Selly Yustiawati Dan Kegemaran Bangsa Indonesia Ditipu


Yang penting kelihatan senang
Yang penting kelihatan senang

Belakangan nama Selly Yustiawati ramai dibicarakan, sedikit menyeruak diantara berita-berita politik atau kisruh PSSI. Sangat ramai karena ditengarai korban penipuannya sangat banyak sebanyak jumlah uang yang berhasil digondolnya. Tak ayal, Selly menjadi notorious person, yaitu orang yang terkenal karena keburukan perangainya.

Tapi, apakah yang ada dibalik berita tentang Selly? Apakah sejahat itukah Selly? Atau korbannya terlalu bodoh untuk ditipu oleh Selly? Atau apa?

Di Indonesia, berita semacam ini tidak susah ditemukan. Hampir di berbagai kesempatan, seseorang di Indonesia mengalami hal semacam ini. Entah berbentuk investasi besar-besaran, arisan, atau hanya investasi puluhan juta saja. Hal semacam inipun dialami oleh berbagai kalangan, dari orang-orang kaya, sampai hanya sekedar ibu rumah tangga; baik yang hidup di kota maupun di kampung-kampung. Lalu apa yang salah? Tentu saja kesalahan besar dapat dilihat di sini, jika tidak maka tak mungkin akan semarak itu kejadiannya.
Mungkin karena terlalu lama terjajah oleh Belanda sehingga bapak moyang kita mengajarkan hal-hal yang berbau budak atau apatisme kepada kita-kita. Atau mungkin karena kepercayaan keagamaan yang cenderung Qadariyyah (apatisme) yang menjadikan bangsa kita pinginnya meraih sesuatu tanpa ada usaha untuk meraihnya. Atau mungkin karena penjajahan oleh Belanda itu dilanjutkan oleh pemerintah dan partai-partai politik di Indonesia sehingga rakyatnya makin lama bukan makin pintar tetapi sebaliknya. Mungkin juga karena memang sifat bangsa kita yang terlalu percaya tahayyul sehingga dalam usaha mereka menghasilkan untung pun mereka bertahayyul ria.

Too good to be true adalah tema yang ditawarkan Selly Yustiawati kepada para korbannya (investor). Artinya jika para investor tersebut percaya bahwa kebaikan/janji manis yang ditawarkan Selly itu sangat mungkin terjadi (to be true), sangat bisa jadi kesalahan bukan ada di tangan Selly, tetapi lebih ada pada para investor tersebut. Karena di sini Selly hanya menawarkan konsep, tidak lebih. Tidak ada pemaksaan, tidak pula ada intimidasi. Selly hanya menawarkan konsep. Pertanyaannya kemudian, jika Selly yang datang tanpa ada fakta, data atau bukti terkait keberhasilan bisnisnnya sangat mudah mendapatkan kepercayaan, jika hanya Selly saja yang dipersalahkan, maka negara dengan demikian tidak melindugi hak-hak bangsa Indonesia pada umumnya dari ancaman tahayyul dan sifat apatis ini.

Sesugguhnya pada kejadian Selly ini ada hikmah besar: bahwa bangsa Indonesia masih bodoh karena di balik Selly yang hanya seorang ada banyak Selly-Selly lain yang berwujud institusi besar. Sebut saja misalnya Instansi perbankan dan asuransi.

Sebut saja penipuan perbankan oleh bank Century dan penipuan asuransi oleh PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) diduga gagal membayar bunga serta pokok seluruh nasabahnya dengan nilai mendekati Rp 400 miliar. Hal itu ditengarai disebabkan penyelewengan penempatan portofolio yang dilakukan oleh manajemen perseroan (DetikFinance, 16/09/09). Sebelumnya, Bank Century dan Bank IFI mengalami kasus yang sama, tidak mampu membayar dana nasabahnya. Baik Century, IFI maupun Bakrie Life sama-sama sudah berkasus sejak 2008 silam.

