Islam Nusantara VS. Islam Berkemajuan


Tak ada yang lebih baik daripada persatuan. Tak ada persatuan yang lebih baik daripada bersatu untuk membangun.
Tak ada yang lebih baik daripada persatuan. Tak ada persatuan yang lebih baik daripada bersatu untuk membangun.

ANAK-ANAK muda NU menawarkan Islam Nusantara pada Muktamar NU yang akan digelar 1-5 Agustus mendatang. Sementara Muhammadiyah memajukan term Islam Berkemajuan dalam Muktamarnya yang berlangsung di 3-7 Agustus. Dua term ini tentu sangat berbeda.

Perbedaan term kedua organisasi besar ini bukanlah masalah utamanya. Yang menjadi masalah adalah cara pandang orang setelah membaca term ‘nusantara’ dan ‘berkemajuan’. Seolah-olah yang pertama menawarkan lokalitas dan yang kedua menawarkan modernitas. Sepintas tidak salah. Tapi tidak demikian jika kita telisik lebih dalam.

Islam Nusantara
Salah satu yang mendasari lahirnya pemikiran ini adalah kaidah fiqih al-amru idza dhaaqa ittasa’a wa idzaa ittasa’a dhaaqa (IDIWID). Sesuatu itu jika menjadi sempit maka harus dibuat longgar. Jika sesuatu itu meluas, maka harus disempitkan.

Teori ini simple. Anda tidak bisa memakai sesuatu yang bukan porsi Anda. Baju yang kebesaran tidak akan nyaman dipakai. Demikian juga jika bajunya kekecilan, lebih tidak nyaman lagi. Lebih-lebih jika Anda pun berbadan kebesaran. Maka, kaidah fiqih ini menawarkan solusi yang simple dan logis: jika kekecilan besarkan. Dan jika kebesaran kecilkan. Sangat sederhana bukan?

Ini seperti toeori Anthony Giddens dalam Runaway World (2001). Menurutnya globalisasi telah membuat dunia semakin lepas kendali, kehilangan kontrol, dan seterusnya. Atau seperti kata Thomas L. Friedman bahwa bumi telah menjadi lapangan bermain yang rata dan memungkinkan banyak orang di seluruh dunia saling saing, saling berhubungan, dan berkolaborasi mengantarkan kita ke sebuah babak baru globalisasi yang akan memiliki dampak dahsyat pada peristiwa-peristiwa ekonomi, politik, militer, dan sosial.

Di sisi lain, diakui atau tidak, globalisasi—diciptakan atau adalah sebuah emergent properties sebagai hasil dari proses alami sebuah sistem—dipakai sebagai sebuah proyek besar negara-negara adikuasa. Maksudnya, bagi negara-negara adikuasa, globalisasi adalah kata lain dari kapitalisme, dimana negara-negara adikuasalah yang akan mengendalikan ekonomi dunia. Kapitalisme kemudian merambah ke ranah budaya dan agama. Karena kedua hal terakhir inilah ternyata hal yang paling bisa mempengaruhi persepsi, perilaku, dan keputusan manusia.

Kaidah fiqih IDIWID kurang lebih mempunyai garis finish yang bersesuaian dengan apa yang ditawarkan oleh Anthony Giddens: teori strukturasi. Teori ini memandang bahwa dalam kehidupan sosial terdapat hubungan antara tindakan pemahaman atau penafsiran seseorang dengan munculnya sistem sosial yang stabil. Maka, yang harus diciptakan adalah penguatan individu dan struktur atau organisasi. Sebagai jalan tengah bagi kebuntuan teori sktruktural Comte dan teori konstruksionisme Max Weber.

Islam Nusantara itu seperti lokalisme atau persiapan diri dengan kualitas tinggi dalam rangka menyambut ASEAN Economic Community (AEC) yang lebih dikenal dengan MEA. Karena ketika pasar tunggal di ASEAN telah terbentuk, maka negara-negara ASEAN dapat menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara. Anda bisa bayangkan jika kita tidak membekali diri kita dengan professionalisme tingkat tinggi, mungkin kita akan menjadi babu di negeri sendiri.

Di titik inilah garis finish Giddens dan kaidah fiqih IDIWID bertemu: Giddens menghendaki penguatan individu dan struktur, sementara kaidah fiqih IDIWID menghendaki agar globalisasi yang ada di depan mata kita—baik itu pengaruh buruk maupun pengaruh baik—harus divermak dulu, yang kegedhean alias jelek, ngaco, bahkan ngawur, harus divermak dulu, dikecilkan sampai sesuai dengan postur tubuh kita.

Jadi, secara individu, muslim-muslim harus membekali dirinya dengan ilmu vermak menvermak ini. Lebih-lebih secara stuktur. Peran dari struktur atau organisasi atau bahkan negara pada tingkat yang paling tinggi adalah seperti gardu utama yang mentransfer arus listrik semangat, fasilitas pendukung, dan kebijakan kepada individu-individu, yang berperan seperti komponen sebuah sistem.

Islam Nusantara kemudian menawarkan keberislaman yang kaffah: tidak hanya mengambil dalil-dalil Islam berdasarkan terjemahan DEPAG, atau main comothadis tanpa tahu syarah dan seterusnya. Melainkan harus mengetahui alat-alat kelengkapan keberislaman seperti Ushul Fiqh, Ulumul Quran, Ulumul Hadis, kitab-kitab Syarah, kitab-kitab Fiqih, dan seterusnya. Sehingga seseorang tidak dengan seenaknya menghukumi orang sebagai kafir, bid’ah, dan seterusnya hanya berdasarkan satu dua hadis yang dihafalnya.

