Autisme Anak Itu Citra Kita


Theopanic Light
Theopanic Light

Anda memiliki anak yang autistic? Anda gundah? Jangan khawatir, saya pun pernah mengalaminya, atau sedang mengalaminya juga. Meskipun frekwensinya tak sepadat dahulu, sebelum saya mengenali autisme ini sebagai “anugerah” yang luar biasa.

Dahulu, setahu saya, autisme itu ya penyakit, dimana pada anak ada racun yang membuatnya tidak seimbang, baik secara fisik maupun perilakunya. Maka anak autistic memerlukan terapi: perilaku, terapi fisik, terapi wicara, terapi musik, terapi perkembangan, terapi visual, terapi medikamentosa (terapi obat-obatan medis), terapi diet makanan. Begitu banyak terapi yang harus dijalani oleh anak autistic.
Inti dari terapi-terapi itu adalah untuk membuat agar anak menjadi seperti anak yang normal, yang mampu berkomunikasi secara normal, mampu berinteraksi secara normal, juga menjadi anggota masyarakat yang normal. Padahal, tak banyak anak yang asalnya autistic berubah menjadi anak normal seperti biasanya. Meskipun di Amerika ada penelitian bahwa anak yang awalnya autistic akan sembuh dengan sendirinya ketika memasuki usia sekolah.

Adakah yang janggal dari 2 informasi di atas: 1. Tidak banyak anak autis yang menjadi normal kembali; 2. Di amerika ada penelitian yang menunjukkan bahwa anak autistic akan sembuh dengan sendirinya saat memasuki usia sekolah. Tentu tidak. Di Indonesia, anak autistic ditreatment sedemikian rupa sehingga anak autistic—yang mempunyai perasaan dan pikiran juga—ini merasa bahwa mereka memang special, dan mereka akan mendapatkan perlakuan special dengan tingkah-laku yang “special” itu.

Anak saya, semakin dia dianggap special, disayangi lebih dari wajar, dikahawatirkan lebih dari sewajarnya, ditreatment seperti anak dewa, setiap gerak-geriknya kami awasi karena takut celaka, semakin dia menjadi autistic. Pernah suatu saat saya coba untuk cuek kepadanya, karena dia sudah berumur 7 tahun, saya biarkan dia beraktivitas sendiri, tak peduli dia meminta tolong atau berteriak-teriak hanya karena ingin memakai baju atau celana pendek. Saya perhatikan, dia kok menjadi anak normal, meskipun ada juga yang masih tidak normal, seperti: sehabis pipis, dia langsung saja tidur-tiduran di kamar tidur, dia tak peduli tak memakai celana selama beberapa lama. Tapi itu kan biasa, itu tugas kita sebagai orang-tua untuk memberinya pengertian bahwa anak yang baik adalah setelah pipis, cebok, maka yang harus dilakukan adalah menghanduki kemaluannya, setelah itu menutupinya dengan celana. Lama-lama anak saya pun mengerti, walaupun butuh waktu untuk itu.
Orang-tua yang memiliki anak autis kebanyakan akan merasa lebih lelah daripada orang-tua yang memiliki anak normal. Kebanyakan merasa bahwa disamping kewajiban memenuhi kebutuhan primer seperti makan, minum, dan sekolah, orang-tua dengan anak yang autistic juga harus menyediakan duit lebih untuk kebutuhan terapi-terapi yang jumlahnya banyak di atas. Intinya, orang-tua yang memiliki anak autistic kebanyakan merasa bahwa mereka memerlukan duit lebih banyak daripada orang-tua lainnya. Benarkah demikian? Ya memang kenyataannya seperti itu. Tapi, kenyataannya tak seperti yang tampak.

Anak—autistic atau normal—adalah pancaran Ilahi untuk kita. Anda seperti apa, seperti itulah anak Anda. Ini bukan masalah dosa turunan atau dosa bawaan. Tidak sama sekali. Anak itu seperti ruh Allah yang berdiam dalam manusia. Begini, biar jelas. Anda, saya, kita semua memang memiliki ruh Allah di dalam diri kita, sebagaimana Allah telah berfirman, bahwa Dia Meniupkan Ruh-Nya kedalam diri kita. Jadi, setiap kita mempunyai Ruh Allah dalam diri kita. Tapi….. Apakah Ruh itu hidup di dalam diri kita atau sudah menghilang entah kemana???

Begini, saat kita lahir, dalam keadaan masih bayi, yang mendominasi diri kita tentu saja adalah Ruh Allah (ruhani), karena kita belum berbuat dosa. Tapi, saat kita dewasa, dan telah berbuat banyak kesalahan, menyakiti orang, ugal-ugalan di jalan, menerima cacian orang, merusak, mencaci-maki, berkata-kata kotor, berbohong (dan ini yang paling sering), menipu, beruat curang, mengambil hak orang, dll, maka Ruh Allah itu hanya menjadi teori dalam diri kita. Dia menghilang, dan akan muncul lagi kalau jiwa kita sudah bersih lagi dengan akhlak mulia.

