Indonesia Negara Besar Yang Masih Kerdil?


Belum lama ini, Presiden SBY melontarkan kritikan tajam atas lambannya pembangunan infrastruktur di Jakarta. Kritikan itu disampaikan SBY saat menggelar rapat dengan para gubernur di Istana Bogor. “Saya kenyang dengan banyak sekali komitmen, seperti membangun infrastruktur di DKI. Semuanya pepesan kosong. Transportasi tidak jalan. Barangkali di daerah juga begitu,” begitu kata SBY.

Menurut Kepala Ekonom Bank Pembangunan Asia (ADB) Mochammad Ehsan Khan, infrastruktur jalan di Indonesia merupakan yang terburuk di ASEAN. Bukan hanya itu, jalan di Indonesia juga yang terpendek di ASEAN. Indonesia bahkan menjadi salah satu negara yang memiliki kepadatan jalan terendah di antara negara-negara ekonomi utama di Kawasan Asia Tenggara, baik untuk tiap 100 orang dan setiap kilometer persegi.

Panjang jalan yang diaspal per 100 orang juga salah satu yang terpendek di kawasan ini. Selain itu, jaringan jalan dilaporkan rusak atau mengalami kerusakan berat pun masih terbilang tinggi. Padahal, jika masalah infrastruktur ini bisa teratasi maka pertumbuhan Indonesia bakal lebih tinggi lagi. Peluang ekonomi akan lebih terbuka dan terbagi dengan lebih merata.

Tak diragukan lagi, pembangunan infrastruktur adalah salah satu aspek penting dalam mempercepat pembangunan nasional, yang—juga—akan menjadi penggerak roda pertumbuhan ekonomi. Ini mengingat karena ketersediaan infrastruktur seperti seperti transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan energi tidak dapat dipisahkan dari gerak laju dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, pembangunan sektor ini menjadi fondasi dari pembangunan ekonomi selanjutnya.
Bahkan, lebih jauh lagi, ketersediaan infrastruktur yang memadai juga merupakan faktor penting dalam menunjang proses belajar dan mengajar siswa sekolah, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Ini karena perjalanan siswa dari rumah menuju ke sekolah lebih melelahkan ketimbang mengikuti proses belajar-mengajar itu sendiri. Tak sedikit siswa—Taman Kanak-Kanak sekalipun—harus bangun jam 05.00 wib agar tidak terjebak kemacetan saat berangkat ke sekolah. Hal ini, disamping tak baik untuk kecukupan waktu tidur anak—dan kualitas tidurnya mungkin, juga mengurangi kecukupan waktu bagi orang-tua murid dalam mengerjakan urusan pekerjaan atau rumah yang dalam waktu bersamaan harus mengurusi anak dan urusan kantor atau rumah lainnya, meskipun hanya 1 jam saja. Tak jarang pula, meskipun sudah berkangkat dari rumah jam 06.30 wib dari rumah, siswa masih mengalami kemacetan di jalanan.

Alih-alih masalah infrastruktur jalan yang tidak memadai, belum lagi masalah kerusakan jalan yang kian parah di sejumlah daerah memicu lahirnya keterisolasian dan kemiskinan, arus mobilitas barang dan manusia tersendat sebab kerusakan jalan yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi, perjalanan pekerja dari rumah ke kantor yang sangat menyita waktu, juga perjalanan siswa—bahkan siswa taman kana-kanak sekalipun—yang terlalu pagi dan panjang.

Semakin kurangnya pengeluaran terhadap infrastruktur membuat dengan sendirinya cakupan dan mutu pelayanan infrastruktur menjadi rendah. Contohnya, dalam hal jalan, jalan raya masih sangat terbatas yang hanya 1,7 km per 1000 penduduk, dan hampir 50% dalam kondisi buruk karena sangat kurangnya pemeliharaan yang baik, terutama di jaringan jalan kabupaten. Hal ini menambah kemacetan lalu lintas setiap tahun, sementara kapasitas jalan yang ditambahkan sedikit. Pengeluaran pemerintah di subsektor ini terus menurun, dari 22% tahun 1993 ke 11% dari anggaran pemerintah tahun 2000. Jika hal ini terus berlangsung, tidak mustahil kondisi jalan raya yang buruk atau kurangnya sarana jalan raya bisa menjadi penghambat serius pertumbuhan investasi.

Cara Pembangunan yang Salah

Apa yang salah dalam cara pembangunan infrastruktur kita? Jawaban tepatnya penulis mungkin tidak mengetahui, ini justru karena terlalu rumitnya permasalahan dalam hal ini. Tetapi, jika kita runut-runut dari banyak proyek infrastruktur yang terlunta-lunta, maka jawabannya ada pada birokrasi, percaloan pejabat dan keengganan nasional. Marilah kita merunut proyek-proyek berikut ini.

