Amerika Serikat Ada di Saku Celana Kita


Trik intervensi-kolonialisme Amerika Serikat telah lama terbaca. Melalu Proxy War-nya, kabel yang menghubungkan kekacauan dengan Remote Control-nya telah terlacak.
Trik intervensi-kolonialisme Amerika Serikat telah lama terbaca. Melalu Proxy War-nya, kabel yang menghubungkan kekacauan dengan Remote Control-nya telah terlacak.

MENURUT William Blum dalam Demokrasi: Ekspor Amerika Paling Mematikan, campur tangan Amerika ke Indonesia berawal dari Konfrensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda 1949. Dalam konferensi itu, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dengan tiga syarat.

Pertama, Indonesia harus mempertahankan keberadaan perusahaan asing, kebanyakan dimiliki Amerika; Kedua, Indonesia harus mengakui IMF, Amerika sebagai pemegang saham tertinggi; Ketiga, Indonesia harus bersedia membayar hutang Hindia Belanda selama perang.

Dengan 3 butir ini, Amerika berhasil menancapkan kukunya dalam-dalam di Indonesia. Tujuannya hanya 1, agar jangan sampai kepentingannya terganggu. Dengan ini kemudian, Soekarno yang anti Amerika lengser digantikan Soeharto. Peralihannya, dan peralihan negara-negara Dunia Ketiga yang lain akan sama, dengan jalan kudeta dan bantuan militer.

Menurut Naom Chomsky dalam How the World Works, pasca Perang Dunia ke-2, Goerge Kennan, sebagai perencana pasca perang Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat menyadari bahwa rekonstruksi pasca perang pada masyarakat industri adalah vital bagi korporasi AS, maka tatanan sayap kanan tradisional harus direstorasi menjadi dominasi bisnis.

Pada saat yang sama para buruh akan dipecah-belah dan dilemahkan, dengan meletakkan beban rekonstruksi di pundak kelas pekerja dan rakyat miskin. Sementara musuh-musuhnya dari kaum fasis diberikan lawan fasis dan Nazi, dengan bentuk represinya secara militer.

Bentuk lain dari represi kepada negara-negara yang berpotensi benar secara ekonomi dan politik diterror dengan mengganti hasil pemilihan umum yang mereka adakan dan menimbun persediaan makanan yang dibutuhkan sehingga menimbulkan krisis pangan.

Itulah yang disebut dengan Doktrin Monroe. Menurut Dr. Wood Gray dalam Garis Besar Sejarah Amerika, terror Amerika Serikat dimulai di Italia, tepatnya Italia bagian selatan. AS menjatuhkan diktator sayap kanan yang dipimpin oleh pahlawan perang Fasis, Marsekal Pietro Badoglio, dan Raja Victor Immannuel III yang juga seorang kolaborator fasis. Saat itu Italia adalah target utama subversi CIA dengan menyebarkan tindakan subversi di negara ini.

Di Yunani, 1947, Amerika Serikat masuk, mendukung perang berdarah yang merenggut 160,000 nyawa. Jalan panjang yang ditempuh adalah penyiksaan, tapi tujuannya adalah penghancuran serikat-serikat kerja dan berbagai kemungkinan politik independen. Yunani pun sepenuhnya dikendalikan oleh para investgor AS dan pengusaha lokal, sementara banyak penduduk harus mengungsi demi bertahan hidup.

Di Jepang, Amerika Serikat menekan serikat kerja dan kekuatan demoratis lainnya, membuat Jepang jatuh ke tangan elemen-elemen korporat yang mengembalikan fasisme Jepang. Pemerintah fasis inilah yang digunakan untuk membubarakan pemerintahan rakyat lokal di Korea. Sekitar 100,000 orang dibunuh di Korea Selatan sebelum Perang Korea, termasuk 30,000 hingga 40,000 orang yang dibunuh selama masa pembasmian revolusi petani di Pulau Jeju. Hal serupa pun terjadi dengan kisah yang mirip di Venezuela dan Panama.

Demokrasi A la Amerika
Menurut Chomsky, Amerika Serikat dikenal sebagai negara demokratis yang menerapkan sistem demokrasi di negaranya. Tapi, nasionalisme Dunia Ketiga (ultranasionalime) dengan permintaan peningkatkan standar hidup masyarakat dan produksi, menurut Amerika Serikat, adalah ancaman besar.

