Kehidupan Tak Membaik, Professor


tuntutlah ilmu sampai ke negeri china.. biar ilmumu banyak dan dalam..
tuntutlah ilmu sampai ke negeri china.. biar ilmumu banyak dan dalam..
Jika hanya berbekal akal dan ketekunan bekerja, maka kehidupan ini tak akan menjadi semakin baik untuk Anda dan keluarga Anda. Dunia ini semakin kehabisan sumberdayanya. Pada saat yang sama kualitas dunia juga semakin buruk karena berbagai akibat, seperti polusi, illegal logging yang tak terhindarkan, pengerukan oleh penambang-penambang batubara, nickel, biji besi, timah, dll.

Jika hanya berbekal otak dan kepintaran duniawi, Anda dan keluarga mesti bersia-siap dari sekarang untuk menabung dengan jumlah fantastis, berharap agar saat bencana kekeringan air, minyak, sumber makanan, dll itu datang, Anda bisa terbang ke negara yang bisa mengimpor segala hal. Menginap di hotel mewah yang mempunyai previlege access untuk mendapatkan segala macam SDA dan bahan makanan yang dibutuhkan untuk hidup. Kalau memungkinkan—malah—bermewah-mewah. Tapi, pertanyaanya, sampai kapan? Lalu, siapa yang akan mempunyai previlege seistimewa itu? Negara bodoh mana yang akan rela berlapar ria hanya untuk duit yang pada waktu itu—pasti—tak ada harganya?

Krisis Air Global

Saat ini, saat Anda membaca artikel ini, air bersih yang manusia butuhkan untuk minum, memasak, mandi, dll telah berkurang hanya sekian persen saja, tak sampai 5%. Sisanya adalah air kotor dan air sangat kotor. Jadi, semakin hari hidup manusia semakin menghadapi masalah air ini.

Dahulu, di tahun 80-an, minimal di tempat saya hidup di pasuruan, rasanya mandi menggunakan air PAM sungguh sangat sejuk. Sekarang, saat saya ulangi lagi mandi di rumah saya, rasanya sih tetap sejuk, tapi jauh berkurang kesejukannya dibandingkan waktu saya kecil dulu. Kalau boleh menilai dengan angka sih, kesejukannya berkurang dari angka 100 ke 40. Jauh kan? Usut punya usut, sumber air umbulan (dari pegunungan) sudah tidak dialirkan lagi ke pasuruan, melainkan ke tempat lain yang lebih mewah dan terbatas.

Di Tangerang, tempat saya tinggal sekarang ini, air untuk mandi keluarga saya adalah air dengan tingkat kesejukan -20, jika dibandingkan dengan angka 100 di atas. Bayangkan, setiap mandi saya merasakan gatal-gatal di kepala. Di badan sih sudah tidak terasa gatal-gatalnya, kecuali sekali-sekali. Mungkin karena sudah terbiasa. Namun, gatal-gatal yang di kepala ini ternyata bukan sekedar gatal, melainkan kotoran semacam debu atau lebih tepatnya debu yang menggumpal.

Apakah keadaan saya dan keluarga ini sangat-sangat parah? Jawabannya tidak. Saya dan keluarga masih sangat-sangat beruntung bisa mandi dengan air yang setengah kotor. Bagaimana dengan orang-orang (maksud saya orang-orang yang tidak memakai penyaring air) yang hidup di Jakarta Utara, Jakarta Barat? Air di sana lebih kotor dari air di tempat saya tinggal.

Ironi Air Global

Apakah Anda menggunakan toilet modern? Jika jawabannya “Ya”, maka toilet Anda rata-rata menggunakan air 8 liter dalam sekali flush. Atau jika Anda memakai toilet jongkok, maka sekali BAB 5-10 gayung, atau 5-10 liter. Ironinya, lebih dari 1,5 MILYAR ORANG tidak memiliki akses terhadap air bersih. Pada saat yang sama, lebih dari setengah orang miskin dunia sakit karena tidak punya sanitasi, air atau kebersihan. Di setiap 15 detik saat kita membaca artikel ini, 1 orang anak meninggal akibat kekurangan air bersih. Besok, 2.500 yang lainnya akan mati, dan seterusnya.

