Su’ul Khatimah


Su’ul Khatimah adalah akhir yang buruk, disebut juga Su’ul Aqibah, atau dalam bahasa gaulnya unsatisfying ending.

Kita semua kepingin mati khusnul khatimah. Sebagaimana kita semua kepingin hidup bahagia di dunia dan akhirat. Tapi, apakah bisa? Bukankah tak semua orang adalah orang baik. Dan bukankah tak semua orang itu menjadi pemenang, sebagaimana Surat al-Hasyr menyatakan, pemenang akan masuk surga sedangkan the looser akan masuk neraka. Itu artinya, tak semua orang bisa memasuki surga karena kenyataannya akan ada yang kalah dan mau tak mau akan masuk neraka.

Lalu, apakah seorang yang setiap hari memakai surban putih, jubah putih, shalat ke mesjid setiap hari, status facebooknya setiap hari adalah tausiyah agama, puasanya tak pernah tertinggal, dan seterusnya akan pasti khusnul khatimah? Atau orang yang berpenampilan dekil (tidak melakukan bersih itu sebagian dari iman), wajahnya lusuh (tanda tidak pernah tersentuh air wudhu), tak pernah ke mesjid, tak tau ilmu agama, sudah pasti akan su’ul khatimah?
Lihatlah hadis di bawah ini:

Biar gak sah yang penting shalat hehehe
Biar gak sah yang penting shalat hehehe

عن رسول الله (صلى الله عليه وآله) أنه قال: إن العبد ليعمل عمل أهل الجنة فيما يرى الناس وإنه لمن أهل النار، وإنه ليعمل عمل أهل النار فيما يرى الناس وإنه لمن أهل الجنة، وإنما الأعمال بالخواتيم
ميزان الحكمة : ج3 ح 4616، عن كنز العمال590

Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Sesungguhnya hamba yang terlihat oleh manusia benar2 melakukan amalan ahli surga sebenarnya dia melakukan amalan ahli neraka. Dan dia melakukan amalan ahli neraka seperti yang terlihat oleh manusia, padahal dia melakukan amala ahli surga. Sesungguhnya amal itu tergantung akhirnya.

Orang bertanya, di mana keadilan Allah, bagaimana orang yg beramal baik tapi berakhir di neraka, begitu juga sebaliknya.
Imam Ja’far Assadiq dalam Mizanul Hikmah menyatakan, “Seseorang bisa saja selalu melakukan puasa dan shalat, bahkan dia akan ketakutan jika ada yang tertinggal dari kedua ibadah tersebut. Tetapi, dia terbiasa dengan berkata tidak jujur dan tidak menyampaikan amanah.”

Perbuatan seperti ini bisa saja tidak disadarinya atau diremehkannya, karena menurutnya, shalat dan puasanya lebih dari segalanya. Padaha bohong dan tidak amanah itu akan membuat hatinya hitam dan jatuh kedalam jurang su’ul khatimah.
Ibnu Athaillah menerangkan kepada muridnya, bahwa bohong, tidak amanah, dan perbuatan tercela itu akan menghitamkan hati. Dan inilah sumber su’ul khatimah.

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s