Anak-anak juga berbeda-beda. Anak-anak normal ada yang jiwa Ruhaninya tajam, dia bisa menembus dimensi-dimensi alam, bahkan sampai ke dimensi ke9, yaitu dimensi malaikat. Tapi, kebanyakan anak-anak, terutama anak normal, hanya manusia biasa yang memiliki akal pikiran, kemampuan berkomunikasi dan fisik yang bagus. Mereka ada yang menjadi anak hebat dengan kecerdasan yang luar biasa, IQ yang tinggi, kemampuan fisik yang luar biasa, menjadi atlit, dll. Namun, kebanyakan intuisinya biasa-biasa saja, karena mereka tak memiliki kemampuan menembus dimensi lain. Karena ruhaninya tak tajam. Meskipun hal ini bisa saja tak berkaitan dengan dosa. Tapi inilah yang dinamakan pancaran Allah. Anak autistic—tapi bisa juga lho anak normal–itu memancarkan enlightment tiada henti kepada orang-tuanya. Enlightment ini memancar, baik dari perilakunya, bicaranya, maupun kebutuhan-kebutuhan terapinya sehari-hari.

Cermatilah anak Anda yang autistic, bandingkanlah dengan perilaku Anda sehari-hari, dia lebih seperti cermin bagi Anda enggan menjawab Adzan dengan menjawabnya secara verbal dan melaksanakan shalat setelahnya, maka anak itu akan enggan kepada Anda. Berlakulah sebaliknya, maka hasilnya akan berbeda pula. Anda mencari uang dengan cara agak-agak kacau, maka anak Anda akan mengacau. Anda shalat dengan baik, khusu’, berserah diri kepadaNya, tidak ngedumel kepadaNya, baik kepada isteri/suami Anda, omongan Anda sopan, maka anak Anda yang autistic akan meresponnya dengan sikap yang sama. Cobalah. Meskipun mencobanya tidak mudah, tapi minimal kita mengetahui bahwa cara ini pernah berhasil. Dengan demikian, Anda tinggal mengintensifkannya lagi. Kuncinya adalah sabar. Itu saja.

Anak autistic itu merasakan ada dimensi-dimensi lain di hadapannya, di kanan-kirinya. Namun, setiap anak berbeda-beda frekwensinya. Ada yang sangat tajam, sehingga daya serap sekaligus pancarnya juga sangat tajam. Ada anak yang langsung merespons kepatuhan orang-tuanya kepada Allah, dengan berperilaku mulia dan berhati mulia, ada juga yang membutuhkan pembuktian dari Anda lebih jauh, misalnya 40 hari terus-menerus menjadi orang baik, dan lain-lain. Kepatuhan ini adalah kepatuhan total kepadanya, yang muaranya adalah akhlak mulia, jangan dibalik. Yang penting akhlak mulia, tak penting itu melakukan ibadah-ibadah tertentu. Itu tidak benar. Ibadah-ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dst adalah tiangnya, sedangkan bangunannya adalah akhlak mulia. Lakukanlah, itu akan membuat frekwensi Anda dengan frekwensi anak Anda yang autistic akan sama dan oleh sebab itu akan menjadi sejalan dan mudah berkomunikasi.

Pada anak normal pun, aturannya juga sama, yaitu anak adalah pancaran Allah. Semakin dekat kita denganNya, semakin anak itu akan memancarkan Ruh Allah itu. Dalam hal yang lebih luas—malahan—rejeki anak ini pun kemudian menjadi lancar mengalir kepada orang-tuanya.
Namun, pembahasan mengenai rejeki ini pelik, harus dibahas pada tempat yang berbeda, karena rejeki itu bukan hanya harta. Bisa saja seseorang yang akan diserang oleh begitu banyak bahaya dan penyakit, menjadi terhindar karena kedekatannya kepada Allah. Walaupun tak bisa dipungkiri, asosiasi rizki yang paling utama adalah uang, alias harta []

6 thoughts on “Autisme Anak Itu Citra Kita

    1. Anak berkebutuhan khusus itu adalah nikmat Allah yang paling besar dalam keluarga. Nikmat Allah itu turun selalu harus disikapi dengan kebijaksanaan. Jika tak bijaksana menghadapinya, maka nikmat apapun akan menjadi azab. Orang diberi harta berlimpah pun jika tak bijak, maka harta itu akan menjadi bencana. Anak, semakin susah diatur dia maka semakin besarlah nikmat dan karunia yang ada pada anak itu. ALlah sedang memperhatikan kedua orang-tuanya. Jika orang-tua itu bersyukur, sabar, istiqomah, dia akan lulus melalui anak itu dengan sempurna. Bisa jadi anak tersebut menjadi orang besar, atau anak tersebut menjadi inspirasi dalam mengarungi dunia yang fana ini (disarikan dari ihya’ ulumuddin kitab al-sabru was syukru)

      1. Sy dibojonegoro jatim, Anak sy usia 3 thun, mmliki cri2 autis, mhon sharing dimna/apa/terapi yg tepat utk anak sy, slain tntunya kasih syang prhatian dri kmi ortu nya… Suwun

  1. Assalamu’alaikum….
    salam kenal dari saya bapak, terima kasih pencerahannya. semoga kita dan Anak2 kita sangat special dimata Allah. Amin3x…
    mohon ijin share lewat email bapak….maturnuwun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s