Di Indonesia sendiri, pelayanan ketersediaan air bersih dan layak konsumsi paling buruk di ASEAN. Layanan ketersediaan air bersih di bawah 30 persen di kawasan perkotaan, dan 10 persen di tingkat pedesaan. Sementara air yang layak diminum hanya 20 persen dan hanya 15 persen masyarakat yang mengakses air dari pengelolaan air. Sisanya memenuhi kebutuhan air sendiri.

Bagaimana dengan di Jakarta? Air bersih di Jakarta hanya tinggal 2,2 persen. Menurut laporan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) mutu aliran sungai di 45 titik pantau di 13 DAS Ciliwung pada 2010 adalah 0% kondisi dalam kondisi baik, 9% tercemar ringan, 9% tercemar sedang sembilan persen, 82% sementara tercemar berat. Dari 82%, 60% adalah black water. Padahal, black water adalah jenis terakhir dari air yang tak bisa di didaurulang lagi. Sementara 41% warga Jakarta masih tergantung pada air tanah. Ironinya, Air kotor adalah PEMBUNUH TERBESAR ANAK-ANAK BALITA. Ironinya lagi, hampir 4 juta orang meninggal setiap tahun karena penyakit yang berhubungan dengan air, 43 persennya adalah akibat diare. 98% KEMATIAN terkait air terjadi di negara berkembang. Air kotor adalah PEMBUNUH TERBESAR ANAK-ANAK BALITA. Lebih ironi lagi adalah fakta bahwa, sebenarnya, untuk menghindari diare, 35%-nya adalah dengan Mencuci tangan saja.

Tahukah Anda, untuk memproduksi satu pon kopi (2 gelas kopi) dibutuhkan air sebanyak 11,000 liter lho… Dan jika Anda suka ngopi di cafe-cafe, di cafe harga 2 gelas kopi bisa mencapai 7 USD, yang biasa dihabiskan dalam beberapa menit duduk sambil ngobrol dan makan makanan yang tak kalah mahalnya dari harga kopi tadi. Ironinya, uang 1 USD bisa menyediakan air bersih untuk anak di negara berkembang selama satu tahun penuh.

Apakah Anda mandi menggunakan shower? Bagi Anda yang mandi menggunakan shower, maka 1 menit guyuran air shower akan menghabiskan air lebih dari seseorang yang hidup di daerah kumuh negara berkembang dalam sehari penuh. Atau Anda bilang, “Saya cuma mandi pakai gayung saja kok mas bro…” Kalau begitu, bagi Anda yang menggunakan gayung, maka rata-rata sekali mandi Anda menghabiskan 10 s/d 30 gayung (10 s/d 30 liter air). Itu jika Anda ngirit. Bagi kebanyakan muda-mudi, mereka bisa menghabiskan 30 s/d 50 gayung (30 s/d 50 liter air) sekali mandi. Ironisnya, orang Afrika sub-Sahara menghabiskan rata-rata 16 jam dalam seminggu untuk mengumpulkan air 1 jerrycan. Di Indonesia, misalnya, di Kabupaten Blora, para warga harus menempuh perjalanan yang jauh dan mengantre, agar bisa mendapatkan air bersih itu. Hampir setiap lima bulan setiap tahun, warga kabupaten kekurangan air, sehingga harus mengambil air ke tempat yang cukup jauh. Dan di banyak daerah lainnya, ketika musim kemarau tiba, orang-orang daerah tertentu seperti di daerah Kediri, Gunung Kidul, atau di Jawa Barat, banyak yang kekurangan air. Mereka rela keluar masuk hutan hanya untuk satu jerrycan air. Bahkan ada yang menggunakan air comberan untuk kebutuhan mencuci dan mandi. Dan jangan salah, di Jakarta Barat, hal ini terjadi hampir sepanjang waktu.

