Berkah Itu Adalah Ditolaknya Anakku Di Berbagai Sekolah


anak-jeniusSuatu hari, saat anakku mendaftarkan diri di salah satu sekolah internasional, terjadilah sebuah peristiwa yang begitu memukul batinku tapi melahirkan kesadaran yang selama ini tak kumiliki, terutama tentang kelebihan-kelebihan anakku.

Saat memasuki ruang kepala sekolah, anakku langsung pergi ke laptop yang masih menyala dan memindahkan lagu yang sedang dimainkan, menggantinya dengan lagu yang lain. Kepala sekolah, yang konon adalah seorang doktor yang ahli masalah anak itu mengernyitkan dahi. Lalu berkata, “Anak Anda seperti ini setiap hari?”

Tentu saja aku tak faham dengan kekurangdetailan pertanyaan tadi. “Maksud Ibu anak saya nakal?” Ibu berambut putih seperti megaloman itu pun menjawab, “Sekolah ini tidak menerima anak yang tidak bisa diatur.” Dengan muka agak aneh karena tak percaya aku mengatakan, “Ibu sedang serius atau…?” “Tidak, saya serius. Ini anak sudah pasti autis. Tidak bisa diatur. Jadi, saya tidak bisa terima.”
Wow, alangkah terkejutnya saya, sebuah sekolah besar, berbahasa Jerman, Inggris dan Mandarin begitu sempitnya memaknai predikat autis.

Meskipun sebelum pergi saya ceramahin kepala sekolah tersebut, saya pun mencari sekolah lain. Tibalah saya di sekolah internasional lagi. Sekolah ini cukup ramah. Tetapi, sama saja, sekolah ini memberikan syarat aneh kepada anak saya. Mereka meminta test IQ. Saya bertanya kepada mereka, kira-kira IQ berapa yang diterima di sini? Mereka menjawab, minimal 85-115. Saya bilang ok, karena itu memang IQ anak normal. Tanpa keberatan saya pun mengikutkan anak saya test IQ. Subhanallah, ini blessing in disguise, IQ anak saya ternyata di atas rata-rata. 150.

Dari awal saya sebenarnya sudah curiga kepada anak saya, dari umur 3,5 tahun dia sudah bisa bermain alat musik, electric keyboard. Saat usianya menginjak 4 tahun, dia sudah mulai memainkan piano, tanpa diajari oleh siapapun. Curiga karena, chord piano yang menurut saya begitu rumit, tiba-tiba dia tahu cara menekannya dan benar (menurut orang yang mengerti music). Dari mana dia mengetahuinya. Awalnya dia bermain furr elise, kemudian menginjak usia 5 tahun dia bermain beattles dan kitaro.

Meskipun terbukti IQ-nya 150, sekolah ini pun tidak menerima anak saya, karena mulutnya yang tidak bisa diam. Saay guru sedang menerangkan dia selalu bertanya dengan pertanyaan yang tak ada habisnya. Guru menerangkan 1 hal, dia menanyakan 1 hal tersebut dengan puluhan pertanyaan yang berbeda-beda. Tak begitu lama saya dan istri dibuat tidak nyaman di sekolah itu, meminta anak saya diberikan waktu khusus untuk diisolasilah, membebeni kami dengan biaya tutorial tambahan untuk kursus behaviorlah, dan masih banyak lagi yang lain yang lebih menyakitkan. Kami akhirnya merasa bahwa test IQ itu mungkin salah.

Jatuhlah pilihan kami akhirnya pada homeschooling. Di sekolah ini ada dua macam: komuninitas dan jarak jauh. Pertama-tama anak saya mengambil yang komunitas, alias sekolah seperti biasanya di sekolah. Bedanya, dia hanya bersekolah 4 hari dalam seminggu. Tapi, setelah mendengar cerita gurunya bahwa anakku seperti anak kelas 5 yang ditaruh di kelas 1, dan setelah mempertimbangkan begitu banyak waktu anakku yang terbuang percuma di kelas itu, kami pun memutuskan untuk mengambil yang jarak jauh untuk sementara waktu sampai dia kelas 4 agar bisa akselerasi.

Berkah

Dari sini kami yakin kembali, bahwa test itu tidak salah. Kami mengisi hari-hari anak saya dengan latihan fisik, agar fisiknya yang lemah menjadi kuat. Disamping itu, pada bidang musik yang menjadi kesukaannya kami biarkan dia bereksplorasi. Dan tak hanya piano dan drums, guitar dan bass pun dia jago.

Di luar musik, kemampuan bahasa anakku bisa dikatakan aneh sekali. Dalam sehari, dia bisa mempelajari bahasa asing dengan baik. Dari film televisi, dia bisa menirukan kosakatanya dan memilah-milahnya dengan benar. Film mandarin yang begitu rumit bahasanya, dia tahu membedakan wo kata sendiri, yao kata sendiri, zege, nage, Kankan, dst kata sendiri. Padahal, sebelum dia mengajari saya, setau saya susah membedakannya.

Suatu hari, saat kami makan malam di sebuah resto, ada keluarga bule Prancis, duduk di sebelah kami dan mengobrol seperti layaknya keluarga yang sedang makan malam. Tiba-tiba, anakku menghampiri dan mengobrol dengan bahasa Prancis. Tentu saja saya tak tahu apa yang sedang diobrolkannya. Tapi yang jelas, bule tersebut menanggapinya dan tak tampak bahwa anak saya salah bicara. Ada juga pada kesempatan yang lain, bule Jepang yang mengantri membayar di kasir gramedia. Saat tiba giliran bule Jepang itu, si bule bertanya sesuatu yang tidak dipahami oleh kasir, juga oleh kami. Eh anak saya entah ngomong apa dengan bahasa Jepang si bule lalu manggut-manggut lalu berkata sambil mengelus-elus pundak anak saya, kalau tidak salah, domo arigatogozaimashita.

Inilah berkah dari Allah. Untung sekali anakku ditolak di sekolah-sekolah hebat itu. Jika tidak, anakku mungkin sekali akan terhambat kreativitasnya dengan tekanan dan beban-beban yang jauh di luar dunianya.

Sekarang, tugas kami adalah membuat badannya jadi kuat, mengarahkannya agar dapat berkomunikasi dengan baik, layaknya anak-anak sebaya dia. Dan eit, menghafal al-Quran juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s