Shalat Sambil Mikirin Dunia? Berarti Anda Manusia Rendah


Hati Anda suka gundah? Kalau shalat suka tak bisa konsentrasi? Lalu Anda merasa jika Anda berdoa Anda tak merasa sedang berdoa (meminta di hadapan Allah) tapi lebih seperti melakukan rutinitas dengan kata-kata yang dibaca agak cepat atau dilagukan dan badan bergoyang kanan-kiri seperti ditiup angin? Itu tandanya Anda sedang terkena sindrom manusia rendah!

Manusia disebut tinggi derajatnya di hadapan Allah karena memiliki hati. Hatinya ini mampu menangkap signal-signal Ketuhanan. Tapi menurut laporan hampir 5 milyar orang kepada bukan saya, rata-rata manusia sangat kesulitan menangkap signal-signal itu. Kenapa? Bukankah dengan hati yang dimilikinya manusia dapat melakukannya? Jawabannya adalah karena keimanan manusia (terutama muslim) adalah hanya di tingkat shadr, dan bukan fu’adun (al-fu’ad) apalagi lubbun (al-Lubb).
Iman yang ada di dalam shadr (biasa diartikan sebagai dada dalam bahasa Indonesia) adalah iman terendah. Iman ini sangat rentan dengan bisikan-bisikan nafs (nafsu). Atau malah bisa disebut bahwa iman di dalam shadr ini hanya suka menampakkan dirinya ada bagi sesama manusia, tetapi di alam tersembunyi mereka tidaklah beriman (percaya sepenuh hati kepada Allah dan Nabi saw.). Tingkatan iman seperti ini dimiliki oleh dominan orang di muka bumi ini. Dimana mereka lebih percaya ajaran uang, penguasa, boss, guru-guru mereka, dst. daripada ajaran Allah dan rasul-Nya. Tandanya apa? Jika dikatakan kepada mereka bahwa Allah membenci orang-orang yang banyak bicara dan suka memamerkan kesedihan mereka kepada khalayak, mereka tidak percaya. Mereka lebih percaya bahwa memamerkan kesedihan itu termasuk salah satu tanda modernitas. Bahkan, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mengatakan orang yang memiliki iman seperti ini adalah orang munafik: menampakkah iman di depan rumah (di lahirnya) sedangkan kemusyrikan ada dalam rumah (di dalam hati).

Kedua adalah iman yang ada di qalb (lebih suka diartiin hati dalam bahasa Indonesia). Pada tingkatan hati, qalb itu seperti ruang tamu dari sebuah rumah yang sangat besar (istana). Jadi, iman yang ada di dalam qalb masih saja suka mengintip apa yang terjadi di luar rumah. Mereka yang menaruh imannya di qalb masih suka terpengaruh dengan bisikan-bisikan nafs (nafsu). Malah, mereka ini lebih sering menginginkan dirinya digoda oleh nafs sehingga masih bisa merasakan enaknya suasana di luar rumah. Iman seperti ini juga dominan dimiliki oleh orang beriman. Tandanya apa? Orang-orang yang beriman lebih percaya kepada kekuasaan uang, boss, perusahaan, pemodal, dst daripada kekuasaan Allah. Mereka lebih memilih memenuhi panggilan boss daripada panggilan Allah (azan). Mereka lebih memilih memohon kepada boss daripada kepada Allah. Contoh terakhir ini contoh yang sangat umum dan kelihatan normatif. Tapi bagi saya tidak. Coba buktikan. Jika Anda berada pada posisi makan-tidak makan, lalu pada saat yang sama Anda dihadapkan pada situasi dimana Boss yang Anda mau mintain pinjaman harus ditunggu sampai dia keluar dari ruangannya dan untuk itu Anda harus meninggalkan shalat (karena takut boss Anda keburu keluar kantor), atau Anda shalat dahulu memohon kepada Allah Yang Maha Kaya? Kebanyakan orang melakukan yang pertama. Menunggu boss sampai dia keluar meskipun harus meninggalkan shalat, dengan alasan toh shalat bisa dijamak.

