Sekarang Libya, Besok atau Lusa Bisa Saja Indonesia


Tak sedikit orang yang menyanjung Amerika dan negara-negara Barat sebagai negara yang demokratis. Bahkan, tak sedikit orang yang mengatakan bahwa jika ingin melihat Islam, maka lihatlah kehidupan orang-orang yang hidup di negara-negara Eropa termasuk Amerika. Mereka disanjung demikian rupa karena kehidupan mereka yang teratur, humanis, toleran, dan lebih islam daripada orang-orang Islam.

Dari awal sanjungan ini terasa aneh di telinga saya. Bagaimana bisa negara-negara yang system perekonomiannya adalah kapitalisme disebut lebih islam? Sistem ekonomi yang dikenal kejam ini tentu saja sangat jauh daripada Islam. Sistem ini menghalalkan segala cara hanya untuk meraih keuntungan. Tak peduli yang menjadi lawan mainnya adalah orang-orang atau negara-negara yang sedang membutuhkan pertolongan SOS. Sistem seperti ini tentu saja sangat jauh dari Islam.
Kedua, kemajuan negara-negara Eropa dengan kegemarannya menjajah bangsa-bangsa dunia ke3 adalah dibangun dari kekayaan yang didapat selama mereka menjajah. Tidak sedikit yang mereka dapat dari menjajah. Bahkan, bisa dikatakan negara-negara ini maju karena menjajah, lain tidak. Lalu, bagaimana mungkin peradaban yang dibangun dengan keringat dan darah bangsa-bangsa terjajah seperti Indonesia dapat dikatakan sebagai bangsa berperadaban tinggi dan lebih Islam daripada Islam sekalipun?

Ketiga, Jika Eropa kemajuannya adalah sumbangsih dari negara-negara jajahan yang tentu saja sekarang sudah tidak terjadi lagi, maka Amerika Serikat adalah negara bengis yang juga hidup dari membodohi dan menjajah negara-negara dunia ke3 sampai sekarang. Tidak terbayangkan bagaimana Amerika hidup jika tanpa dukungan negara-negara miskin termasuk Indonesia.

Tidak perlu mempunyai banyak kuku untuk ditancapkan di suatu negara, cukup 2 sampai 3 kuku saja sudah cukup. Di Indonesia misalnya, Amerika Serikat cukup hanya menancapkan 2 kukunya di dunia pertambangan, maka habislah Indonesia.

Salah satu kuku Amerika Serikat yang sangat beracun yang tertancap di Indonesia adalah Freeport McMoRan. Freeport Indonesia adalah perusahaan emas kelas dunia asal Amerika yang menjadi salah satu penambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia.

Alih-alih menguntungkan, kehadiran Freeport justru menjadi bencana bagi masyarakat Papua (pada lingkup lokal), dan bangsa Indonesia (pada level nasional). Penambangan yang dilakukan Freeport telah menggusur penghidupan suku-suku di pegunungan tengah Papua. Tanah-tanah adat tujuh suku seperti suku Amungme dan Nduga telah dirampas sejak kehadiran Freeport.

Limbah yang dihasilkan PT Freeport telah mengubur 110 km2 wilayah Estuari. Sekitar 20-40 km sungai Ajkwa tercemar racun dan 133 km2 lahan subur terkubur akibat pembuangan limbah tersebut.
Demikian juga dengan PT. Newmont, baik yang di Nusa Tenggara maupun Minahasa.

Dengan mempekerjakan sekitar 8000 orang karyawan, PT. NNT mempunya cadangan emas dan tembaga Lapangan Batu Hijau diperkirakan bisa bertahan hingga 2027. Metode pertambangan NNT ini menggunakan metode pertambangan open pit (tambang terbuka) dan membuang limbah sisa olahan dengan menggunakan sistem submarine tailing disposal (STD). Yaitu, sedikitnya 110 ribu ton tailing telah dibuang ke laut setiap hari oleh perusahaan tersebut.

Ditambah lagi, beberapa sentra pemukiman seperti di Desa Tongo Sejorong di lingkar tambang sekarang sudah tidak dapat menjalankan kegatan pertanian secara normal, karena praktek pertambangan yang boros air telah berakibat pada kekeringan lingkungan sekitar.

Akibat tercemar tailing, para nelayan di Kabupaten Lombok Timur yang menggantungkkan penghidupannya terhadap potensi perikanan selat alas telah kehilangan sejumlah besar hasil tangkapan ikan.

Lain lagi dengan PT Newmont Minahasa Raya. Pada tahun 2003 saja, diperkirakan ada lebih dari 5 juta ton tailing di Teluk.
Akibat penambangan PT Newmont tersebut, kini 80% dari 266 warga Teluk Buyat mengalami gangguan kesehatan, mulai dari kesehatan kulit hingga reproduksi. Logam berat Arsen telah mencemari sumur-sumur warga di Kampung Ratatotok dan Buyat sejak Newmont menambang. Alhasil, pada Juni 2005, 68 Kepala Keluarga Buyat pantai memutuskan untuk pindah pemukiman ke Duminanga.

Exxon Mobil merupakan pemain minyak raksasa terbesar di dunia asal Amerika. Bahkan, Exxon kerap menempati urutan pertama sebagai perusahaan terbesar dunia versi majalah Forbes. Exxon sudah cukup lama bermain di perminyakan Indonesia dan mengelola ladang-ladang minyak di negeri ini. Salah satu ladang minyak yang sempat mengundang kontroversi adalah blok Cepu, Bojonegoro.

Tak ubahnya seperti Freeport, Exxon Mobil adalah raja bukan hanya di bisnis minyak, tetapi juga raja di Indonesia. Bagaimana tidak, Exxon mobil berani menggertak pemerintah jika diusir dari blok Natuna dia akan mempermasalahkannya ke hukum arbitrase international. Meskipun belum berakhir, namun pemerintah berencana memberikan saham sebanyak 35% kepada Exxon agar tidak digertak lagi. Padahal, kontrak kerjanya sudah habis beberapa tahun yang lalu. Anda tahu, sebelum ditinjau ulang, Kontrak Bagi Hasil antara Exxon Mobil dan Pemerintah adalah sebesar 100% minyak untuk Exxon Mobil dan 0% untuk pemerintah. Pinter kan? Atau kita yang bodoh? Saya setuju pilihan ke2
Kebodohan ini diperparah—jika informasi ini benar—dengan dibiarkannya Exxon mobil di Natuna membangun pipa gas di laut yang berujung di Singapura dan menjual hasil alam kita langsung ke sana. Wah wah wah….

Intinya adalah, kita ini masih aman dan nyaman karena masih tunduk kepada kemauan Amerika Serikat. JIka tidak, mungkin nasib kita akan sama seperti Libya, Afghanistan, Irak, dll. Inilah gambaran betapa bangsa ini bukanlah bangsa pemberani, kreatif, dan merdeka. Kita ini adalah bangsa yang penakut, bodoh dan masih diperbudak. Jika saja SDA kita akan terus ada sampai kiamat, kita tidak masalah berbagi dengan bangsa rakus seperti Amerika dan Eropa. Tapi sampai kapan SDA kita masih tersedia? Jika masa itu telah habis, bisa jadi kita juga akan dihabisi oleh Amerika, karena saat itu, disamping kita ini adalah bangsa yang miskin, kita juga masih sebodoh sekarang. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s