FALLACY TENTANG JOKOWI


Belum lama ini kita mendengar Guruh Soekarno Putra mengatakan bahwa Jokowi belum pantas mencalonkan diri menjadi President. Guruh juga mengatakan bahwa popularitas Jokowi itu hanyalah produk media, rakyat yang tidak mengerti politik tidak mengerti apa yang mereka pilih, maka oleh karena itu Jokowi belumlah pantas untuk dicalonkan menjadi Presiden Indonesia.

Fallacy itu merusak otak dan bangsamu
Fallacy itu merusak otak dan bangsamu

Ini sama dengan menyatakan bahwa seseorang yang belum berpengalaman menjadi Presiden tidak pantas menjadi Presiden. Atau, sekurang-kurangnya calon Presiden menurut pendapat Guruh adalah Ketua Umum Partai, mengingat pengalamannya dalam memimpin partai.

Kita tidak mau membahas apakah maksud dari pernyataan ini, apakah Guruh adalah corong PDI-P yang menyatakan bahwa partai ini tidak akan mencalonkan Jokowi sebagai President atau ada maksud lain di balik ini. Namun, kita berkepentingan untuk membahas statement-statement Guruh mengingat bahwa statement seperti ini lumrah muncul menjelang piplres.

Fallacy
Fallacy disebut juga kesesatan, yaitu kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berpikir karena penyalahgunaan bahasa dan/atau relevansi.

Kesesatan karena ketidaktepatan bahasa antara lain disebabkan oleh pemilihan terminologi yang salah sedangkan ketidaktepatan relevansi bisa disebabkan oleh: pemilihan premis yang tidak tepat dalam membuat silogisme, atau proses penyimpulan premis yang tidak tepat.

Diantara jenis fallacy adalah kesesatan formal, yaitu kesesatan yang dilakukan karena bentuk penalaran yang tidak tepat. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen.

Contoh kesesatan formal adalah kalimat: “Jokowi belum mempunyai pengalaman yang luas untuk memimpin bangsa, makanya dia tidak layak menjadi capres.”

Kalimat ini kalau kita jabarkan dalam kerangka silogisme adalah seperti ini: Semua yang tidak berpengalaman luas memimpin bangsa tidak layak menjadi capres**Jokowi tidak berpengalaman luas memimpin bangsa**Jokowi tidak layak menjadi capres.

Secara sederhana, premis minor dan mayor yang negatif tak akan melahirkan konklusi yang benar. Term bahwa Jokowi tidak berpengalaman luas itu sangat amfiboli, sehingga maknanya jadi bercabang. Jokowi tidak berpengalaman luas sebagai apa? Sebagai Presiden? Tentu saja tidak ada yang mampu memenuhi syarat ini bahkan Presiden Soekarno sekalipun, karena beliau belum pernah menjadi President sebelumnya.

Jika calon presiden harus sudah menjadi President, maka hanya SBY, Megawati dan Habibie yang mampu memenuhi syarat itu. Tapi, bukankah kita semua sudah melihat bahwa SBY yang sudah dua kali diberi kesempatan menjadi President pun tak sanggup menunjukkan performa yang benar. Lalu, jargon capres haruslah berpengalaman yang luas dalam memimpin bangsa itu sangatlah tidak jelas.

Bahkan, jika pun semua pernyataan Guruh dimasukkan kedalam kerangka berpikir logis, maka hasilnya akan sangat positif buat Jokowi dan berbahaya buat PDI-P. Coba lihat rangkaian berpikir seperti ini:

Analisa kalimat Guruh 1: Semua yang dicintai rakyat orang baik**Jokowi dicintai rakyat**maka Jokowi orang baik. Hasil akhir dari kecintaan rakyat kepada Jokowi akan selalu baik untuk Jokowi.

Analisa kalimat Guruh 2: Semua pemimpin yang tinggi popularitasnya berprestasi**Jokowi tinggi pemimpin popularitasnya**maka Jokowi berprestasi.

Analisa kalimat Guruh 3: Semua calon presiden yang baik harus mengerti politik**Jokowi mengerti politik (karena sudah lama berkecimpung di dunia politik)**Jokowi calon presiden yang baik.

Analisa kalimat Guruh4 (Contoh kesalahan berpikir):Semua calon presiden yang baik harus ketua partai**Jokowi bukan ketua partai**Jokowi bukan calon presiden yang baik.

Kenapa salah? Karena tak semua ketua partai itu baik, akibatnya tak semua calon presiden yang baik harus berasal dari ketua partai. Inilah yang dinamakan dengan fallacy accident atau kesesatan aksidensi. Yaitu, kesesatan penalaran yang dilakukan dengan memaksakan aturan-aturan yang bersifat umum pada suatu keadaan atau situasi yang bersifat aksidental, karena situasi yang bersifat kebetulan, tidak seharusnya ada atau tidak mutlak.
Analisa kalimat Guruh 5: Semua yang terkenal di TV belum tentu orang pintar**Jokowi orang terkenal di TV**Jokowi belum tentu pintar.