Proyek Monorel

Monorel adalah proyek yang sudah dianggap gagal terlaksana. Konsep pembangunan monorel disodorkan sejak tahun 2003, yang dilanjutkan pembangunan fisik pada tahun Juni 2004. Tapi pembangunan fisiknya terhenti pada tahun 2007 yang hanya menyisakan tiang pancang monorel yang mangkrak. Pembangunan terhenti karena PT Jakarta Monorel, selaku pelaksana kekurangan dana. Mereka tidak mampu mendapatkan dana yang kebutuhannya mencapai Rp5,4 triliun.

Meski tak selesai, PT Jakarta Monorel selaku pelaksana proyek mengklaim kepada pemerintah atas biaya proyek yang telah dikeluarkan yang mencapai Rp600 miliar. Akhirnya setelah melalui proses audit oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Pemerintah DKI Jakarta diwajibkan untuk membayar hanya Rp204 miliar

Akhirnya, dengan alasan intensitas monorel baik penumpang maupun waktu sangat kecil, pemerintah provinsi (pemprov) menghentikan proyek ini dan mengalokasikan dananya ke proyek yang menurutnya lebih jelas seperti mass rapid transit (MRT) dan kejelasan busway hingga 15 koridor. Tetapi, sampai saat Presiden SBY berteriak-teriak karena kesal melihat perkembangan rencana yang tak jelas, proyek ini masih sebatas wacana.

Menara Jakarta

Menara Jakarta direncanakan akan setinggi 558 meter, dan akan menelan anggaran sekitar Rp3 triliun itu hingga kini belum jelas sampai sejauh mana pengerjaannya.

Rencananya, menara ini akan mengalahkan Canadian National Tower di Toronto, Kanada (553 meter), Oriental Pearl Tower di Shanghai, China (460 meter), dan Kuala Lumpur Tower di Kuala Lumpur, Malaysia (421 meter). Namun, menara yang dibangun pada tahun 1997 ini terhenti akibat krisis ekonomi tahun 1998. Lalu dilanjutkan kembali pada 2004 silam, tapi
kemudian terhenti lagi.

KA Manggarai-Bandara Sokarno Hatta

Proyek yang awalnya hanya akan menelan angggaran Rp. 4 triliun kemudian membengkak hingga Rp10 triliun ini telah digadang-gadang semenjak 2007. Setidaknya 3 kali prakualifikasi dilalui, namun sampai sekarang, proyek yang sudah dianggarkan tahun 2011 ini belum juga dimulai. Memang, proyek yang mempunyai konsep double track dan dibuat melayang di atas tanah dengan posisi sejajar dengan jalan tol sangat penting, tetapi begitu pentingnya sampai-sampai kepentingan masyarakat jadi dinomorduakan daripada kepentingan pribadi.

Bangsa Yang besar atau Kerdil?

Dan banyak lagi rencana pembangunan infrastruktur yang tak bisa dijalankan atau tak maksimal dijalankan. Buktinya, Jakarta masih sangat macet—bahkan bertambah. Jika musim hujan datang, banjir pasti ikutan datang. Jika gerimis datang, tiba-tiba Jakarta yang sudah macet menjadi mampet.

Celakanya, dengan kemampuan empathy yang demikian jelek, proses pengerjaan proyeknya pun sangat-sangat lamban. Kita ambil saja contoh pengerjaan proyek flyover Blok M-Antasari, rencananya, seperti yang tertera dalam pengumuman, proyek ini akan memakan waktu selama 2 tahun. Wow, padahal, perusahaan asal China mengerjakan proyek MRT seluruh untuk seluruh Iran hanya memakan waktu 1 tahun 8 bulan.

Jika demikian terus menerus keadaannya, lalu bagaimana nasib para pekerja kita yang harus menghabiskan berjam-jam waktunya di jalanan hanya karena macet? Bagaiman nasib anak-anak sekolah yang—bahkan masih TK—harus dibuat menderita sejak usia dini dengan kemacetan ini?

Bangsa yang besar bukan saja bangsa yang pandai menghabiskan anggaran hanya untuk memperingati hari-hari besar kepahlawanan, tetapi, lebih dari itu, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berpikir besar untuk kesejahteraan rakyat, bangsa yang pemerintahnya pintar, setidaknya seperti bangsa lain yang mampu membangun infrastruktur dengan begitu cepatnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang pemerintahnya mampu membuat rakyatnya cerdas, tangguh, dan tidak diremehkan bangsa lain.

Lalu pertanyaannya, Indonesia bangsa yang besar atau bangsa kerdil?

Free Automatic Link

Backlink Gratis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s