Mencetak Generasi Tangguh


Bagi orang-orang yang hidup di Jakarta, mereka pasti sudah terbiasa dengan lalu-lintas yang tidak disiplin. Baik dari pengendara sepeda motor, maupun pengendara mobil. Belakangan, saat bike to work digalakkan, pengendara sepeda pun menjadi tokoh-tokoh terdepan dalam pelanggaran disiplin berlalu lintas.
Selintas, kebiasaan ini hanya menyebabkan kemacetan—yang kalau diusut penyebab kemacetan yang paling berdosa adalah pemerintah. Namun, ketakdisiplinan berlalu lintas ini mempunyai makna yang lebih dalam dari hanya sekedar kemacetan lalu lintas.

Menurut Kompas, setiap hari di Jakarta, tak kurang dari 50 orang tewas akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Mayoritas yang mengalami kecelakaan itu, masih menurut Kompas, adalah akibat pengendara kendaraan bermotor yang ugal-ugalan.

Sekarang ini, sangat susah—meskipun masih ada pengendara yang baik-baik, insya Allah saya salah-satunya :D—mencari situasi, terutama di Jakarta, dimana jalan raya adalah tempat yang sangat enak untuk berkendara. Sepertinya sangat susah bagi pengendara di Jakarta ini untuk ber-empathy kepada sesama pengendara lain. Maka tak jarang kita temukan kemacetan yang terjadi hanya karena ada 1 mobil yang malang-melintang di tengah jalan akibat tidak diberi ruang oleh kendaraan lain untuk masuk di antrian. Malah sering terjadi kemacetan total selama berjam-jam hanya karena ada pengendara yang tak mau mengikuti aturan lalu-lintas karena alasan dia adalah seorang pejabat atau aparat.
Begitulah, jika dilihat dari cara bangsa ini berlalu-lintas, maka yang terjadi adalah pertunjukan kebiadaban, kepongahan, kebodohan, dan kebobrokan moral suatu bangsa yang konon bermimpi ingin menjadi negara besar. Negara yang mampu menyaingi China dan India dalam pertumbuhan ekonominya.

Padahal, kemajuan India dan China tidak dibangun sekali jadi. Pun kemajuan ini tidak dibangun hanya dengan bekerja keras semata. Kemajuan meraka dibangun sejak lama. China, misalnya, kemajuannya yang dicapai saat ini tak bisa lepas dari akar sejarah peradaban China yang telah dibangun selama ribuan tahun. Peradaban China lahir dari zaman Dinasti Sang (1766-1122 SM), Dinasti Zou (1122-256 SM), Dinasti Qin(221-206 SM), Dinasti Han (206 SM-221 M), Dinasti Sui (581-618 M), Dinasti Tang (618-906 M), Dinasti Song (960-1268), Dinasti Yuan (1279-1368 M), Dinasti Ming (1368-1644 M), Dinasti Qing (1644-1912 M) hingga zaman modern ini.

Selama kurun waktu tersebut China telah membangun peradabannya secara eksis. Tidak salah bila Pearl Pearl S Buck, dalam ”The Good Earth” melukiskan tentang peradaban China yang dinilai menyimpan sejuta khasanah peradaban. ”Mengapa China mampu bertahan adalah karena penduduknya mampu membangun suatu peradaban yang praktis sehingga tidak mudah hancur. Peradaban China bisa bertahan banyak dipengaruhi oleh pemikiran konfusius yang mengajarkan tentang prinsip kehidupan berdasarkan moral kebajikan. Ajaran kebajikan ini mendasari lahirnya filsafat konfusius yang menjadi landasan masyarakat China dalam ber-adat istiadat dan tatakerama dan gaya hidup untuk berkarya tanpa pamrih dan rela berkorban untuk orang lain.

Demikian juga India. Pada tahun 2009, perekonomian diberbagai negara banyak yang terjerembab. Namun India justru menjadi negara terkuat kedua pertumbuhannya setelah cina. Ekonomi India mampu tumbuh lebih dari 6 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia yang tumbuh 4,4 persen.

Sektor utama yang dapat membuat India bangkit adalah pengembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. Jika di China ada revolusi China, maka di India ada gerakan swadeshi ini, yaitu gerakan yang didasari oleh pemikiran Mahatma Ghandi, yang mengajak manusia India untuk hidup mandiri, tak tergantung dengan negara lain. Di bawah kepemimpinan PM PV Nashimha Rao dan Menteri Keuangan Manmohan Sigh dari tahun 1991 melakukan liberalisasi ekonomi. Pemerintah menghapuskan semua aturan-aturan yang mengikat yang menutupi kesempatan investor untuk menggeluti bisnis domestik. Perubahan paradigma pada kekuatan pasar dan sentuhan asing membawa India menjadi kekuatan dunia.

Mencetak Manusia Yang Beradab

Belajar dari China dan India, ternyata kemajuan ekonomi dimulai dari kesetiaan dan kecintaan kepada negara. Untuk mewujudkan kecintaan dan kesetiaan (nasionalisme) kepada negara, maka suatu bangsa harus mempunyai karakter baik yang sangat kuat.

Sebenarnya, bangsa Indonesia sudah mempunyai benih yang bagus, yaitu sebagai bangsa yang ramah dan pemaaf. Hanya saja, akhir-akhir ini, sifat-sifat yang ramah dan pemaaf itu hanya ditujukan kepada kalangan tertentu saja, dan bukan kepada kebanyakan orang. Maka, tak heran jika di berita-berita media massa kita yang mendominasi adalah berita pembunuhan, pengeroyokan, perkelahian massal, perampokan, pemerkosaan, mutilasi, dan lain-lain.

Maka, berkaca dari keberhasilan China dan India, Indonesia harus mencetak manusia-manusia yang berkarakter membangun, yang setia dan cinta kepada negaranya sendiri. Yang bisa melakukan ini hanyalah keluarga dan sekolah-sekolah. Di situlah anak-anak Indonesia ditempa bukan hanya agar mereka naik kelas dan menduduki ranking tertinggi di sekolah tersebut. Lebih dari itu, sekolah adalah tempat dimana anak-anak merasa bahagia, merasa dimanusiakan, diajari cara menghargai orang lain, diajari agar meminta maaf jika berbuat salah, diajari agar menjadi pemaaf atas perbuatan salah orang lain, diajari menjadi manusia yang tangguh, yang mengerti iptek, agama, kebudayaan, dan lain-lain. Intinya, sekolah harus menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk mengembangkan diri.

Membangun karakter sejak dini sangat penting bagi orang tua danguru, harapanya agar anak sejak dini memiliki karakter yang baik,membangun karakter anak bisa dilakukan melalui jalur pendidikanformal maupun non formal. Lupakanlah pejabat-pejabat negeri ini yang korup, lupakan masa sekarang bangsa ini yang demikian bobrok. Kita mulai dari sekarang membangun bangsa yang beradab, yang cinta tanah air, yang bervisi jauh ke depan, dan yang tangguh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s