Demokrasi Amerika Serikat kemudian berbentuk toleransi terhadap reformasi sosial, dengan catatan jika hak-hak pekerja bisa ditekan dan iklim kondusif untuk investasi asing disediakan. Amerika Serikat juga menawarkan liberalisme yang kebablasan dan sistem hukum yang buruk.

Ini adalah sama dengan menawarkan demokrasi sebagai opsi pertama, dan menghilangkan ekses-ekses demokrasi yang memberikan ruang bagi tindakan subversi sebagai opsi kedua, yang adalah opsi mau-tak-mau.

Di El Savador, pada tahun 1970-an, organisasi kerakyatan seperti asosiasi petani, koperasi, serikat kerja, dan kelompok studi berbasis gereja tumbuh pesat. Amerika Serikat berang. Uskup Besar El Savador, Oscar Romero, dibunuh. Di Rio Simpul 600 orang tewas dibom, anak-anak dijagal, para wanita disiksa dan ditenggelamkan.

Para petani, organisasi buruh, pelajar, pendeta, dan orang-orang yang bekerja untuk kepentingan rakyat dibantai. 13,000 jiwa melayang. Setelah pembantaian selesai, muncullah tokoh lokal yang kemudian diangkat menjadi presiden sipil dari pemerintahan junta, Jose Napoleon Duarte (wikis.nyu.edu).

Di Nikaragua, tatkala diktator Anastasio Somoza ditantang oleh Sandanista di tahun 1970an. Presiden Carter yang ingin sistem korup Somoza tetap berjalan, mempertahankan Garda Nasional Somoza sebagai basis kekuatan. Garda inilah yang dipakai AS meneror Nikaragua membunuh puluhan ribu orang.

Seperti El Savador, Nikaragua dijadikan neraka dunia oleh Amerika Serikat karena kuatnya komitmen pemerintah untuk meningkatkan kondisi rakyat dan mendorong partisipasi aktif mereka dalam proses pembangunan (wikis.nyu.edu).

Di Guatemala. Karena di negara ini terjadi penggulingan kekuasaan tiran dan sangat mengarah kepada pendirian negara demokratis yang secara ekonomi akan sangat sukses, Amerika Serikat menganggapnya bahaya. Menurutnya ini akan menghambat ekonomi asing, terutama United Fruit Company.

Amerika lalu mengubah Guatemala menjadi rumah jagal dengan konsep kudeta. Bantuan militer yang massive dari presiden Carter (yang menjunjung tinggi hak asasi manusia) membuat proses pembantaian atas nama mempertahankan keamanan internal sangat lancar dan brutal.

Dukungan untuk pembantaian warga Guatemala ini semakin besar pada era Ronald Reagan dengan mendukung habis-habisan Rios Montt, hittler ala Guatemala. Puluhan ribu orang dibantai dan diperkosa. Banyak wilayah dibumihanguskan (wikis.nyu.edu).

Benang Merah
Masih ingatkah kita dengan Proxy War a la Amerika Serikat dan Uni Soviet? Menurut John Dosch dalam United States in the Asia Pacific, perang dingin di era detente melahirkan perpanjangan konflik di Asia Pasifik. Uni Soviet dan Amerika Serikat berperang memakai remote control bernama Proxy War.

Dalam perang ini, kedua negara ini meminjam negara Korea dan Vietnam. Jadi, rakyat Korea Utara dan Korea Selatan berperang demi Soviet dan Amerika. Demikian juga yang terjadi di Vietnam.

Proxy War inilah yang sedang berlangsung sekarang di banyak negara termasuk Indonesia. Amerika Serikat yang berperang melawan pengaruh negara lain, rakyat negara itu dipinjam tubuh, pikiran, dan waktunya untuk melakukan peperangan itu. Hebatnya, perang proxy ini tak hanya fisik, tetapi bisa dalam bentuk mata uang, intervensi kebijakan ekonomi dan politik, budaya, agama, madzhab, informasi, dan teknologi, terorisme, senjata kimia, dan masih banyak lagi. Proxy War ini dijalankan cukup halus sehingga negara yang dipinjam nyawa dan masa depannya tidak merasakan apa-apa.

Maka, benang merah dari sejarah panjang terrorisme Amerika Serikat bukanlah intervensinya dan iming-iming dana besar atas pihak-pihak yang mendukungnya, tetapi pada nasionalisme suatu negara.