Ini yang dinamakan dengan fallacy composition atau kesesatan komposisi, yaitu kesalahan terjadi bila seseorang berpijak pada anggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi individu atau beberapa individu dari suatu kelompok tertentu pasti juga benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif.

Memasukkan Jokowi kedalam kriteria orang yang belum tentu pintar hanya karena terkenal di TV adalah kesalahan, karena jika Jokowi tidak pintar, maka tak mungkin dia sukses memimpin Solo. Pada saat dia menjadi Gubernur DKI sekarang pun terlihat perubahan-perubahan positif yang tak pernah dilakukan gubernur-gubernur sebelumnya. Inilah yang menjadikan cara berpikir seperti ini salah. Ini sama dengan menggantikan nama Jokowi pada premis mayor tersebut dengan nama Prof. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Je Sahetapy, Prof. Komaruddin Hidayat, mereka terkenal di TV, tapi tak boleh namanya dimasukkan kedalam premis mayor tersebut karena semua orang tahu betul bahwa Prof. Yusril pasti orang pintar! Seorang yang berhasil memimpin suatu daerah dan diangkat menjadi walikota terbaik di dunia, tidak mungkin tidak pintar, tidak mungkin juga karena kebetulan, sudah pasti dia orang pintar. Demikian juga seseorang yang berhasil memenangkan pertarungan pilkada melawan calon incumbent, tidak mungkin karena kebetulan belaka, pasti karena karakternya yang distinctive diidamkan oleh rakyat Jakarta.

Analisa kalimat Guruh 6:Semua yang tahu politik berhak memilih capres**Rakyat tidak tahu politik**Rakyat tidak berhak memilih capres

Ini adalah merupakan fallacy formal, karena premisnya salah. Karena: 1. memilih adalah hak rakyat, tidak peduli apakah mereka mengerti politik atau tidak; 2. Semua komponen negara ini adalah rakyat, termasuk politisi dan para pengamat politik, maka premis bahwa rakyat tidak mengerti politik itu salah.

Konklusi dari silogisme ini seperti mengatakan bahwa politik tidak butuh rakyat, karena rakyat tidak tahu politik. Rakyat memilih Jokowi untuk menjadi capres terpopuler, maka jadilah Jokowi orang populer. Masalah apakah rakyat mengerti politik apa tidak, itu harus didiskusikan lagi. Pertanyaannya, politik mana lagi yang harus dimengerti masyarakat? Masyarakat sudah sangat kenyang dengan politik, baik term-termnya, kegaduhannya, bahkan kekonyolannya. Maka, statement bahwa rakyat kita masih tidak mengerti politik itu kesalahan yang luar biasa.

lgnoratio elenchi
Ignoratio elenchi adalah kesesatan yang terjadi saat seseorang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premisnya. Loncatan dari premis ke kesimpulan semacam ini umum dilatarbelakangi prasangka, emosi, dan perasaan subyektif. Ignoratio elenchi juga dikenal sebagai kesesatan “red herring”.

Contoh:1. Pak haji bersedekah; sudah pasti dia tidak tulus/mencari muka. 2. Sia-sia bicara politik kalau mengurus keluarga saja tidak becus; 3. Jokowi boleh populer tapi belum tentu dia bisa menjadi President; 4. Ah itu kan cuma survey, itu karena rakyat tidak tau politik.

Argumentum ad ignoratiam
Adalah kesesatan yang terjadi dalam suatu pernyataan yang dinyatakan benar karena kesalahannya tidak terbukti salah, atau mengatakan sesuatu itu salah karena kebenarannya tidak terbukti ada.

Contoh:Saya tak pernah melihat Jokowi jadi President, makanya dia tidak bisa jadi President; (Padahal belum tentu seorang yang sudah pernah jadi President mampu menjadi president yang baik).

Ini adalah bentuk usaha untuk menguraikan kesalahan-kesalahan berpikir yang dilakukan oleh siapapun mengenai term bahwa president harus berpengalaman menjadi president, dalam hal ini Guruh Soekarnoputra. Ini berbahaya bagi PDI-P sendiri, karena fallacy seperti ini akan: 1. Menafikan peran rakyat; 2. Merendahkan kualitas rakyat Indonesia; 3. Menjadikan PDI-P tidak lagi bekerjasama dengan rakyat, melainkan memilih berhadapan dengan rakyat yang merupakan konstituennya.[]

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s