Tips Hidup Bahagia


Bahagia itu jika kebaikanmu lebih banyak daripada kejelekanmu
Bahagia itu jika kebaikanmu lebih banyak daripada kejelekanmu

Pernahkah Anda dengan istilah badai pasti berlalu? Ya, itu istilah yang sangat umum bahkan menjadi sebuah judul lagunya almarhum Chrisye. Badai pasti berlalu itu mengajarkan bahwa kehidupan adalah milik kita. Badai ataukah angin sepoi-sepoi itu tergantung kita.

Cara agar kita memiliki kehidupan kita secara penuh adalah dengan ‘enjoying the moment’, yaitu kesadaran bahwa moment yang sekarang adalah moment terbaik untuk melakukan yang terbaik, tak peduli apapun yang terjadi.

Bisa jadi seseorang telah melakukan kesalahan besar di hari kemarin. Bisa jadi seseorang telah kehabisan harapan di hari sebelumnya karena telah melakukan kesalahan, akibatnya secara ekonomi dia merugi, rumahnya disita, anak-isterinya terlantar. Bisa jadi seseorang telah melakukan korupsi sehingga dia harus dihukum berat dan harus menjalani hukuman selama 10 tahun. Namun, tetap saja, hari ini adalah hal terbaik yang diberikan Allah kepadanya untuk berbuat yang terbaik.

Hari ini adalah hal terbaik yang diberikan Allah swt., kepada siapapun. Karena Allah dengan demikian masih memberikan kesempatan: kesempatan untuk bertaubat, kesempatan untuk menjadi lebih baik, kesempatan untuk memperbaiki yang telah rusak, kesempatan untuk menggapai kemenangan sekali lagi.

Bisa jadi seseorang telah sukses di hari sebelumnya. Bisa jadi seseorang telah melakukan kebaikan besar di hari kemarin. Bisa jadi, seseorang telah dianggap pahlawan nasional karena melakukan pencapaian luar biasa. Tapi, jika hari ini dia tidak melakukan yang terbaik, maka dia adalah orang yang merugi. Kenapa? Percayalah, manusia adalah tempat salah dan lupa, pasti masih banyak kekurangan yang tidak diketahui oleh orang lain tetapi sangat diketahui oleh dirinya sendiri bagi siapapun, sesukses apapun dia, sepahlawan apapun dia. Nah, jika dia tidak lebih baik di hari ini, ini seperti dia stagnan, padahal tak ada pribadi hebat yang berada pada jalur stagnan. Jika ini yang terjadi, maka jadilah dia ‘from hero to zero’, kenapa? Karena di laur dirinya masih banyak, jutaan orang sepertinya di dalam bidangnya yang mati-matian berbuat yang terbaik. Jika seorang yang kemarinnya telah menjadi hero berhenti berjuang, maka esok harinya dia telah digantikan posisinya oleh orang lain. Itulah makanya kemudian Islam mengatakan orang seperti ini adalah orang yang merugi.

Bersabar pun demikian adanya. Jika hari ini, menit ini, detik ini, adalah hadiah terbaik dari Allah untuk kita, itu artinya: tak ada yang lebih baik daripada hari ini, tak ada yang lebih baik daripada moment ini, tak ada yang lebih baik daripada keadaan sekarang, tak ada yang lebih baik dari keluarga yang kaumiliki sekarang, tak ada yang lebih baik daripada pekerjaan yang kaukerjakan sekarang, tak ada yang lebih baik daripada istrimu sekarang, tak ada yang lebih baik daripada rumah yang kauhuni sekarang (meskipun itu masih ngontrak misalnya).

Kesadaran inilah yang akan membuatmu bersabar. Bersabar karena meskipun engkau mengalami kerugian sekalipun, yang menyebabkan engkau kehilangan rumah sekalipun, engkau sadar bahwa ini masih lebih baik karena engkau masih diberikan kesehatan sehingga masih bisa merajut asa kembali. Engkau sadar bahwa engkau masih diberikan keluarga yang utuh, isteri yang menerima kerugianmu, anak yang sehat dimana di luar sana banyak anak-anak yang terserang penyakit yang tak biasa, engkau sadar bahwa engkau hanya kehilangan rumah, dan tidak kehilangan kesadaran dan iman. Engkau sadar bahwa moment ini adalah moment terbaik untuk memperbaiki segalanya. Bahkan jikapun engkau adalah orang yang sakit itu sendiri, engkau harus merasa senang karena masih diberikan moment ini untuk bersyukur kepadanya dan melakukan hal-hal yang lebih baik lagi. Bahkan jikapun engkau adalah orang yang mempunyai anak yang kesehatannya bermasalah sekalipun, tetap saja ini adalah moment terbaikmu, karena engkau tak mengetahui—mungkin—kelebihan keberadaan anakmu itu untukmu, untuk keluargamu, bahkan untuk masyarakatmu. Karena Allah mempunyai rahasia yang terkadang engkau tak mampu menyingkapnya.

