Bangsa Yang Sakit Memilih Pemimpin Yang Sakit


Kesehatan itu lebih berharga daripada harta, tapi tak lebih berharga daripada kesadaran: orang sakit yang sadar masih bisa bersyukur kepada Allah, sedangkan orang sehat yang tak sadar akan terjerumus ke tempat-tempat yang akan membuatnya sakit. Kesakitannya bisa jadi bukanlah kesakitan fisik, tetapi dampaknya lebih daripada sakit fisik.

Calon Bupati
Calon Bupati

Barangkali Anda sering mendengar banyak orang kaya harta tapi sangat miskin kebahagiaan? Sangat menderita bukan? Bahkan saya mengenal diantara orang yang tak bisa disebut kaya saja, melainkan sangat-sangat kaya, mengatakan, “Jika saja Allah mau berkehendak menjadikan aku miskin lagi tetapi kondisi keluargaku kembali seperti seperti aku miskin dulu, aku sangat mau,” kata teman konglomeratku ini sedih. Baginya, mobil sekelas Alphard hanyalah mobil untuk mengantar sekolah anak-anaknya, atau untuk berbelanja pembantunya. Mobil-mobil itu ditaruh di luar garasi bawah tanahnya, karena garasi bawah tanah itu dipakai untuk mobil-mobil yang jauh lebih mewah. Betawa kayanya temanku ini sampai untuk membayar listrik salah-satu rumahnya saja dia harus merogoh kocek sekurang-kurangnya Rp. 70 juta per bulan.

Lalu kenapa dia ingin agar kondosinya kembali bahagia lagi seperti saat dia miskin dulu? Bukankah dia sudah bahagia dengan hartanya yang berlimpah? Mengenai kenapa dia ingin miskin lagi, saya sendiri tak tega menceritakannya di sini. Hanya saja, sebagai ilustrasi sedikit, dia tak pernah ada di rumah, anak-anaknya langganan rumah sakit dengan penyakit yang sangat tidak umum, demikian juga dengan isterinya, isterinya tak lagi ada di sampingnya.

Nah, kesakitan non fisik seperti ini bukanlah penyakit non-fisik yang disebabkan oleh ketidaksadaran. Penyakit yang disebabkan ketidaksadaran seseorang itu hasilnya lebih dahsyat daripada penyakit temanku yang kaya tadi. Penyakit ini lebih mematikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Orang-orang yang sehat namun tidak memiliki kesadaran biasanya bersifat impulsif, reaktif, emosional, tak sopan, ingin selalu diperhatikan, ingin menang sendiri, merasa seolah-olah hidup adalah milik dia dan keluarganya saja, ingin selalu senang, dan lain-lain.

Jika orang seperti ini menyetir mobil, dia tak suka mengantri. Kebut-kebutan merupakan hal biasa bagi mereka. Karena mereka merasa bahwa kekayaan itu adalah fasilitas yang membuat pemiliknya berhak melakukan apa saja beyond orang-orang ‘miskin’. Bahkan, dengan sesama pengendara mobil pun, orang yang jiwanya tak sadar biasanya ingin menang sendiri. Pembatas jalan, jika masih bisa dilewati akan dilewati olehnya. Lampu merah jika masih bisa dilanggar akan dilanggar olehnya. Tak ada dalam kamusnya memberikan jalan kepada pengendara lain. Tak ada dalam kamusnya didahului oleh pengendara mobil lain. Jika itu terjadi, dia akan menyusulnya kembali, atau bahkan menyerempetnya. Memakai symbol-symbol kekuasaan adalah kesukaan mereka. Karena dengan begitu, lengkap sudah kepongahan yang akan dia tunjukkan. Walhasil, orang semacam ini sering tak tersentuh jika menabrak orang bahkan sampai korbannya mati sekalipun.

Jika orang yang jiwanya tak sadar menjadi pemimpin, maka dia akan menjadi pemimpin yang ugal-ugalan. Korupsi adalah tujuan utama dia memimpin. Jalan apapun akan ditempuh untuk melakukannya, bahkan dengan jalan membunuh orang sekalipun. Gaya kepemimpinannya mirip-mirip orang mabuk: setiap hari hanya berkutat dengan urusan proyek yang memperkaya dirinya sendiri dan keluarga serta kelompoknya. Rakyat hanya menjadi batu pijakan bagi kepuasannya. Tak peduli langkahnya itu menyebabkan banjir bertambah parah, pengangguran di mana-mana, jalan berlobang terurus, kemacetan semakin parah, pendidikan semakin tak bermutu, aparat-aparat di bawahnya semakin korup, rakyat sakit semakin susah berobat, dan lain-lain. Yang dia pedulikan hanyalah memoles namanya di media, lain tidak.

Jika orang yang jiwanya tak sadar menjadi rakyat, dia akan menjadi rakyat yang merusak. Aturan apapun yang sebenarnya baik untuknya dan orang-orang sekitarnya akan dilanggarnya. Dia akan merokok meskipun di tempat yang dilarang merokok. Dia akan melanggar lampu merah karena alasan buru-buru. Dia biasanya ikut di partai-partai politik yang mau membayarnya murah; berteriak-teriak membawa bendera atau pentungan. Dia juga suka menonton klub bola lokal kesukaannya dengan menaiki bus-bus atau truk. Setiap tempat yang dilaluinya masyarakatnya akan resah. Setiap mobil yang berpapasan dengan mobilnya juga akan ketakutan. Jika klubnya menang, maka keberingasannya tidak parah (tapi tetap beringas). Jika klubnya kalah maka iblis dalam dirinya akan nampak. Dia juga akan membuang sampah seenak perutnya, tak peduli di depan matanya sampah-sampah yang dia buang merusak keindahan lingkungan, bahkan menyebabkan terjadinya banjir.

Orang-orang yang jiwanya tak sadar ini tidak hanya menyakiti dirinya, melainkan akan menyakiti orang-orang di sekitarnya. Sakitnya akan menjalar ke mana-mana. Di Indonesia, orang-orang seperti inilah yang mendominasi kehidupan kita selama ini. Jika saat ini Jabodetabek dan beberapa daerah dilanda banjir, maka tidak menutup kemungkinan, jika para pemimpin dan rakyatnya masih seperti ini, Indonesia akan terendam banjir dan semakin miskin. Na’udzu billah.

Dalam keadaan sakit seperti ini, wajarlah jika seseorang memilih pemimpin-pemimpin yang senasib dengannya, yaitu pemimpin-pemimpin yang sama-sama sakit, sama-sama tak memiliki kesadaran. Tidak di daerah maupun di pusat, orang-orang lebih suka memilih yang mau menyenangkannya sesaat. Hanya segelintir daerah yang rakyatnya melihat karakter calon pemimpinnya, bukan uang di hari-hari terakhir pemilihan umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s