Dunia Akan Tenggelam

Sudah membaca fakta dan ironi di atas? Jadi, setelah Anda membaca fakta dan ironi di atas, apa yang ada pada pikiran Anda? Apakah Anda mengatakan biasa saja? Atau Anda mengatakan dunia sebentar lagi sudah habis? Jika Anda mengatakan biasa saja, maka Anda perlu dicurigai, jangan-jangan Anda jarang mandi hehe… Lah wong kekurangan air kok dibilang biasa-biasa saja? Jika Anda bilang dunia sebantar lagi habis, bisa jadi seperti itu adanya, karena jika air bersih berkurang, maka akan banyak hal yang secara drastis berkurang keberadaannya: pertanian akan terganggu, industri akan terganggu, pasokan listrik—baik bertenaga air maupun bertenaga yang lain—pasti terganggu. Lalu kehidupan seperti apa yang Anda bayangkan jika semua itu ternyata adalah fakta di masa sekarang?

Maka, sehebat apapun Anda, meskipun Anda lulusan Harvard University, atau lulusan terbaik negeri antah berantah, jika sudah menghadapi kekurangan air bersih, maka hasilnya akan sama: makan-minum susah, aktivitas fisik terganggu, apalagi aktivitas otak, pasti akan lebih terganggu lagi, karena otak sangat butuh yang namanya oxygen.

Pada saat ini, gletser (yaitu waduk air tawar terbesar di bumi, mencakup sepertiga dari populasi dunia, menyimpan air selama satu musim dan melepaskannya kemudian sebagai air lelehan, yang sangat penting bagi tanaman, hewan dan aktivitas manusia) di seluruh dunia telah menyusut lebih cepat dibanding yang diperkirakan para peneliti, membuat sungai dan danau habis, menghilang atau mengering, sehingga tidak ada air bagi pertanian dan miliaran orang menghadapi kekurangan pangan akibat kekurangan air. Dan pada saat yang sama—akibat mencairnya gletser—permukaan air laut semakin meningkat. Akibatnya, daerah pinggiran pantai akan sering terserang air rob. Air rob ini tidak hanya mengganggu aktivitas orang-orang yang hidup di tepi pantai, tetapi juga akan membuat kualitas air tanah menjadi jelek.

Ini semua akibat peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi. Selama tahun 1990-2005 saja, peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi meningkat antara 0,15–0,30°C. Di Indonesia, hal ini ditandai dengan menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia, yaitu Gunung Jayawijaya di Papua. Hasilnya, dapat kita lihat pada permukaan air laut Teluk Jakarta yang meningkat setinggi 0,8 cm.

Para peneliti menyatakan bahwa Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Jika bumi terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seluruh dunia. Udara akan menjadi sangat panas, Air Conditioner tak akan banyak menolong karena kualitas udara menjadi penuh dengan asap dan kotor, napas tersengal-sengal, manusia tega membunuh hanya karena berebut air bersih dan makanan, rumah-rumah di pesisir terendam air laut.

Di samping penderitaan di atas, ditambah lagi dengan fakta bahwa laju penurunan tanah di dunia—apalagi—di Indonesia, sudah sangat-sangat mengkhawatirkan. Di wilayah cekungan Bandung, rata-rata penurunan muka tanah berkisar antara 5-8 sentimeter per tahun. Bahkan, di daerah Leuwigajah, Kota Cimahi, penurunan pernah mencapai 14 sentimeter per tahun. Sedangkan Gedebage 10 sentimeter per tahun.

Jakarta sendiri, mengalami penurunan muka tanah paling tinggi, mencapai 10 cm per tahun. Jakarta menjadi salah satu kota dengan penurunan muka tanah paling tinggi dari 530 kota di dunia.
Jadi ada dua hal, pertama air laut yang semakin meninggi; kedua muka tanah yang semakin amblas. Dua hal inilah yang membuat kemungkinan genangan besar yang akan menenggelamkan dunia.