Sejarah panjang intervensi Amerika atas kekacauan di Nikaragua, Panama, El Savador, Guatemala, adalah sejarah kegalauan nasionalisme. Kekuatan militer dibenturkan dengan konsep Komunisme dan pemberontakan. Rakyat jelata dijadikan bantalan empuk untuk konsep tersebut.

Rakyat yang secara politik dan ekonomi powerless dihadapkan dengan kekuatan militer yang kuat dan bertambah kuat dengan bantuan senjata dan dana oleh Amerika Serikat.

Menurut Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi, Amerika Serikat berusaha menguasai sumber-sumber minyak Libya melalui intervensi militer ke negara tersebut. Dengan memanfaatkan golongan-golongan yang bertikai, seperti golongan nasionalis (pendukung Libya sekuler) dan golongan Islamis (pendukung Libya menjadi negara Islam), golongan sentralis dan golongan federalis.

Setidaknya bentrokan sengit antara dua suku Toubu dan Zwai di gurun terpencil tenggara Libya yang telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam rentang waktu 10 hari.

Konflik Libya pada 2011 antara pasukan pemerintah Libya melawan pasukan pemberontak National Transitional Council dibantu oleh pasukan laut & udara milik organisasi militer multinasional NATO. Faktanya, paskah kemenangan NTC bentukan Amerika Serikat, kondisi keamanan Libya hingga sekarang juga masih belum stabil.

Baik di Libya maupun di Suriah, konflik berawal dari perlawanan kelompok oposisi yang menuntut pemerintah yang berkuasa bubar dan menerapkan demokrasi. Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan bahwa intervensi Amerika Serikat dalam pnggulingan Presiden Mohammed Mursi adalah untuk melindungi demokrasi.

Sebuah alasan yang jika ditelusuri secara sederhana akan menunjukkan fakta berbeda. Setidaknya GLEN Ford mengatakan bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan militer Mesir sesungguhnya saling menguntungkan.

Hubungan selama puluhan tahun dengan militer Mesir membuat mereka saling menjaga ketergantungan, bahkan setiap tahunnya Amerika menggelontorkan ratusan juta dolar kepada militer. Amerika Serikat memerlukan pasukan di lapangan untuk mengacaukan tempat-tempat yang mereka inginkan, dan untuk itu mereka membutuhkan tangan-tangan kanannya di Mesir.

Sedangkan alasan politiknya antara Bush dan Obama dalam kasus intervensinya kedalam urusan Irak dan Suriah adalah sama-sama mengklaim bahwa Saddam Hussein dan Bashar al-Assad menggunakan senjata kimia untuk membungkam oposisi.

Irak yang terbukti tidak pernah menyimpan senjata Kimia terlanjur hancur. Kondisi kehancurannya terus berlangsung hingga didatangkan lagi pasukan terroris bentukan Amerika lainnya, ISIS. Seperti ISIS, Jahbah al-Nusro pun adalah bantuan istimewa dari negara adikuasa ini bagi penghancuran rezim Bashar yang dituduh memakai senjata Kimia.

Agaknya ini pula yang dituduhkan kepada Iran. Meskipun akhirnya Amerika Serikat menyerah akan tuduhannya ini dalam kasus Iran.

Jadi, permainan catur Amerika Serikat tidak memperbolehkan negara-negara lain menularkan virus kekuatan pemberdayaan rakyat dan keberhasilan pembangunan oleh pemerintah dalam judul apa pun. Jika dahulu semua lawan atau potensi lawan diberikan label sebagai Komunis.

Maka sekarang Amerika Serikat mempunyai missi lain yang lebih kompleks: agama, madzhab, senjata kimia, dan tentu saja masih Hak Asasi Manusia—sesuatu yang oleh Goerge Kennan dikesampingkan pasca Perang Dunia ke2 lalu.

Perang Proxy lain oleh Amerika Serikat adalah seperti yang dinyatakan oleh Abdul Muttalib Hinnawi, Menteri Pemuda dan Olahraga Lebanon, bahwa serangan sebuah helikopter Israel yang menarget para pemimpin dan pejuang Hizbullah pada Ahad sore, membuktikan koordinasi antara rezim Zionis dan kelompok teroris Takfiri, Front al-Nusra yang melanjutkan penyerangannnya di Dataran Tinggi Golan.

Demikian juga dengan serangan Arab Saudi ke Yaman. Menurut George Isaac, Amerika Serikat menginginkan bentrokan politik di Yaman menjadi perang antar-mazhab baik di negara ini mau pun kawasan. Peta besar untuk menyebarkan dekadensi moral dilakukan melalui upaya mengubah ketegangan politik menjadi perang antar-mazhab.