Padahal apa yang terlihat belum tentu seperti yang terjadi. Satu hadis dengan makna yang terlihat sangat clear, tetapi pada kenyataannya dia memiliki banyak hidden meaning: harus melihat konteks atau asbabul wurud-nya, harus dilihat sanad dan matan-nya, dan seterusnya. Ini semua memerlukan kedalaman ilmu.

Konsep Islam Nusantara, dengan demikian, memperkuat Individu muslim dan struktur atau organisasi keislaman. Karena Individu muslim yang kuat adalah individu yang inklusif, egaliter, humanis, dan berakhlak tinggi. Individu seperti ini sudah pasti terlahir dari kedalaman ilmu dan kebijaksanaan. Sementara struktur atau organisasi yang kuat menciptakan komponen-komponen yang akan berkorealasi secara rekursif yang akan menghasilkan emergent propertiesyang berkualitas seperti unsur kimia H dan O dalam air: solid, tak mudah dipisah-pisahkan, dan menyegarkan.

Islam Berkemajuan
Berangkat dari term globalisasi, yang pengaruhnya semakin besar, mungkin term Islam Berkemajuan yang diajukan oleh Muhammadiyah adalah kelanjutan dari term yang sama yang digagas oleh pendirinya, KH. Ahmad Dahlan. Maka, maksud ‘berkemajuan’ adalah Islam yang tidak jumud atau mandeg.

Persis seperti yang ditulis oleh Muhsin Hariyanto yang mengutip pernyataan Sarlito Wirawan bahwa kondisi mental dan psikologi umat Islam Indonesia setelah zaman reformasi tak kunjung berubah. Umat Islam seperti terkepung (under siege) oleh pelbagai isu. Padahal, Islam harus tetap berkembang dengan wajar, baik di Indonesia bahkan di banyak belahan dunia.

Maka, term Islam Berkemajuan menolak puritanisme atau liberalisme. Karena dua pandangan ini sangat bertolak belakang dengan spirit Islam yang dikenalkan oleh Nabi SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin. Puritanisme dan liberalisme hanya akan membuat Islam menjadi terkotak-kotak dan menjauhi porosnya. Implikasinya kemudian adalah bahwa untuk menjadi Islam tidak harus memeluk agama Islam.

Ini seperti prinsip al-Syafi’i al-hukmu yataghayyaru bitaghayyuri al-azminah wa al-amaakin: hukum Islam itu berubah mengikuti perubahan zaman bahkan lokus. Bahwa Islam itu tidak boleh jumud, mandeg, galau, dan seterusnya. Karena jumud dan kemandegan adalah kontraditif dengan sifat Islam rahmatan lil ‘alamin.

Adagiumnya begini: umat Islam yang berteriak-teriak tentang idealisme Islam, malah orang-orang non-Islam di belahan dunia yang melaksanakannya. Seperti kasus anti riba di Jepang. Jepang yang bukan negara Islam sudah ber-Islam lebih dahulu daripada kita yang ngakunya Islam. Umat Islam dari jaman penjajahan sampai jaman super modern ini berteriak-teriak al-kulliah al-khamsah (hifdzud diin, hifdzun nafs, hifdzul ‘aql, hifdzun nasl, dan hifdzul mal), sementara umat non-Islam di belahan dunia sudah melaksanakannya.

Maka, Islam berkemajuan seharusnya memperkuat kedalaman Islam individu-individunya dengan membentuk sumberdaya manusia yang kompetitif dan religius. Setelah itu lalu menginstall jiwa ekonomi yang berkeislaman. Alih-alih mengikuti kapitalisme dunia, Muhammadiyah akan memengaruhi ekonomi dunia dengan visi Islamnya.

Ini persis seperti thesis Thomas L. Friedman dalam Hot, Flat, and Crowded. Menurutnya, ada lima masalah pokok yang secara dramatis diperparah oleh globalisasi, pengetahuan mengelolahnya adalah ‘definisi globalisasi yang sesungguhnya’. Lima masalah itu adalah: meningkatnya permintaan atas pasokan energi dan sumber daya alam yang semakin langka; perpindahan besar-besaran kekayaan ke negara-negara kaya minyak dan para petrodiktator mereka; terganggunya perubahan iklim; kemiskinan energi, yang dengan tajam membagi dunia ke dalam kelompok yang memiliki listrik dan tidak memiliki listrik; serta percepatan luar biasa penurunan keragaman hayati, sewaktu tumbuhan dan hewan punah dengan laju yang memecahkan rekor. Muhammadiyah, dengan demikian, bercita-cita menjadi ‘pendefinisi zaman’ daripada ikut-ikutan zaman.

Alurnya Sama
Anak-anak muda NU menawarkan apa yang oleh Anthony Giddens dikatakan sebagai Strukturasi: memperkuat individu dan struktur. Sementara anak-anak muda Muhammadiyah menawarkan beyond modernitas, yang untuk mencapainya diperlukan penciptaan sumberdaya manusia yang mumpuni dan berkualitas, berjiwa ekonomi berkeislaman.

Berbeda cara pandang: yang satu menekankan penguatan individu dan struktur, yang lain menekankan penguatan individu dengan jiwa ekonomi Islam yang tinggi. Namun, perbedaan cara pandang ini bertemu pada satu alur, yaitu penguatan keberislaman dan kualitas sumber daya manusia.

Maka, tak ada lagi lokalitas NU atau modernisme Muhammadiyah. Yang ada hanya al-istibaaq fi al-khayraat: berlomba-lomba mencapai kebaikan. Baik kebaikan untuk agama, untuk bangsa, dan untuk kemanusiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s