Al-Quran Anti Krisis

DARI SINILAH KIRANYA krisis air global akan dimulai. Pertanyaannya: apakah Anda khawatir dan galau? Kalau jawabannya “Ya,” maka itu sangat bisa dipahami dan manusiawi, karena air adalah segalanya dalam kehidupan kita, dimana terlalu banyak aktivitas yang tak akan terjadi tanpa adanya air bersih: makan-minum tak akan terjadi tanpa adanya air bersih; tanpa makan minum manusia tak akan dapat beraktivitas; tanpa aktivitas manusia, dunia pasti kiamat, hancur dengan sendirinya, dimana manusia satu akan menjadi vampir bagi manusia yang lainnya. Tapi, sebelum saya menyelesaikan bab krisis air ini—karena takut kepanjangan—saya katakan kepada Anda, jika Anda seorang muslim, maka Anda tak perlu khawatir. Kenapa? Karena di dalam Islam, Anda akan menemukan permata tanpa harus menggali tanah; Anda akan menemukan emas tanpa harus menjadi penambang; Anda juga bisa saja merasakan gatal-gatal karena air kotor, tapi Anda akan merasa segar sesaat setelah melakukan amalan-amalan muslim yang sesungguhnya. Bacalah artikel-artikel saya mengenai Qor’anic Quantum Jumping, di sana Anda akan mendapati berbagai pencapaian ruhani yang seringkali dimaterikan oleh Allah swt. Anda bisa saja menerima kiriman uang ke rekening Anda dalam jumlah yang tidak sedikit. Anda sama sekali tak mengenali pengirimnya, tapi bisa juga Anda akan dibuat kaget luar biasa karena ternyata pengirimnya adalah diri Anda sendiri, padahal Anda sedang tidak mempunyai jumlah uang sebanyak yang ada di buku tabungan Anda itu. Atau, Anda bisa saja berada pada suatu waktu yang jika dihitung-hitung, maka itu tak mungkin terjadi. Misalnya, Anda hendak shalat tahajjud, tetapi, Anda terbangun pukul 04,40 wib., padahal subuh jatuh pada pukul 04.45. Anda pun merasa bahwa Allah tidak memberikan Anda waktu untuk bertahajjud. Lalu Anda gosok gigi, cuci muka dan mengambil air wudhu. Setelah itu Anda melihat jam masih menunjukkan pukul 04.45. Anda pun merasa sayang jika membuangnya. Anda pun melakukan shalat tahajjud 2 rakaat saja. Setelah shalat Anda lihat jam masih pukul 04,45 wib. Anda bilang dalam hati, ah, jika pun jam ini salah saya tak peduli, lebih baik kutambah lagi shalatku dua rakaat lagi. Setelah shalat, jam masih menjunjukkan pukul 04.40 wib. Anda pun shalat sampai 10 rakaat ditambah 1 rakaat shalat witir. Setelah itu Anda lihat jam berubah menjadi 04.41 wib. Anda penasaran, jangan-jangan jam dinding di kamar Anda rusak. Anda pun melihat jam tangan Anda, jam istri Anda, jam dinding di ruang tv, jam dinding di ruang tamu, semua sama-sama menunjukkan waktu yang sama. Atau pencapaian-pencapaian ruhani yang lain yang jika diceritakan lalu dicerna dengan logika manusia umum, maka akan seperti cerita fiktif.

Islam memberikan al-Quran sebagai solusi kehidupan. Sedangkan Muslim kebanyakan menggunakannya hanya untuk bacaan mencari pahala ‘belaka’. Padahal di sana terkandung 10 kebaikan dalam setiap hurufnya, juga terkandung hikmah yang tak terhitung.

Jadi yang ingin kukatakan kepada orang-orang yang mengagungkan level pendidikan, “Kehidupan tak semakin membaik dengan banyaknya doktor dan professor. Dunia tanpa malu-malu menginformasikan kepada kita betapa krisis di segala bidang semakin parah. Dia tak membaik dengan teori-teori.”

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s