Bangsa Mayoritas Islam tapi tak Ber-Islam


Kita ini seperti sampah yang dibuang di tengah-tengah peradaban. Sementara manusia-manusia meraih mimpi dan prestasi, kita di Indonesia dipaksa hidup berhimpitan dengan kemiskinan, kebodohan, pembodohan.

Setiap denyut nadi kita menyuarakan harapan-harapan: yang masih miskin berharap menjadi lebih baik, tapi dengan menjadi tukang becak, buruh tani, tukang cuci, pemulung, penjual nasi uduk dadakan, dari mana mereka mampu membiayai makan keluarga apalagi pendidikan? Atau menjadi pembantu rumah tangga dan TKI, harapan macam apa yang akan mereka rajut? Untuk mereka harapan itu jelas nonsense; yang masih bodoh berharap menjadi lebih pintar dengan menempuh pendidikan tinggi. Tapi harapan macam apa yang akan mereka rajut untuk negeri ini jika hasilnya adalah mereka hilang bersama hilangnya ketakutan mereka akan kemiskinan. Negara—dengan demikian—hanya akan menerima generasi-generasi dengan kualitas yang sama: generasi gagal yang menggagalkan.
Kini kita yang masih muda, adakah peran kita kepada negara? Atau kita juga akan menjadi orang-orang yang sama, menghancurkan negara-negara ini dengan kepintaran? Atau kita berbeda? Jawabannya ada kita sendiri.
Padahal agama kita mengajarkan kebaikan-kebaikan untuk menebar kebaikan (afsu al-salaam), dan menyukai keindahan. Maka, jika jawabannya adalah tidak, apakah kita ini orang-orang hina yang beragama? Jalanan yang rata-rata rusak jelas tak baik dan tak indah. Lalu-lintas yang macet sudah pasti tak baik dan tak indah. Keadaan ekonomi yang hancur-hancuran jelas-jelas melanggar kebaikan dan keindahan. Pejabat yang korup, wakil rakyat yang gemar membohongi rakyat, tatanan negara yang amburadul, orang-orang miskin yang terbiarkan, orang-orang bodoh yang dibodohi, membuat rakyat menjadi semakin menderita dan miskin, jelas semuanya tidak baik dan tidak indah, yang berarti bertentangan dengan prinsip-prinsip agama.
Lalu apakah kita—dengan demikian—lebih hina daripada orang atheis yang mencintai negaranya dengan membangun negara dan bangsanya, membenci korupsi dan memberantasnya, mencintai orang miskin dengan menolongnya, mencintai keindahan dengan mempraktekkannya? Jadi, apakah kita ini bangsa yang mayoritas Islam tapi masih jauh dari Islam? You all know what the answer is

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s