Kesadaran inilah yang disebut dengan kesadaran kebahagiaan, dimana engkau menyadari bahwa kebahagiaan itu selalu ada, bahkan di saat orang melihat kita terpuruk sekalipun. Seseorang yang sedang menarik becak bisa sangat merasa bahagia karena kesadaran ini; dia sadar betul bahwa Allah sedang mengawasinya, dan bahwa kehidupan yang sedang dijalaninya menjadi tukang becak itu membuatnya tak membutuhkan penampilan menarik sehingga harus repot-repot shopping di mall dengan duit yang tak sedikit. Dia pun tak perlu harus menghamba kepada boss-boss kejam yang mengekang kemerdekaan waktunya untuk beribadah kepada Allah swt. Meskipun, tak salah jika dia ingin merubah nasibnya menjadi lebih baik daripada sekarang, yaitu dengan berdoa, menabung, bekerja keras, dan menjaga kesehatannya.

Seorang konglomerat bisa jadi tak lebih bahagia daripada tukang becak di atas. Hari-harinya penuh dengan kegalauan. Asset tak terhitung yang dimilikinya membuatnya hidup seperti seorang yang linglung. Dia sibuk menjaganya, menghitung-hitungnya, menakar-nakar investasi ini dan itu, dan seterusnya. Kesibukannya itu membuatnya merasa bahwa hanya itu yang harus dilakukan di dalam hidup. Akibatnya, keluarganya terlantar, isterinya lari darinya, anak-anaknya tumbuh menjadi manusia-manusia hedonis, hatinya hampa. Dia tidak menghargai moment yang diberikan oleh Allah kepadanya dengan berusaha menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin.

Bisa jadi dia berkata, “Bukankah saya lebih baik dari kemarin karena keuntungan investasi saya lebih baik dari kemarin?” Tapi kenyataannya, keuntungan yang lebih baik daripada keuntungan kemarin itu tidak menjadikannya menjadi manusia yang lebih bahagia; keluarganya tidak lebih baik daripada keluarga yang dimilikinya kemarin, anak-anaknya menjadi anak yang hancur, istrinya menjadi istri yang hancur, hatinya rapuh, rumahnya pengap meskipun ber-AC, hari-harinya kelabu, matanya susah terpejam, dan seterusnya. Orang ini telah menyia-nyiakan kenikmatan hari ini, moment ini.

Maka, moment ini di dalam Islam adalah moment kebahagiaan. Manfaatkanlah moment ini dengan sebaik-baiknya. Jika engkau berada di samping anak dan istrimu di hari libur, hadirkanlah diri dan hatimu untuk mereka, manfaatkanlah moment itu dengan sebaik-baiknya, karena sudah pasti moment itu taka kan terulang lagi, meskipun pada moment itu anakmu sangat-sangat nakal, susah diatur, dst. Jika engkau sedang mengerjakan shalat, maka manfaatkanlah moment itu sebaik-baiknya. Hadirkanlah diri dan hatimu untuk Allah swt. Karena bisa jadi moment seperti itu tak akan terulang lagi dalam hidupmu, meskipun pada saat itu rumahmu sedang bocor dan di depan rumahmu sedang menunggu debt collector yang menagih hutangmu yang menunggak 3 bulan. Jika engkau tengah bekerja, maka bekerjalah sebaik-baiknya. Hadirkanlah diri dan hatimu untuk pekerjaan itu. Jadilah yang terbaik dalam pekerjaan itu, karena sudah pasti besok momentumnya sudah sangat berubah, dan engkau telah siap menghadapi perubahan itu. Do the best AT THIS MOMENT!

Nah, orang-orang yang enyoing the moment seperti ini adalah orang yang sabar, karena mereka sadar bahwa apapun yang terjadi di moment ini pasti lebih baik untuknya.

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s