Agar Cita-Citamu Tercapai


Pelayanan Malaikat Kepada Manusia Sesuai Kualitasnya
Pelayanan Malaikat Kepada Manusia Sesuai Kualitasnya

Tahukah Anda hidup kita ini sangat terkait dengan Pemilik wilayah kanan dan kiri? Jika mereka senang, maka senanglah hidup kita. Jika mereka tak suka, maka susahlah kita.

Pernahkah Anda mendengar istilah the power of brain? Istilah ini menggambarkan betapa kuatnya otak kita sehingga keinginan-keinginannya bisa terealisir. Ada lagi istilah quantum jumping, dimana seseorang akan mengalami percepatan langkah-langkah kehidupannya dalam rangka mewujudkan cita-citanya. Ada lagi istilah mind power, yaitu kekuatan pikiran, dimana pikiran kita mempunyai kekuasaan yang powerful untuk melakukan apa saja. Nah, sebenarnya, istilah-istilah itu di dalam Islam tidak ada apa-apanya.

Otak kita adalah ibarat mesin di dalam mobil. Dia memang powerful, berkuasa penuh atas mobil. Tanpanya sebuah mobil tak bisa dijalankan. Mesin ini menentukan harga mobil. Jika mesinnya mesin ferrari, maka mobil ini berharga mahal, karena sudah tentu merek mobilnya adalah ferrari. Jika mesinnya jelek, maka mobil akan berjalan empot-empotan. Tapi mesin ini tak akan dapat berjalan tanpa bensin dan driver (pemilik mobil). Bensin memberikan kekuatan untuk mesin, sedangkan driver mengarahkan ke mana mobil ini berjalan. Driver-lah yang paling berkuasa bagi mobil. Bahkan jika driver ini tak mau menyetir, mobil pun tak punya kuasa apa2 untuk bahkan berjalan lambat sekalipun.

Otak kita memang tak bisa disamakan 100% dengan mesin mobil. Karena bagaimana pun mobil adalah benda mati, sedangkan otak kita adalah benda yang aktif. Jadi, otak manusia itu diberikan kemampuan untuk berpikir oleh Allah swt. Bahkan semakin dia sering berpikir, semakin berkembanglah fungsi-fungsi kecerdasannya. Namun, hanya sebatas itu. Otak tidak bisa menembus keluar dari fisik manusia. Namun, Allah memberikan kepada setiap manusia itu shahibul yamin (pemilik wilayah kanan) atau yang sering kita sebut sebagai Raqib. Pemilik wilayah kanan ini tugasnya adalah mencatat amal-amal kita, termasuk cita-cita kita. Jika amal kita baik, maka akan dicatatnya baik, jika jelek akan dicatatnya jelek. Jika kita berusaha menjadi orang baik dengan melewati kualifikasi kebaikan, maka kita akan dicatatnya dalam buku takdir kita menjadi orang baik. Jika kita berusaha menjadi orang kaya dengan kualifikasi-kualifikasinya, maka kita akan dicatatnya dalam buku takdir kita menjadi orang kaya. Begitu seterusnya.

Namun ada kalanya manusia itu lalai. Dia bercita-cita menjadi orang kaya. Dia sudah melalui kualifikasi-kualifikasinya, dengan bekerja keras, menabung, tidak boros, kreatif, dan seterusnya. Tapi bisa jadi dia salah jalan. Misalnya pekerjaan yang diajalankan tidak menghasilkan uang yang banyak, sehingga jangankan menjadi orang kaya, dipakai untuk membeli motor saja butuh waktu bertahun-tahun. Atau ada kalanya jalan yang harus dilaluinya untuk menjadi kaya demikian terjal, membutuhkan tenaga dan pikiran yang luar biasa melelahkannya. Ibaratnya, dia harus bekerja sampai larut malam bahkan sampai pagi. Nah, shahibul syimal (pemilik wilayah kiri) atau yang sering kita sebut Atid dianugerahkan oleh Allah untuk kita agar dia memberikan kekuatan bagi orang-orang yang punya kemauan. Bagi orang-orang yang kepingin kaya dan berusaha keras tapi salah jalannya, dia akan menunjukkan jalan kepada mereka sampai suatu hari mereka menemukan diri mereka berada pada jalan yang benar, lalu jadilah mereka orang-orang sukses secara finansial.