Usaha Amerika Serikat mengirimkan terorisme di Irak dan Suriah ini adalah usaha untuk menyelewengkan pandangan dunia dari perang melawan rezim Zionis Israel menjadi perang antar-mazhab, khususnya Sunni-Syiah.

Di Indonesia
Tapi dalam kasus peperangan halus antara madzhab di Indonesia, khususnya Syiah-Sunni-Wahabi, Amerika Serikat tak perlu mengirimkan ISIS dan Jahbah Al-Nusro serta menggelontorkan jutaan dollar baik dalam bentuk peluru, senjata, dan uang tuna dalam jumlah yang fantastis.

Dia hanya perlu memantapkan peranan lembaga-lembaga agama dan sosial dalam memperdebatkan polemik benar-salah sekte-sekte teologi dalam Islam. Perdebatan kalam antara Syiah dan Sunni, Sunni-Wahabi, dan Syiah-Wahabi adalah blessing tersendiri bagi lancarnya intervensi mereka.

Keadaan ini dipermudah dengan perseteruan para pendukung capres-cawapres di era Pemilu Presiden 2014 lalu. 2 kelompok ini lalu membentuk 3 kelompok besar: 1. Kelompok pendukung pemerintahan; 2. Kelompok pembenci pemerintahan; dan 3. Kelompok penikmat politik. Ini seperti kelompok Primer dan Sekundernya Charles H. Cooley.

Kedua kelompok pertama dan kedua adalah kelompok sekunder yang cenderung tak mempunyai keuntungan apa-apa dalam proses politik. Justru, pada level politik kelompok ketigalah yang merupakan kelompok primernya. Lucu kan? Tapi inilah fakta negara Indonesia.

Kedua kelompok sekunder ini seperti dua pasukan besar yang siap-siap bertempur kapan pun pertempuran ini dikobarkan. Apa pun kebijakan pemerintah akan ditentang dan disalahkan oleh kelompok kedua. Sedangkan kelompok pertama selalu mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah.

Walaupun demikian, pada kelompok pertama ini ada juga kelompok netral. Netralitas mereka ditunjukkan dengan kritik-kritik tajam jika kebijakan pemerintah tidak berjalan sesuai jalur pembangunan yang mengedepankan kepentingan kesejahteraan rakyat.

Situasi seperti ini tak bisa dilepaskan dari keberadaan satu kelompok kecil dengan pengaruh lumayan kental. Kekentalan pengaruhnya ini ada sumbangsih dari keberadaan kelompok Islam alay yang tersebar di hampir sendi kehidupan masyarakat Indonesia.

Menurut KH. Hasyim Wahid atau Gus Iim, pasca perang dingin situasi global berubah. Amerika Serikat, seperti kata Naom Chomsky, yang hidup dari pasar bebas ciptaannya selama ini, mempunyai pandangan bahwa mereka harus punya kaki-tangan seperti Mesir di Timur Tengah.

Bagi Amerika Serikat, menurut Gus Iim, menciptakan masyarakat dunia yang pro pasar adalah sebuah keniscayaan. Bagi Amerika Serikat, kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap terlalu nasionalis untuk bisa menyesuaikan diri dengan pasar bebas. Maka dimunculkanlah Islam baru yang namanya PKS, yang lebih sesuai dengan pasar global.

Tidak membenarkan atau menyalahkan statement ini, cerita di lapangan memberikan gambaran kompleks yang sangat bisa jadi menjadi pembenaran atas adanya intervensi ini. Muncullah Jonru dengan PKS Piyungannya. Muncullah media-media yang berhaluan wahabisme.

Berita-berita dan pendapat-pendapatnya lebih pada perusakan tatanan daripada kritik yang sumbangsihnya berguna bagi kerakyatan dan peradaban. Jika ditarik benang merah sejarah pasca perang dunia ke2 hingga sekarang, maka intervensi Amerika Serikat ini selalu dalam bentuk dukungan kepada kelompok-kelompok yang merusak tatanan.

Kelompok yang berpotensi besar dalam memerangi semua hal yang membela pemberdayaan rakyat, penguatan nasionalisme, peningkatan kesejahteraan, dan seterusnya. Terungkapnya tokoh-tokoh JIT dalam kasus terorisme di Indonesia seperti Dr. Azhari dan Noordin M. Top—yang menganggap bahwa pemerintah Indonesia adalah Thoghut, dan dengan demikian harus dimusnahkan—seperti mengingatkan kita pada pelabelan semua yang berbeda dengan Amerika sebagai komunis yang harus dibantai.