Agaknya, di belakang Selly masih ada institusi lain selain dua hal di atas, yang sampai sekarang menjadi lembaran hitam bagi kehidupan rakyat Indonesia, yaitu krisis moneter tahun 1997-1998. Salah satu penyebab kehancuran ekonomi Indonesia pada krisis 1997-1998 adalah utang swasta yang membengkak yang sebagian besar adalah sumbangsih perbankan swasta pra 1998. Seperti halnya krisis finansial 2008 di AS, di Indonesia, kebrobrokan perbankan secara legal ‘diciptakan’ oleh tim ekonomi era Soeharto.

Pada Oktober 1988, pemerintah mengeluarkan kebijakan liberalisasi perbankan yang diikuti lahirnya Paket Kebijakan Oktober yang terkenal dengan sebutan PAKTO. Kebijakan tersebut memberi ruang besar bagi para pengusaha untuk mendirikan sebuah bank hanya bermodal Rp 10 miliar. Akibat dari kebijakan ini, maka para konglomerat berlomba-lomba membuat bank-bank baru yang mencapai 160-an. Sehingga dalam waktu yang singkat, sekitar 200 bank-bank swasta telah beroperasi di Indonesia.

Bank-bank PAKTO didirikan, dimiliki dan dikelola oleh para pedagang besar yang sama sekali tidak mempunyai latar belakang perbankan. Dana masyarakat yang dipercayakan disalahgunakan dengan cara memakainya untuk membiayai pendirian perusahaan-perusahaannya sendiri dengan mark up (konglomerasi). Bank yang kalah clearing tidak dihukum oleh BI, malahan diberikan fasilitas yang dinamakan Fasilitas Diskonto I. Kalaupun harus kalah clearing lagi, BI juga masih melindunginya dengan memberikan Fasilitas Diskonto II. Bank-bank yang sudah rusak tidak terlihat oleh publik yang uangnya sebagian besar dititipkan di sana.

Dengan terjadinya krisis di tahun 1997 dan ikut campurnya IMF dalam penentuan kebijakan moneter dan ekonomi di Indonesia, 16 bank ditutup mendadak tanpa persiapan yang matang seperti yang telah digambarkan di atas. Setelah gejolak perbankan reda, ternyata sangat banyak bank rusak berat. Pemerintah menginjeksi dengan surat utang negara yang dinamakan Obligasi Rekapitalisasi Perbankan (Obligasi Rekap.) sampai jumlah Rp 430 trilyun dengan beban bunga sebesar Rp 600 trilyun. Bank-bank ini menjadi milik pemerintah. Terus dijual dengan harga murah, padahal di dalamnya masih ada tagihan kepada pemerintah yang besar. Sebagai contoh, BCA dijual dengan nilai sekitar Rp 10 trilyun, tetapi di dalamnya ada tagihan kepada pemerintah (Obligasi Rekap) sebesar Rp 60 trilyun. Jadi pembeli membayar Rp 10 trilyun, dan langsung mempunyai surat utang negara sebesar Rp 60 trilyun. Beban bunga per tahun dari Rp 60 trilyun ini selama belum dilunasi besarnya melebihi hasil penjualan yang Rp 10 trilyun.

Sampai sekarang, tanggungan pemerintah tersebut masih belum lunas dibayar. Siapa yang membayarnya? Kita-kitalah dengan pajak kita yang membayarnya, termasuk Selly. Jadi, menurut saya, bangsa ini mesti belajar berbuat bukan bermimpi; bangsa ini mesti belajar sadar bahwa kekayaan tak akan datang dengan janji-janji manis, tetapi dengan keringat dan peluh bahkan darah yang mengucur dari tubuh mereka dalam rangka mewujudkan cita-citanya. Selly hanyalah seseorang yang sama. dengan warga Indonesia lainnya yang percaya tahayyul bahwa dengan sedikit berbuat, dan berpikir besar, maka keberhasilan akan diraih. Bullshit, if there is no pain, there will be no gain. Jika ada orang berhasil dengan mudah, tunggu saja saat kehancurannya.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s