Ingin Sukses? Perbanyaklah Masalah


Masalah itu sudah pasti ada pada setiap manusia sejak kelahirannya. Jika tak mau punya masalah, mati saja. Itu pun engkau harus menghadapi masalah lain di kubur. Yang terpenting adalah cara menyelesaikannya.

Hanya yang terbaik yang mampu merayap ke puncak
Hanya yang terbaik yang mampu merayap ke puncak

Masalah-masalah itu adalah masalahmu, dia ada karena kamu ada. Masalahmu tak akan menjadi masalah kakakmu, ibumu, bapakmu, apalagi tetanggamu. Kalaupun mereka akan membantumu, bantuan itu tak akan datang terus-menerus. Banyak kalanya masalah-masalah itu datang tanpa bisa diselesaikan oleh orang-orang di sekitarmu. Disamping karena setiap orang mempunyai masalah-masalah sendiri, juga karena masalah-masalah itu adalah makhluk Allah yang mempunyai dimensi waktu sendiri-sendiri.

Apa yang bisa orang-tuamu, kakakmu, nenekmu, dan tetanggamu lakukan jika engkau menghadapi ujian skripsi esok hari sementara engkau tak menyiapkan dirimu dengan sangat baik? Hanya engkau sendiri yang harus menghadapinya, menyelesaikannya.

Karena masalah itu adalah bagian dari hidup, maka kemampuanmu untuk memecahkannya adalah kewajiban. Dengan demikian, jika engkau mampu memecahkan masalah, maka engkau masuk kedalam orang-orang yang telah menunaikan kewajiban syar’i. Itulah kenapa Allah memasukkan orang-orang hebat kedalam orang-orang yang diangkat derajatnya.

Hebatnya adalah manusia diberikan oleh Allah dua kemudahan untuk 1 kesulitan. Maksudnya, pada saat engkau menghadapi 1 kesulitan, sebenarnya telah ada dua jalan keluar yang telah disediakan oleh Allah kepada kita. Semakin banyak masalah yang engkau hadapi, maka jalan keluarnya akan ada dua kalinya. Hebat kan?

Jika yang terpenting adalah cara menyelesaikan masalah, maka bagi manusia tidak ada lain kecuali berjuang, bekerja, berusaha. Karena hanya dengan berjuang kemerdekaan dari kebodohan/ketidaktahuan bisa diraih. Karena hanya dengan bekerja orang bisa menjadi manusia yang hebat.

Manusia hebat adalah manusia yang memakai kadar yang telah diberikan oleh Allah kepadanya dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, manusia pecundang adalah manusia yang merasa tak mampu, tak kuat, tak sanggup, dan tak tak yang lain. Mereka seringkali memakai alasan-alasan agar sikapnya menyia-nyiakan kadar (potensi) yang diberikan oleh Allah itu menjadi masuk akal.

Pengemis memakai alasan miskin untuk mengemis. Padahal berjuta-juta orang sukses berasal dari orang yang miskin, bahkan lebih miskin daripada pengemis-pengemis itu sendiri. Pengemis ini tak mau memakai kadar kemanusiaannya, yang mungkin saja sangat besar, dia lebih memilih menjadi pemalas.

Preman memakai alasan bodoh untuk memalak orang. Padahal, semua Professor dan para ilmuwan itu tak ada satu pun yang berasal dari orang pintar, semua pada mulanya adalah orang-orang bodoh. Para preman itu tak mau memakai kadar kemanusiaannya, yang juga bisa jadi sangat besar. Dia lebih memilih menjadi pemalas.

Para pengangguran yang malas bekerja memakai alasan tak ada pekerjaan yang cocok untuk mereka untuk selalu menganggur, padahal betapa banyak orang-orang sukses yang berasal dari pengangguran, mereka rela memulai karir dari nol besar sampai akhirnya menjadi orang yang mampu memakai kadarnya.

Untuk mengerti kadarnya, Thukul Arwana memulai karirnya hanya dengan menjadi kuli bangunan, supir, dan seterusnya. Dengan kematangan hidupnya dalam mengatasi masalah-masalahnya itulah Allah membukakan hatinya untuk mengerti kadar (potensi)nya. Begitu juga dengan banyak orang lainnya seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan lain-lain, mereka semua menjalani hidup dengan berlatih menyelesaikan masalah-masalah sampai akhirnya menjadi orang yang matang menciptakan peluang-peluang.

Tak sedikit dari kita yang suka menyalahkan keadaan saat tertimpa masalah. Saat terlilit hutang Credit Card, orang suka menyalahkan kebiasaan boros isteri dan anak-anaknya daripada menginstrospeksi diri agar menjadi pribadi yang kokoh dan hebat.

Saat deadline tak tercapai, orang suka menyalahkan anaknya yang suka mengganggunya daripada mencoba mengerjakan deadline itu dengan cara yang cerdas, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, dan di tempat dimana anaknya tak ada yang bisa mengganggunya.

Saat dimarahi atasan, orang suka menyalahkan kondisi kantor yang tak kondusif untuknya dan persaingan di kantor yang tak lagi sehat daripada memperbaiki dirinya menjadi pribadi yang pantas disanjung dan diandalkan.
Saat terlambat datang ke kantor, orang seringkali menyalahkan kemacetan, hujan, dan keadaan-keadaan lainnya daripada memperbaiki cara dia menghargai waktu. Dan seterusnya.

Jadi, jika engkau ingin punya banyak jalan keluar, hadapilah masalah-masalahmu itu sendiri dengan tegar dan cerdas. Semakin banyak masalah yang kauhadapi, akan semakin banyak jalan keluar untukmu.[]

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s