Entah di Italia, Guatemala, Nicaragua, Brazil, atau di Arab seperti Yaman yang sampai sekarang masih bergolak, alih-alih memerangi pemerintah, mereka malah membunuhi rakyat sipil yang tak mengerti apa-apa.

Bagi kalangan Islam terdidik, sesungguhnya keberadaan PKS Piyungan dan media-media wahabisme tidak berpengaruh apa-apa. Kalangan Islam alay yang menyebar di seluruh sendi kehidupan di Indonesia sangat rentan dengan penyebaran informasi.

Islam tanpa saringan ini lebih suka mendengar kata-kata Indah dan fakta-fakta yang terlihat seperti kemanusiaan daripada menelisik lebih tajam makna keberislaman mereka. Maka muncullah tokoh-tokoh media sosial yang menawarkan surga dan kebahagiaan hanya dengan memberikan komen subhanallah atau satu klik like, penggemarnya mencapai puluhan ribu orang pada setiap akun.

Sementara, pemikiran-pemikiran bernas dari kalangan santri atau Islam terdidik mempunyai fans terbatas. Sebut saja Gus Mus, sebernas apa pun pemikirannya, paling-paling hanya mendapatkan like ratusan. Cak Nun yang menawarkan pencerahan, Said Aqil Siraj yang menawarkan kedalaman sejarah, Kang Sobari yang menawarkan kedalaman kontemplasi, Buya Syafi’i Maarif, mereka hanya memiliki sedikit fans.

Bahkan tak jarang status-status bernas mereka tak ada yang sekedar memberikan like. Faktanya adalah, jika status-status itu menjanjikan surga dengan mengklik like atau komen subhanallah dan amin, Anda tak perlu melihat akhlak keseharian pemilik akun tersebut. Anda tak perlu melihat perusakan-perusakan moral atas nama apa pun oleh mereka. Mereka, mau tak mau, adalah idola bagi begitu banyak muslim di Indonesia.

Membayangkan KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Ahmad Surkati, Hasan Bin Ahmad, Habib Ja’far bin Syaikhan, yang begitu banyak fans-nya di masa lalu. Jika mereka hidup di masa sekarang, mereka hanyalah sekumpulan orang-tua yang tak ada apa-apanya dibandingkan Raffi Ahmad atau Felix Siauw.

Belajar dari kecerdasan dan keteguhan Iran dalam menyingkirkan intervensi Amerika Serikat dalam berbagai bentuk pembodohan dan kekacauannya, Indonesia adalah negara yang lebih kompleks dan rumit pada level sosiologi dan keberagamaannya. Tak habis persediaan orang-orang pintar di Indonesia jika mau berhitung.

Pada segala lapangan pendidikan, seperti fisika, matematika, sosial, budaya, pertahanan, politik, dan seterusnya, dari usia muda sampai kaum tua Indonesia memiliki pakar-pakar yang mumpuni. Stock berlebih ini—tak seperti Garda Revolusi di Iran—memunculkan kerumitan tersendiri dalam kerangka menyepakati 1 tokoh sebagai pimpinan yang dipatuhi dan dijunjung tinggi titahnya—dalam frame hubungan kemanusiaan tentunya.

Sesungguhnya tak harus menjadi Wilayatul Faqih untuk menjadi Garda Perjuangan. Cukup dengan mempercayakan nasib bangsa Indonesia di tangan 1 orang dalam konsep negara. Pada tataran ini 1 orang membawahi institusi-institusi kementrian, para pejabat dan pegawai negeri, diawasi oleh DPR, dan tentu oleh rakyat Indonesia. Impian inilah yang menggawangi lahirnya institusi Garda Revolusi Iran.

Sejarah menceritakan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya tak pernah suka dengan tatanan yang rapih begini. Kerapihan konsep sebuah negara plus ultranasionalisme, membuat Amerika Serikat dengan senjata-senjata terrorisme, tuduhan senjata kimia, pelanggaran hak asasi manusia, dan seterusnya dan seterunya, hanya akan ada di saku-saku celana kita. Keberadaannya seperti permen. Diemut saat manis. Dibuang bungkusnya setelah itu. Tak penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s