Tuhan Muslim Modern Adalah Angan-Angan


Ingatlah kisah Nabi Ibrahim as. saat diletakkan di manjaniq. Saat itu Jibril as. datang kepadanya dan berkata, “Wahai Ibrahim, adakah yang akan kausampaikan kepada Allah?” Nabi Ibrahim as. menjawab, “Aku tidak memerlukanmu. Cukuplah Allah bagiku.” Jibril menjawab, “Kalau begitu, mintalah sesuatu kepada-Nya.” Ibrahim as. menjawab, “Cukuplah bagiku bahwa Dia mengetahui keadaanku.”

Mengingat kisah ini seperti membawa kita kepada hamparan hikmah yang tak terhitung. Jika engkau menganggap Allah itu selalu Mengawasimu, memang Allah begitu. Dia selalu mengawasi kita. Bahkan, jika hatimu bersih, Allah ada di sana, di setiap detak jantung kita. Di setiap aliran darah kita. Sebaliknya, jika hatimu kotor, selalu membenci, mendengki, mendendam, iri, tak suka, tak rela, dan tak tak yang lain, maka setan ada di sana di setiap desiran darahmu.

Jika engkau menganggap Allah akan menjawab semua doa-doamu mengenai apa saja termasuk mengenai dunia, ambisimu, cita-citamu, keinginanmu agar dihormati orang karena kekayaanmu, Allah memang begitu. Bahkan Allah Menjawab doa-nya orang-orang yang non-muslim sekalipun.

Jika engkau menganggap bahwa Allah suka kepada orang yang selalu meminta kepada-Nya, sedikit-sedikit meminta, sedikit-sedikit meminta, Allah memang begitu. Allah suka kepada hamba-Nya yang bergantung kepada-Nya.

Eit, tapi ingat, semua itu dalam kerangka kita mendekatkan diri kepada Allah. Tak ada satu pun yang hidup di dunia ini yang tidak menghamba kepada-Nya. Bahkan sebiji sawi pun adalah hidup untuk Menghamba kepada Allah. Diciptakan sebesar-besarnya untuk manusia. Manusia diciptakan sebesar-besarnya untuk menghamba kepada Allah sebesar-besarnya.

Jadi, doamu, permintanmu, cita-citamu pun adalah hamba-hamba Allah yang seharusnya ada untuk menghamba kepada-Nya. Untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jangan sampai cita-cita itu menjadi tuhanmu dan engkau menghamba kepadanya. Jika itu terjadi, biasanya, engkau akan sulit keluar dari situasi penghambaanmu terhadap keinginanmu sendiri itu. Engkau akan larut dalam kekufuran demi kekufuran. Engkau menyangka bahwa terwujudnya cita-cita demi cita-citamu, keinginan-keinginanmu, impian-impianmu itu adalah bukti dekatnya dirimu dengan tuhanmu. Padahal pada satu sisi engkau benar adanya. Bahwa engkau sedang sangat dekat dengan tuhanmu, yaitu keinginan-keinginanmu yang menjelma menjadi tuhanmu.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. (Qs. Al-Jatsiyah 23)

Orang-orang yang menjual dirinya kepada tuhan angan-angannya ini akan tersesat. Hatinya akan terkunci, hatinya akan keras, telinga dan matanya akan tersumpal. Yang ada di hatinya hanyalah kesenangan dan cara-cara untuk mendapatkannya serta memamerkannya. Karena pameran kesenangan adalah tujuan hidup bagi orang-orang yang tersesat. Mereka rela terbang jauh-jauh ke Jepang, Paris, bahkan ke Mekkah hanya untuk pameran. Karena dengan begini jiwa-jiwa mereka merasa puas. Bahwa eksistensinya di dunia ini sudah tersebar. Bahwa kesuksesannya sudah diketahui khalayak. Dan bahwa ibadah-ibadahnya pun sudah terlaksana di hadapan tuhan-tuhan mereka.

Tidak ada di dalam hatinya kecuali keuntungan dan cara-cara mendapatkannya lagi dan lagi. Maka Allah bertanya, “Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (Qs. Al-Jatsiyah 23)

Kita seringkali lupa baha rejeki itu sudah dicatat. Kertas tak akan ditambah lagi, tintanya pun sudah habis. Bahwa setiap orang telah ditentukan rejekinya masing-masing. Dan bahwa rejeki itu tersebar luas di samping kanan-kiri kita. Kita hendaknya pintar dalam mencarinya. Tapi sepintar-pintarnya kita, hendaklah kita mengetahui bahwa Allah-lah Sang Pemberi rejeki. Jika engkau dekat dengan-Nya rejeki pun akan mendakatimu.

Ingatlah firman Allah ini:

Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (Qs. Arruum 40)

Manusia modern lebih suka menuhankan hawa nafsu daripada Allah SWT.
Manusia modern lebih suka menuhankan hawa nafsu daripada Allah SWT.
Jadi, penciptaanmu itu berbarengan dengan penciptaan rejekimu. Allah tak akan dzalim kepada hamba-hamba-Nya. Yang dzalim adalah hamba-hamba itu sendiri kepada dirinya sendiri. Mereka merasa dekat dengan Allah. Alih-alih dekat dengan Allah, mereka malah mendekati tuhan angan-angan dan hawa nafsunya.

Bagaimana mungkin pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah berbanding lurus dengan kedekatan dengan-Nya? Bagaimana mungkin maksiat terhadap Allah berbarengan dengan kedekatan dengan-Nya? Bagaimana mungkin pencurian, pelacuran, perusakan moral, korupsi, penipuan, mempertontonkan aurat, menjadi kebencong-bencongan, mengajak orang berbuat kesia-siaan, dan banyak peruatan maksiat yang lain menjadikan para pelakunya dekat dengan Allah? Padahal Allah Mahasuci dari semua itu.

Hanya karena manusia lebih memilih mempertuhankan harta dan syahwatnya ketimbang mengabdikan diri kepada Allah-lah Allah menutup mata hati mereka dari tersadar dan bertaubat. Kenapa? Apakah Allah setega itu. Pengetahuan Allah lebih luas daripada pengetahuan itu sendiri. Menurut salah-satu tafsir, Allah Mengetahui bahwa mereka yang mempertuhankan hawa nafsunya itu tak akan menerima hidayah sekali lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s