Beda Jokowi Dengan SBY


Ada yang mengatakan bahwa popularitas Jokowi sekarang mirip dengan popularitas SBY dahulu. Bahwa Masyarakat Indonesia sangat tidak rasional jika sudah menyukai sorang figur. Marilah kita telisik sedikit perbedaannya.

relax, mas brow...
relax, mas brow…

Ingatkah kita bahwa dahulu SBY berperan sebagai orang yang “terdzalimi” sebelum menjadi populer? Pada saat itu SBY sangat tepat dalam memanfaatkan momentum, yaitu mengundurkan diri dan membuat partai baru.

Lihatlah alurnya, SBY “terdzalimi”, mengundurkan diri, dan membuat partai baru. Ini seperti alur sebuah film. Masyarakat seolah menemukan pemeran utama dalam film itu, yaitu SBY, sekaligus menantikan ending yang happy yang akan dimenangkan oleh lakon yang terdzalimi tadi. Masyarakat kita yang rata-rata berhati lembut ini menginginkan lakon yang “terdzalimi” tadi akan tersenyum pada akhirnya. Mereka lupa bahwa orang yang mereka inginkan tersenyum dan happy ending itu akan memimpin mereka selama 5 tahun ke depan—malah nambah 5 tahun lagi—dan menentukan nasib keluarga, ekonomi, infrastruktur, keamanan, ketentraman, dan sejahteraan mereka. Mereka lupa bahwa orang yang mereka inginkan berbahagia ini harus dilihat lagi dan lagi kepantasannya menjadi pemimpin nasional.

Bandingkan dengan Jokowi. Pertama sekali, Jokowi tidak punya cerita sedih yang patut dikasihani. Jokowi pun tidak punya cerita melankolis yang patut ditangisi. Jokowi terkenal namanya karena kedekatannya dengan rakyatnya. Kenapa begitu dekat? Karena rakyat Solo pada waktu itu merasa sangat diperhatikan oleh pemimpinnya ini. Jokowi kemudian diterima oleh rakyat Jakarta dengan memenangi Pemilukada dan menduduki jabatan sebagai Gubernur.

Rupanya, kedekatannya dengan rakyat Solo, kesuksesannya dalam memimpin kota Solo, serta prestasinya sebagai salah satu walikota terbaik dunia, juga dirindukan oleh rakyat Jakarta. Mereka rindu memiliki pemimpin yang mengurusi mereka dengan sepenuh hati. Warga Jakarta rindu pemimpin yang mau bekerja untuk mereka siang-malam. Mereka rindu pemimpin yang tak tega mengkhianati mereka dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mereka rindu pemimpin yang rendah hati dan mau dekat dengan mereka.

Perbedaa-perbedaan di atas sungguh amatlah jelas. Figur pertama terkenal karena kisah melankolis. Sedangkan figur kedua terkenal karena dirindukan. Figur pertama terkenal karena rakyat kasihan kepadanya. Figur kedua terkenal karena rakyat ingin memilikinya.

Lalu jika ditanyakan kenapa SBY terpilih lagi pada 5 tahun yang kedua, maka jawabannya pun jelas: Tidak ada figur yang berkarakter pada masa itu, dan pada saat yang sama ada fakta bahwa calon incumbent memang sangat sulit dikalahkan, entah karena apa. Hanya figur berkarakterlah yang dapat mengalahkan pemimpin incumbent.

Rupanya, karakter kuat Jokowi serta prestasi-prestasinya membuat rakyat Indonesia tersadar bahwa mereka telah menemukan pemimpin yang mereka tunggu-tunggu selama ini. Ini dijawab dengan tingginya elektabilitas Jokowi sepanjang waktu. Dan dengan jalannya waktu, masyarakat yang sesungguhnya selama bertahun-tahun didera oleh ketidakbecusan para pemimpin—baik pusat maupun daerah—semakin banyak yang sadar pentingnya mempunyai pemimpin yang mengurusi mereka dengan sepenuh hati. Mereka seolah berkata, “Kenapa pula orang-orang lama yang pernah terlibat memelaratkan kami masih saja ingin menjadi Presiden kami?”

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s