Allah Ada Di Hatimu


Adanya kehidupan bukan bukti adanya Allah. Yang menjadi bukti keberadaan Allah bersama kita adalah akhlak yang mulia.
Adanya kehidupan bukan bukti adanya Allah. Yang menjadi bukti keberadaan Allah bersama kita adalah akhlak yang mulia.
Hidup adalah anugerah Allah. Makanan yang kita makan serta minuman yang kita minum itu juga anugerah Allah. Tanpa makan-minum orang tak akan bisa melakukan aktivitas, karena badannya akan lemah. Kesehatan juga anugerah Allah. Orang tak bisa berbuat apa-apa tanpanya. Namun, orang yang hidupnya berkecukupan dan badannya sehat saja hanya akan hidup saja, tak lebih dari itu.

Padahal dalam kehidupan ini, manusia sangat membutuhkan kehadiran-Nya. Sebagaimana benda tanpa massa adalah tak ada, demikian juga manusia tanpa Tuhan di hatinya juga akan musnah kemanusiaannya.

Kesuksesan tanpa kehadaran Allah adalah semu. Dia hanya akan memberi kesenangan badan kepada pemiliknya, tapi tidak ruhaninya. Boleh saja orang yang kaya-raya berbelanja di suatu mall di Singapura menghabiskan uang milyaran rupiah; berfoya-foya menghabiskan waktu liburnya bersama keluarga; befoto-foto ria di depan landmark dunia yang dipamerkan di facebook, twitter atau blackberry messanger. Tapi tanpa kehadiran Allah di dalamnya semua itu akan semu. Karena batinnya akan menjerit. Trilyunan sel dalam tubuhnya akan menangis. Darahnya mengalir berat. Jaringan-jaringan tubuhnya memprotes. Dan seluruh fasilitas Allah yang membuatnya hidup dan kaya akan mengutuknya.

Tanpa kehadiran Allah berarti dalam kehidupannya seseorang jauh dari akhlak mulia. Bisnis yang dilakukan tanpa kejujuran, jauh dari ridha Allah. Allah menghilangkan keberkahan di dalamnya. Penghasilan dari bisnis yang penuh tipu daya ruhnya seperti judi, membawa pelakunya seperti orang-orang kecanduan. Tanpa tipu daya mereka tak akan bisa berbisnis. Tak satupun percakapan yang mereka lakukan kecuali mereka berbohong. Tak satu pun cerita yang mereka ceritakan kecuali ada tipu daya di dalamnya. Tak satu pun perilaku yang mereka perankan kecuali ada tipu daya di dalamnya. Tak satupun ibadah yang mereka lakukan kecuali hanya gerakan-gerakan saja yang mirip ibadah, di atas sajadah mereka tak mengingat Tuhan, mereka lebih senang mengingat dunia, bisnis, rencana bisnis, menghitung laba, dan seterusnya.

Dalam kehidupan seperti ini, Allah tak akan pernah hadir. Dalam shalat seperti ini, Allah tak akan pernah menjawab al-Fatihahnya. Dalam sujud seperti ini, Allah tak sudi hadir dalam hatinya. Dan jika seperti itu, hidupnya pasti hambar. Karena kenyataan yang sesungguhnya, sel-selnya, jantungnya, darahnya, jaringan-jaringan dalam tubuhnya, sumber-sumber makanannya sangat membutuhkan kehadiran Allah.

Maka, jika akhlakmu mulia. Jika menahan diri dari berbohong, mengumpat, berkata-kata kotor, dan membiasakan berzikir, membaca al-Quran dan berkata-kata baik, maka Allah ada di situ. Sel-sel yang membentuk jaringan mulutmu akan bertasbih. Mereka akan beristighfar untukmu. Allah pun senang kepadamu. Sumber-sumber makanan yang masuk melalui mulutmu akan bertasbih. Mereka akan memohonkan ampun untukmu. Gunung, lautan, ikan-ikan yang ada di dalamnya, sungai-sungai yang menghubungkan daratan dan lautan, sawah-sawah yang diairi sungai, hewan-hewan yang hidup di sawah, mendung yang menurunkan hujan, air hujan yang mengalir ke bawah tanah di rumahmu, malaikat pengatur mendung, angin, malaikat pengatur angin, langit, matahari, bulan, bintang-bintang, malaikat-malaikat langit, semua akan beristighfar untukmu.

Saat itu, hidupmu akan indah. Engkau boleh miskin harta, tapi rasakanlah olehmu saat semua makhluk bersyukur kepada Allah karenamu. Saat sel-sel dalam tubuhmu tersenyum kepadamu, senang melakukan tugas-tugasnya karena kamu yang bersyukur, maka mulutmu yang kaujaga dari bermaksiat itu, akan senantiasa tersenyum bahagia. Dan percayalah, jika demikian adanya, engkau tak membutuhkan apapun kecuali cinta Allah. Jika pun engkau menginginkan dunia, engkau tinggal merencanakannya sesuai kesopanan kemanusiaanmu, maka Allah yang akan melancarkannya.

Maka, benarlah Imam Ja’far al-Shadiq yang mengatakan bahwa hati adalah tempat sucinya Allah. Allah senang berada di dalam hati yang suci, atau berusaha untuk suci, yang dihasilkan dari akhlak yang mulia. Jika akhlakmu buruk, perilakumu buruk, cara berpikirmu keji, otakmu selalu berpikir jorok, matamu senantiasa menyaksikan hal-hal yang sia-sia, anggota badanmu terbiasa melakukan kesia-siaan apalagi dosa, maka Allah tak ada lagi di dalam hatimu. Hatimu lalu disinggahi oleh nafsu shaywat yang dihembuskan oleh iblis dan teman-temannya.[]

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s