Indonesia Hanya Butuh Pemimpin Waras


Jika ferrari kebangganmu, maka esok atau lusa dia akan menjadi rongsokan. Jika akhlak kebangganmu, maka dia akan membawamu kepada kesuksesan dunia dan akhirat.
Jika ferrari kebangganmu, maka esok atau lusa dia akan menjadi rongsokan. Jika akhlak kebangganmu, maka dia akan membawamu kepada kesuksesan dunia dan akhirat.
Zaman dimana Anda hidup sekarang adalah zaman yang memiliki dua hal yang diperlukan manusia untuk semakin melesat maju: tersibaknya berbagai rahasia ilmu pengetahuan dan ditemukannya teknologi-teknologi mutakhir. Namun, rupanya kedua hal tersebut tak membuat manusia semakin berkebudayaan tinggi. Manusia malah semakin menunjukkan gelagat sebaliknya.

Jika Anda suka berada di jalanan—dan hanya pertapa yang tak suka di jalanan—Anda akan mendapati diri Anda seperti berada pada zaman yang tak berperadapan. Zaman dimana kelas-kelas dan kebiadaban manusia terbentuk oleh nafsu jalanan, dan bukan oleh agama, kebijaksanaan, atau moralitas. Sekumpulan mobil dan motor adalah wakil-wakil zaman tak berperadaban itu.

Pengendara motor yang mengikuti zaman akan membalas klakson seekor mobil yang sangat bisa jadi hanya ingin memberinya isyarat. Pengendara motor yang up-to-date itu akan lebih tak gaul lagi jika dia tak menyusul seekor mobil pengklakson itu dan mendaratkan umpatan dan makian. Lebih hebat lagi jika dia memberinya bonus air ludah di wajah seekor mobil itu.

Para pengendara mobil yang gaul adalah mereka yang menghitung kelas-kelas. Jika memakai Mercy atau BMW, maka mereka akan berhitung: bahwa jika hanya seekor Xenia atau seekor Avanza, tak ragu lagi mereka adalah kelas bawah yang tak layak menyalip mereka. Mereka pun tak layak mendapatkan santunan jalan jika mereka memintanya. Dan jika sekumpulan pengendara mobil mewah ini meminta jalan, jangan sekali-sekali tidak memberinya, karena biasanya mereka akan menunjukkan muka garangnya dan memberitahukan siapa mereka sebenarnya.

Para pengendara mobil-mobil non mewah yang up-to-date adalah mereka yang tak merasa minder dengan ketakmewahan mobilnya. Jika BMW dan Mercy dapat menyombongkan kemewahannya, maka pengendara mobil non-mewah akan memamerkan kecepatan mobilnya. Semakin cepat dan zig-zag akan semakin keren.

Para pejalan kaki yang modern adalah mereka yang merasa bahwa jalanan telah dirampok oleh pengendara-pengendara mobil dan motor. Mereka merasa bahwa semua yang dilakukan mobil dan motor adalah salah. Jika para pengendara mobil dan motor berjalan lambat, maka mereka akan berkata bahwa pengendara-pengendara itu adalah orang bodoh yang tak becus. Jika mereka berjalan cepat mereka akan mengatakan pengendara-pengendara itu ugal-ugalan. Jika para pengendara itu memberi jalan saat mereka menyeberang, maka pejalan kaki yang modern mengatakan para pengendara itu takut kepada mereka. Jika para pengendara tidak memberi mereka jalan, maka mereka akan mengatakan mereka adalah pengendara-pengendara gila.

Walhasil, para manusia-manusia modern adalah mereka yang merasa bahwa semua hal adalah hak-hak mereka satu per satu. Kesalahan hanya ada pada buku-buku. Meminta maaf dan memaafkan hanyalah ada pada dongeng-dongeng kaum pinggiran. Sopan-santun hanyalah ritual agama yang telah lapuk dan tak laku lagi. Emosi adalah guidance mereka. Show-off adalah kebanggan mereka. Berlaku biadab adalah kewajiban-kewajiban tiada henti.

Maka relasi antar manusia di zaman modern adalah relasi rimba. Relasi rimba ini menghasilkan manusia-manusia sukses yang serba terdepan dan menang. Kemenangan dan kesuskesan adalah hasil dari sikap terdepan atau mendahului itu. Siapa yang terdepan (mendahului orang lain) dalam hal tak punya rasa malu dalam menipu, mereka akan sukses. Siapa saja yang terdepan (mendahului orang lain) dalam hal memanipulasi, mereka akan sukses. Siapa saja yang terdepan dalam hal merampok, maka mereka akan disebut sebagai orang-orang sukses.

Dari relasi rimba ini pertemanan di zaman modern pun menjadi ‘pertemanan penuh intrik’. Konsepnya adalah: jika masih bisa dikibulin, kenapa harus dibaik-baikin? Jika masih bisa dimanfaatkan (kebodohan temannya), kenapa harus diperlakukan dengan baik?

Seandainya Eyang Ronggowarsito masih hidup, beliau tak akan lagi mengatakan yang tak gila tak akan kebagian, karena zaman ini telah berada di atas ambang gila. Dia beyond craziness. Zaman ini lebih gila daripada sekedar gila.

Sekedar Pemimpin Yang Waras

Indonesia butuh pemimpin yang sekedar waras saja. Pemimpin yang waras adalah dia yang lahir dari kewarasan ilmu pengetahuan dan moral. Yang lahir dari kewarasan agama dan kebijaksanaan. Karena jika pemimpin Indonesia adalah orang-orang modern di atas, maka rakyat yang sebagian besar telah modern ini sudah lama mengalaminya.

Pemimpin yang waras ini lahir dari masa yang berbeda dengan masa-masa orang modern pengagum kuda-kuda besi. Dia berada di jalanan tapi tingkah-lakunya seperti pertapa. Dia berada di BMW atau Xenia, atau kuda besi lainnya, tapi hanya untuk menghantarkan sejuta langkahnya di kampung-kampung yang sunyi.

Pemimpin yang waras terlahir di pojokan perkampungan dan membangunnya. Dia tak ikut dalam kehebohan politik yang menciptakan politisi-politisi hamba zaman dan modernitas. Karena Tuhannya orang modern adalah uang dan peluang, maka dia tak menuhankan mereka. Tuhannya adalah Tuhan Yang Menciptakan langit dan bumi. Sehingga ketika dia berada di bumi-Nya, dia memakmurkannya. Menjadikan para penghuninya saudara-saudara yang harus dilindungi dan dicintai.
Ketika orang kampung ini menjadi pemimpin, dia memimpin dengan hati. Hatinya berbicara sebelum mulutnya. Hatinya melihat sebelum matanya. Hatinya menangis dalam kesendirian. Hatinya blusukan di seluruh pelosok negeri, memeluk kemanusiaan dan persaudaraan. Matanya terpejam oleh dosa-dosa modernitas.

Pemimpin ini tak mungkin terlahir dari Orde Baru. Pemimpin seperti ini tak mungkin terlahir dari rahim pejabat-pejabat busuk. Pemimpin seperti ini tak mungkin dagingnya tumbuh dari makanan-makanan haram para koruptor. Pemimpin seperti ini tak pandai mengumbar janji dan jargon-jargon politik. Dia adalah pekerja keras.

Walhasil, pemimpin yang waras akan membawa bangsa ini keluar dari kegilaan zaman. Modernitas yang diambil hanyalah kemajuan dan kesejahteraan, bukan kegilaannya. Pertanyaannya adalah: adakah calon pemimpin yang seperti ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s