Iman yang ada di qalb ini masih sangat rendah. Bahkan pemilik iman jenis ini menganggap bahwa Allah dan Rasul-Nya hanyalah ajaran di pengajian saja. Sedangkan di dunia nyata, Allah dan Rasul-Nya tidak bisa dipakai, alias harus ditinggalkan. Ketika berbisnis, pemilik iman jenis ini mempunyai tabiat buruk: menipu, memanipulasi, korupsi, dst. Kalaupun mereka harus jujur, itu bukanlah karena Allah dan Rasul-Nya, tetapi lebih karena tuntutan professional agar dianggap professional. Anda mungkin bertanya: apa bedanya jujur karena Allah dan jujur karena professional. Jujur karena Allah adalah kejujuran yang dilandasi dengan hukumnya, maka dia tau betul dasarnya. Misal jujur saat berbagi hasil, dia past menyisakan pembagian itu untuk sedekah dan zakat. Jujur karena alasan professional sangat berbeda, karena dia tak berlandaskan hukum Allah. IMAN JENIS INILAH YANG SERING DIKATAKAN SEBAGAI IMAN YANG YAZIIDU WAYANQUS. Itu karena iman dalam qalb hanyalah seperti hiasan (dinding) semata. Mudah jatuh terkena angin, atau mudah terpengaruh oleh cuaca (al-Hujurat 7).

Iman yang selanjutnya adalah iman yang ada dalam fu’ad (al-Fu’ad). Iman jenis ini berada pada tataran nyaris sempurna, “Demikian supaya Kami teguhkan fu’ad-mu dengannya.” (al-Furqan 32) Pada taran Iman jenis ini Iman tidak lagi mengenal berkurang. Dia akan teguh seperti gunung, karena fu’ad bisa melihat secara langsung (al-Najm 11). Pada iman level ini orang seperti telah melihat Ketuhanan (walaupun Allah tak bisa dilihat sekarang). Dia merasakan hadirnya begitu banyak karunia Allah baik berupa kesedihan maupun kesenangan. Dia melihat betul apapun yang ada di muka bumi ini adalah wujud kasih-sayang Allah. Gunung, langit, angin, mendung, bahkan gempa bumi pun adalah wujud kekuasaan Allah yang patut disyukuri. Iman jenis ini selalu rela (ridha) kepada apapun yang terjadi kepadanya: baik maupun buruk. Dia tak pernah mengeluh. Dia rela kepada Allah, Allah pun rela kepadanya.

Yang selanjutnya adalah Imannya para Malaikat, para Nabi, auliya, dan orang-orang shiddiqin, yaitu iman yang ada dalam lubb (al-Lubb). Mereka mengenal Allah seperti mereka mengenal diri mereka sendiri. Mereka mengetahui betul Allah mencintai mereka 1,000,000 kali tak terbatas dibandingkan cinta siapapun kepada mereka. Akibatnya, mereka pun mencintai Allah lebih dari apapun. Saking cintanya kepada Allah, bahkan walaupun Allah menimpakan musibah terberat kepada mereka pun mereka akan berkata, “Alhamdulillah… terimakasih wahai Kekasihku.” AKibatnya, mata, telinga, tangan, dan kaki orang beriman di level ini adalah lisan Allah: Kuntu sam’ahu alladzi yasma’u bihi.. dst

Theopanic Light
Theopanic Light
(HR. Al-Bukhari)

Jadi, jika hatimu suka gundah, suka berkonsentrasi dalam shalat, susah menghadirkan hati dalam doa, dan doa-doa Anda seperti menerpa angin, itu tandanya Anda sedang terkena sindrom manusia rendah! Tingkatkanlah iman Anda dengan berlatih.

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s