Tentu saja sebagaimana kehidupan yang berlangsung terus-menerus hingga ajal menjemput kita, takdir juga bersifat sangat progressif dan aktif. Jika seseorang yang sudah berada di jalur yang benar, tapi kemudian dia lalai, bermalas-malasan, berfoya-foya, lupa diri, tak lagi dekat dengan kualifikasi yang mereka jalani, maka shahibul yamin juga mencatat hal yang sama: sebagai orang yang malas, menjengkelkan, dan tak pantas untuk sukses. Begitu pun shahibul syimal, dia akan menghilangkan kekuatan-kekuatan dalam diri kita untuk mencapai kesuksesan.
Hal ini juga berlaku bagi para terapis untuk anak-anak ABK. Mendidik anak-anak ABK agar menjadi normal kembali itu tidak mudah. Bahkan banyak yang hingga dewasanya pun anak ABK ini tidak berubah menjadi orang yang normal. Tapi, jika para terapis ini konsisten, dengan doa dan usaha yang keras dan cerdas, maka kesuksesan itu bukan hal yang mustahil.

Ucapkanlah cita-cita Anda baik di dalam doa maupun di dalam kontemplasi. Ucapkan bahwa Anda ingin anak-anak didik Anda menjadi manusia normal. Ucapkanlah bahwa Anda ingin menjadi terapis yang disukai anak-anak didik Anda. Ucapkanlah bahwa Anda ingin menjadi orang yang mampu memancing kecerdasan anak-anak didik Anda keluar. Ucapkanlah bahwa anda ingin ini itu. Jangan lupa, ucapkanlah di dalam doa-doa dan kontemplasi Anda. Karena di dalam doa, Anda di samping berhubungan dengan Allah langsung, Anda juga berhubungan dengan shahibul yamin. Allah Mendengar doa-doa Anda, dan para malaikat ini melaporkannya kepada Allah, mengusulkan doa-doa Anda ini.

Tapi jangan lupa, setelah berdoa, lakukanlah yang terbaik hingga titik darah penghabisan. Istilahnya, bagi seorang pelari, lakukan sampai ujung nafasmu. Lakukan yang terbaik. Seperti jika engkau sedang memasukkan ujung benang ke lobang jarum di malam gelap gulita, lakukanlah sebaik-baiknya, karena Anda sangat mengetahui bahwa masuknya ujung benang itu ke lobang jarum sangat penting bagi kehidupan Anda esok hari. Jadi, gelapnya malam memang membuat mata Anda tak bisa melihat ujung benang dan lobang jarum, tapi hati Anda, semangat Anda dapat merasakannya. Lakukan cita-cita Anda sampai Anda merasa bahwa kemampuan kemanusiaan Anda sudah sangat maksimal. Maka Shahibul syimal melihat Anda sudah berada pada jalur yang benar, pada qualifikasi yang benar, maka dia akan membimbing Anda dan memberikan kekuatan bagi Anda untuk meraih cita-cita Anda.

Janganlah menjadi orang yang ahli berdoa tapi tak ahli bekerja. Mereka menganggap bahwa kehidupan ini hanyalah milik dia semata, sehingga Allah harus melayaninya setiap saat dia inginkan. Dan ini adalah pandangan yang tidak benar. Bagi orang-orang biasa (bukan auliya), bekerja adalah kebutuhan hidup. Karena badan kita kebutuhannya adalah bekerja, beraktifitas, berkarya, bergerak, aktif, dan seterusnya. Sedangkan bagi para wali, pekerjaan mereka adalah sesuai dengan tingkatan mereka. Namun para wali bukanlah orang-orang yang menyangka diri mereka adalah wali, lebih dari itu, mereka mengetahui bahwa mereka adalah wali. Kenapa mereka mengetahui? Karena mereka mengetahui rahasia hidup seperti orang melihat lobang jarum dan ujung benang di malam hari, bukan cuma merasakannya. Kenapa mereka bisa seperti itu? Karena mereka adalah orang-orang pilihan Allah karena mereka ridha atas apapun ketentuan Allah atas mereka, tanpa mengomel, tanpa menggerutu, tanpa curhat kepada orang lain, bahkan mereka tersenyum dan berkata alhamdulillah. Bahkan jika jari mereka tertimpa besi dan berdarah-darah pun mereka tidak akan bekata, “Aduh!” Mereka akan berkata, “Alhamdulillah..” dan tersenyum senang. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s