Kyai Bertampang Iblis


Hati adalah tempat sucinya Allah, jangan biarkan hal lain tinggal di dalamnya kecuali Allah...
Hati adalah tempat sucinya Allah, jangan biarkan hal lain tinggal di dalamnya kecuali Allah…
Islam itu kesabaran. Tanpa kesabaran, orang hanya mengaku-aku dirinya Islam. Tanpa kesabaran, seseorang yang mengaku ustadz dengan jutaan Ummat sekalipun akan tampak seperti iblis.

Ali bin Abi Thalib krw., misalnya, beliau mengartikan Islam adalah kesabaran. Karena jika tidak bersabar, niscaya keislamanmu hanyalah bualan belaka. Beliau mengatakan, “Iman ditegakkan atas empat pilar, yaitu iman, kesabaran, jihad dan keadilan. Maka, kedudukan sabar terhadap iman itu laksana kedudukan kepala terhadap tubuh. Tidak ada tubuh bagi seseorang yang tidak berkepala. Dan tidak ada iman bagi seseorang yang tidak memiliki kesabaran.”

Abu Darda juga mengatakan hal yang serupa dengan perkataan Imam Ali. Menurutnya, puncak iman adalah sabar terhadap hukum Allah dan ridha terhadap ketentuan-ketentuannya. Maka jika seseorang yang diuji dengan cobaan dan tidak bersabar, maka imannya dikatakan sangat lemah, alias iman yang loyo.

Al-Ghazali kemudian menyarikan 4 pilar beragama di atas kedalam 3 tahapan agama: pengenalan atau makrifat, kondisi atau hal ihwal, dan amal perbuatan. Ma’rifat itu seperti batang pohon atau pokok. Hal hal-ihwal tumbuh dari pengenalan (ma’rifat). Sedangkan amal adalah buah dari hal-ihwal.

Oleh karena itu, sabar adalah salah satu maqam atau kedudukan para salikin atau orang-orang yang menempuh jalan Allah. Pada hakikatnya, sabar itu ibarat ma’rifat, dan amal perbuatan itu adalah buah yang dihasilkan oleh ma’rifat.

Sabar adalah ciri khas manusia (insan) bukan ciri-khas malaikat dan binatang. Ciri khas binatang adalah kekurangan, sedang ciri khas malaikat adalah kesempurnaan.

Konkritnya, binatang itu dikuasai nafsu syahwat dan tunduk kepadanya. Seluruh tingkah-laku hewan disebabkan oleh nafsu syahwat. Di dalam diri binatang tidak ada kekuatan yang bisa mendorong maupun menolak keinginan dari nafsu syahwatnya yang disebut kesabaran.

Sedangkan para malaikat hanya dibekali keinginan untuk dapat selalu dekat dengan Allah saja. Mereka tidak pernah dikuasai oleh nafsu untuk bermaksiat sehingag dapat menjauhkan mereka dari Allah.

Sementara kepada manusia, terutama sesudah aqil baligh, Allah swt. menugaskan dua malaikat kepada manusia. Malaikat 1 memberi petunjuk dan yang satunya lagi memberinya kekuatan. Sehingga berkat bantuan malaikat tersebut, ia menjadi makhluk yang berbeda dari binatang. Ia pun memiliki dua sifat khusus, yakni 1. Mampu mengenali Allah swt. dan Rasul-Nya, dan 2. Mampu mengenali kemaslahatan-kemaslatahan dari tujuan kebaikan. Semua itu tidak lepas dari upaya malaikat yang memberinya petunjuk dan pengenalan. Jadi, dengan menggunakan cahaya petunjuk, seseorang sadar bahwa menuruti hawa nafsu (tidak bersabar) dapat menimbulkan akibat-akibat yang tidak menyenangkan.

Dorongan agama dan dorongan syahwat selalu bergumul dan berlangsung terus-menerus. Kemenganannya pun datang silih berganti. Yang menjadi medan pergumulan mereka adalah hati manusia.

Sabar adalah ketegaran dorongan agama dalam menghadapi dorongan syahwat. Jika kesabaran tegar dan mampu mengalahkan nafsu syahwat, maka berarti orang itu telah berhasil membela pasukan Allah dan ia akan bergabung kedalam golongan orang-orang yang bersabar. Sebaliknya, bila dorongan agama lemah, sehingga ia dikalahkan oleh nafsu dan tidak sabar menghalaunya, maka ia akan bergabung dengan hamba syahwat (golongan setan).

Tindakan seorang ustadz produk media yang menginjak kepala orang lain di depan banyak orang, oleh karenanya juga disebut sebagai hamba syahwat. Dan karena dia melakukannya dengan baju ulama, maka dia bisa juga disebut sebagai pendusta agama (minimal pada waktu itu). Maka, upaya meninggalkan berbagai tindakan yang disukai nafsu syahwat itulah yang disebut dengan sabar: bersabar menahan amarah, bersabar selalu mencontoh akhlak Rasulullah, bersabar untuk tidak menyombongkan diri seolah-olah dirinya lebih dari orang lain, yang oleh karenanya seseorang boleh melakukan apa saja, termasuk menginjak kepala orang.

Sabar Dalam Musibah

Dalam menghadapi musibah seseorang dihadapkan oleh dua hal: sabar dan mengeluh. Sabar dengan demikian adalah pilihan baik, sedangkan mengeluh adalah pilihan buruk. Pilihan baik karena dia mampu melawan nafsu syahwatnya untuk mengeluhkan segala penderitaannya kepada orang lain. Pilihan buruk karena dia lebih memilih menggugurkan segala potensi pahala besarnya akibat tertimpa musibah dengan mengeluh, menceritakan segala penderitaannya kepada orang lain, dan seterusnya.

Kesabaran itu akan semakin menggunung dan menguat jika seseorang lebih memilih bersabar menerima musibah tersebut dan tidak berkoar-koar membangga-banggakan penderitaannya di media sosial, di facebook, twitter, bbm, dan sebagainya. Kesabarannya yang awalnya biasa-biasa saja akan menjadi kekuatan tak terhingga yang mampu mengeluarkannya dari kubangan derita, yang dia sendiri secara kapabilitas tidak mampu melakukannya.

Lalu seseorang itu tinggal memilih: 1. Keluar dari asyiknya berdekatan dengan Allah dalam nikmatnya musibah menuju ke kebahagiaan dunia walaupun masih dalam frame kesabaran beribadah dan bersyukur; 2. Atau tetap dalam asyiknya diberikan musibah-musibah dalam frame berjihad dan menegakkan keadilan, seperti yang diajarkan oleh 4 pilar agamanya Ali bin Abi Thalib.

Berjihad adalah berjuang menegakkan agama Allah, dakwah dengan perbuatan, menghilangkan kemiskinan, menghilangkan kebodohan, mengajarkan agama dengan kebenaran dan akhlak mulia, dan ujung-ujungnya adalah menegakkan keadilan. Karena hanya dengan keadilanlah masyarakat, terutama Indonesia akan hidup dengan sejahtera dan damai, selayaknya negara Madinah yang dipimpin oleh Nabi saw.

Maka dengan keabaran yang demikian, agama seseorang mencapai kesempurnaannya. Tanpa kesabaran, seorang kyai bisa tanpak seperti iblis, bringas, licik, suka berbohong, dan seterusnya.

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s