Binatang Dalam Diri Manusia


Manusia adalah makhluk yang sangat unik. Pada awal kelahirannya, dia adalah makhluk mulia dengan bekal ruh Allah di dalam tubuhnya. Maka pada saat itu, manusia adalah makhluk yang theopanic, yaitu makhluk yang dalam dirinya terpancar sifat-sifat Allah Yang Maha Mulia. Dalam kondisi seperti ini, manusia disebut sebagai makhluk nurani, yaitu makhluk yang didominasi oleh sifat-sifat ketuhanan, yang baik budi, penuh cinta kasih, tidak berprasangka, tidak dendam, tidak dengki, tak materialistik, mengedepankan hati nurani ketimbang emosi, dll. Maka, seperti sabda Rasulullah saw, setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan yang suci.

Jika manusia kemudian dalam kesehariannya berperangai buruk, mengedepankan emosi daripada hati untuk berpikir, menimbulkan kerusakan baik yang besar maupun yang kecil, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, maka lama kelamaan sifat ruhani ini berubah menjadi jasmani, yaitu sifat-sifat yang didominasi oleh sifat duniawi, yang kasar, tak sopan, berorientasi untung rugi, balas dendam, dengki, tamak, dll.

Allah swt lalu mengirimkan Rasulullah saw untuk mengajarkan kepada manusia parameter berperilaku yang baik, baik dalam beribadah mahdhah maupun saat bermuamalah. Dalam ajaran Rasulullah saw., bermuamalah adalah juga saranah beribadah. Dalam melakukan kegiatan sehari-hari di kantor misalnya, seseorang dapat melakukan ibadah jika dia melandasi kegiatannya dengan parameter Islam: jujur, tak mencuri dalam bentuk apapun, niat mencari penghidupan karena menjalankan perintah Allah, berperilaku mulia untuk syi’ar agama Allah, dll. Jika parameter dari Rasulullah saw ini diikuti, maka manusia telah bisa menjaga sifat-sifat ruhani dalam dirinya.

Namun, pada kenyataannya, dunia seperti dunia politik yang penuh kebohongan, perampok-perampok dan maling-maling kemudian menutup kesucian manusia. Hati yang pada awalnya terhubung dengan Allah langsung, kemudian menjadi pekat oleh dosa-dosa dan terpisah sejauh-jauhnya dengan Allah Penciptanya.

Tak hanya di dunia politik dan politikus serta pejabat-pejabat pemerintahannya, di dunia rakyat jelata pun kita biasa menjumpai kekotoran-kekotoran ini. Hampir tak pernah kita tak melihat kejadian-kejadian jorok pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi, perampokan, dll di media-media seperti televisi. Lebih jauh lagi, di dunia nyata selain di media, di jalan-jalan, di perumahan, di perkampungan, bahkan di mesjid sekalipun agaknya kita bisa mencatat berbagai macam tingkah manusia yang biadab yang keluar dari nilai-nilai yang universal sekalipun, seperti tak toleran, yang kaya menyombongkan kekayaannya dan tak peduli kepada sekitar, yang miskin sombong dengan kemiskinannya dengan memperlakukan seolah-olah orang-orang kaya bukanlah manusia seperti mereka yang layak dihargai hak-haknya, yang berpendidikan membodohi yang tak berpendidikan dengan mengajarkan hal-hal yang tak mendasar (ini terjadi di banyak mesjid), yang bodoh merasa lebih pintar daripada professor, dll. Ini semua membuat jiwa manusia jauh dari Allah. Istilah yang paling mudah adalah, sifat Suci Allah tak akan pernah dapat menerima sifat-sifat kotor manusia.

Kekotoran ini bahkan digambarkan oleh Allah sebagai hal yang lebih sesat daripada hewan sekalipun. Seolah-olah Allah mengatakan bahwa disamping ruh yang ditiupkan kedaam jiwa manusia, Dia juga meniupkan sifat-sifat hewan kedalamnya. Artinya, manusia mempunyai dua jalan: jalan Allah dan jalan hewan. Manusia tinggal memilih, jika memilih jalan Allah, maka mereka mesti memilih parameter Rasulullah dalam berperilaku. Jika perilaku mereka keluar dari parameter yang diajarkan oleh Rasulullah saw, maka itu artinya mereka memilih paremeter binatang.

Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan isi Neraka Jahannam kebanyakan jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raf : 179)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s