Qaul Qadim (fatwa terdahulu). Tetapi, saat pindah ke Mesir, beliau menelurkan Qaul Jadid (fatwa baru). Ini bukan tidak ada dasarnya. Dasarnya adalah kaidah: bahwa hukum itu berubah mengikuti berubahnya waktu dan tempat.

Namun, sebagai wacana yang baik, seharusnya Islam Nusantara itu disistemkan. Harus ada Guardian-nya. NU bisa menjadi Guardian-nya dengan tradisi Bahtsul Masailnya. Meskipun tradisi ini tidak lagi bagus-bagus amat, karena hanya menggali hukum yang sudah ada, tanpa memakai pisau bedah Ushul Fiqh. Atau lembaga-lembaga pendidikan Islam semacam UIN dan pesantren-pesantren, bisa dijadikan semacam gardu-gardu listrik yang menjaga khazanah keislaman di wilayah-wilayahnya.

Islam Nusantara hendaknya menjadi sistem, dimana komponen-komponennya mempunyai korelasi satu dengan yang lain yang dibangun dengan visi dan missi yang sama. Menjadi seperti gardu induk: menciptakan atmosphere keislaman dan kenusantaraan dalam waktu yang sama. Dan dengan demikian, menolak ekstrimisme Islam. Jangan hanya menjadi kerumunan atau tumpukan tanpa korelasi yang jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s