Euforia Atau Nasionalisme?


Euforia berasal dari kata Euphoria, yang umumnya dianggap sebagai keadaan fisik dan psikologis yang berlebihan, kadang-kadang disebabkan oleh penggunaan obat psikoaktif dan bisa juga dicapai dalam keadaan normal. Namun, beberapa perilaku alamiah, seperti kegiatan yang mengakibatkan orgasme atau kemenangan seorang atlet, dapat mendorong negara singkat euforia ini.

Sedangkan nasionalisme adalah istilah yang menunjukkan hubungan yang kuat dari individu-individu dan kelompok dengan identitas nasional, sering melibatkan keyakinan politik tertentu yang bisa berkisar dari mereka yang menegaskan kewarganegaraan dalam suatu negara yang terbatas pada satu kelompok etnis, kepada mereka dengan pengertian yang jauh lebih luas dari tujuan dan cita-cita patriotisme dan perlindungan yang tepat dan promosi ibadah sosial.

Apakah semangat menggebu-gebu para supporter timnas merupakan euforia belaka atau murni nasionalisme?

Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia mengalami sejarah panjang kolonialisasi, dari kolonialisasi Spanyol, Portugis, VOC, Pemerintah Hinida Belanda, Jepang dan Belanda lagi. Sejarah panjang kolonialisme ini tak pernah terjadi semena-mena tanpa perlawanan heroik dari bangsa Indonesia.

Pada tahun 1560 Spanyol mendirikan pos di Manado, tahun 1617 rakyat Minahasa di Sulawesi Utara melakukan perlawanan mengusir kolonial Spanyol. Tahun 1646 Spanyol di usir dari Minahasa dan Sulawesi Utara.

Pada tahun 1509 Portugis tiba pertama kali di Melaka. 1513 Pasukan dari Jepara dan Palembang menyerang Portugis di Melaka, walaupun berhasil dipukul mundur. Tahun 1521 Pati Unus memimpin armada dari Demak dan Cirebon melawan orang-orang Portugis di Melaka. Unus terbunuh dalam pertempuran. Trenggono menjadi Sultan Demak. Tahun 1524 Sunan Gunungjati dari Cirebon dan anaknya Hasanuddin (di Banten) melakukan dakwah secara terbuka dan rahasia di Jawa Barat untuk memperlemah Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran dan persekutuannya dengan Portugis. Pemerintah lokal di Banten, yang tadinya tergantung pada Pajajaran, masuk Islam dan bergabung dengan pihak Cirebon dan Demak. Tahun 1527 Cirebon, dibantu Demak, menduduki Sunda Kelapa, pelabuhan Kerajaan Sunda. Fatahilah mengganti namanya menjadi Jayakarta. Tahun 1591 Ternate menyerang Portugis di Ambon. 1593 Ternate mengepung Portugis di Ambon kembali.
Demikian juga pada zaman penjajahan VOC, Hindia Belanda dan Jepang. Tak pernah perjuangan untuk merdeka itu berhenti walau Cuma sedetik. Ini Sangay berbeda dengan Malaysia, kedaulatan Malaysia tidak dicapai dengan perjuangan, tetapi karena diberikan oleh PBB. Inilah yang mengakibatkan presiden Soekarno mengumumkan pengunduran diri negara Indonesia dari keanggotaan PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mendirikan Konferensi Kekuatan Baru (CONEFO) sebagai tandingan PBB dan GANEFO sebagai tandingan Olimpiade. Pada tahun itu juga konfrontasi ini kemudian mengakibatkan pertempuran antara pasukan Indonesia dan Malaysia (yang dibantu oleh Inggris). See, saat bertempur pun, Malaysia dibantu oleh negara sebesar Inggris. Apakah kita takut waktu itu? No, dari sinilah lahir slogan “Ganyang Malaysia!”.

Jadi, apakah keceriaan rakyat mendukung timnas Indonesia adalah nasionalisme atau cuma sekedar euforia? Menurut saya, ini adalah euforia yang digerakkan oleh rasa cinta kepada tanah air (nasionalisme). Apa buktinya? Buktinya, walaupun kalah oleh Malaysia di Leg I final Piala AFF, supporter Indonesia masih tetap mendukung pasukan Garuda. Itu bukti pertama, bukti cinta yang luar biasa yang bisa disebut juga cinta tak menuntut balas. Bukti keduanya adalah bahwa yang dilawan sekarang bukan sekedar tim sepak bola, melainkan musuh bebuyutan sejak zaman Soekarno dahulu. Musuh bebuyutan mana yang sampai sekarang sering mengambil banyak hal dari kita—sekaligus juga memberikan banyak hal negatif.

Hal-hal yang diambil seperti hasil hutan kita, diambil oleh Malaysia melalui illegal logging. Hasil-hasil perkebunan kita, diambil oleh Malaysia melalui investasi kotor. Hasil-hasil tambang, Malaysia ambil melalui praktik-praktik bisnis ala mafia. Sekaligus, Malaysia memberikan terorris-terroris kepada Indonesia. Lebih dari itu, mereka menciptakan terroris-terroris militan yang berasal dari orang-orang Indonesia sendiri.

Jadi, inilah bukti bahwa melawan Malaysia bukanlah emosi tetapi nasionalisme sejati. Inilah bukti bahwa mengelu-elukan timnas sepakbola bagi orang Indonesia bukanlah euforia, melainkan nasionalisme atas dasar kecintaan kepada tanah air. Bravo Indonesia. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s