Hidup Bukanlah Bukti Kehadiran Allah


Seorang bernama Aqim adalah seorang ulama besar di Israel, pada jaman jauh sebelum masehi dahulu. Pengikutnya sangat banyak. Tak satupun orang yang hidup di jamannya yang tak mengenalnya. Yang paling terkenal dari dirinya adalah perkataannya yang sangat manjur. Seolah tak ada yang dikatakannya tidak terjadi menjadi kenyataan. Namun begitu, Aqim tidak semena-mena. Perilakunya begitu mulia. Ucapannya begitu lembut. Dia sangat hormat kepada orang miskin, tetapi sangat menghargai orang-orang yang berpunya.

Suatu hari, datanglah kepadanya seorang yang berparas sangat lusuh. Bajunya compang-camping. Badannya sangat kurus. Nafasnya tersengal-sengal dan bau. Lelaki tua ini pun berbaur dengan para jamaah yang sedang berkerumun di hadapan Aqim. Seperti biasa, ada giliran para jamaah minta didoakan, ada yang minta nasehat, ada juga yang minta bukti bahwa Aqim benar-benar dekat dengan Allah. Untuk bagian yang terakhir ini, biasanya Aqim membuktikannya, misalnya dia menengadahkan tangannya minta diturunkan hujan, tak lama kemudian turunlah hujan. Atau Aqim menceritakan semua kejadian masa lalu si penanya dengan sangat detail sehingga si penanya langsung bertekuk-lutut kepada Aqim.

Entah kenapa orang-tua berbaju compang-camping itu mengambil giliran yang pertama. Sebelum orang-tua ini mengatakan sesautu, Aqim berkata, “Hai orang-tua, tidakkah kau lihat jamaahku semua berbaju rapih dan bersih. Akhlak mulia itu akan dibalas dengan akhlak mulia. Demikian juga paras dan penampilanmu, akan dibalas sesuai dengan yang terlihat.”

Orang-tua itu berkata, “Maafkan saya tuanku, saya tidak punya kesempatan dan uang untuk berpenampilan seperti jamaah yang lainnya, mohon saya diberikan kesempatan.”

Aqim berkata, “Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak akan menolakmu. Namun penampilanmu yang tidak enak dipandang itu yang menolak dirimu sendiri. Mandi dan berganti pakaianlah dulu, hingga Allah akan melihatmu, sebagaimana Dia adalah Yang Maha Indah.”

Orang-tua ini pun pergi dengan raut muka yang sangat sedih. Padahal orang-tua ini pergi ke kerumunan itu hanya untuk meminta sesuap nasi dari orang yang didengarnya sangat murah-hati dan mulia akhlaknya.

Setelah dia pergi, jamaah yang lainnya pun memulai beramah-tamah dengan Aqim. Pada giliran yang pertama, ada seorang yang ingin Aqim membuktikan kedekatannya dengan Allah. Lalu Aqim pun menengadahkan kedua tangannya dan berdoa agar udara yang sangat panas yang saat itu terjadi disejukkan. Setelah beberapa saat, udara yang tadinya panas bertambah menjadi panas. Jamaah yang tadinya hanya terasa gerah sekarang menjadi kepanasan. Aqim pun mengangkat tangannya lagi dan berdoa agar udara yang sekarang sangat panas agar dikembalikan seperti semula. Setelah beberapa saat udara yang sangat panas itu tidak menjadi sejuk malah menjadi bertambah panas. Orang-orang mulai berteriak kepanasan. Si penanya langsung berkata, “Bagaimana kau ini, Aqim, sekarang kau begitu jauh dengan Tuhanmu, karena akhlak mulia yang biasanya kaumiliki sekarang hilang digantikan dengan kesombonganmu kepada orang-tua papah yang datang tadi. Allah tidak lagi mendengarkan doamu, bahkan Dia murka kepadamu.”

Saat itu juga Aqim langsung menangis dan tersungkur memohon ampun. Dia teringat akan kelakuan kurang ajar yang belum lama dilakukannya terhadap orang yang sebenarnya sangat butuh pertolongannya. Kelakuan yang bisa dikatakan tak pernah dilakukannya. Dia menjadi sadar bahwa hidupnya yang penuh hormat bukanlah bukti hadirnya Allah. Bahkan dalam doa yang khusuk pun Allah sangat mungkin tidak hadir jika pelakunya tak mempunyai akhlak mulia. Allah selalu ada dalam akhlak. Yang menjadi pertanyaan adalah, akhlak mulia yang bertahun-tahun Aqim miliki menjadi ternoda hanya karena tidak menghargai si orang-tua yang berpakaian kumal itu, bagaimanakah dengan kekerasan, kata-kata kotor, bahkan perkelahian yang biasa kita lihat di jalanan, yang seringkali terjadi hanya karena masalah sepele? Bagaimana pula dengan ulah kotor, seperti korupsi, manipulasi pajak dan data, di kantor-kantor, baik di kantor pemerintahan (lebih-lebih), atau di kantor-kantor swasta? Bagaimanakah dengan ulah kotor para politisi? Tentunya aksi-aksi kotor tersebut jauh melampaui pelanggaran akhlak mulia seperti yang dilakukan oleh Aqim. Jika demikian, alangkah jauhnya bangsa ini dengan Allah.

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s