SAATNYA MEMPUNYAI TIMNAS YANG KUAT


Wen Jiabao pernah berujar, no strong country without universal education. Negara manapun tak akan pernah kuat tanpa pendidikan universal.

Wen berpendapat, pendidikan universal adalah yang fokus pada reformasi pendidikan-maju (advance education), meningkatkan keseimbangan perkembangan pendidikan wajib, memperkuat pendidikan kejuruan, reformasi sistim admisi dan pembelajaran yang lebih tinggi serta memperbaiki kualitas para guru.

Dengan perbaikan pendidikan di segala lini ini, negara diharapkan akan melahirkan generasi-generasi berkualitas. Tentu saja, konsekwensi logisnya adalah negara akan menjadi kuat di segala bidang. Bidang-bidang seperti ekonomi, sosial, budaya, politik, dan juga tak ketinggalan adalah bidang olah raga.

Dalam bidang olah raga, Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan kemunduran yang signifikan. Dari gelar sebagai raja Asia Tenggara, menjadi pecundang yang tak habis-habisnya dicemooh oleh negara tetangga seperti Malaysia.

Pertandingan sepak bola final Piala AFF leg I tanggal 26 Desember 2010 kemarin menceritakan semuanya. Betapa lemahnya negara kita, dalam hal ini di bidang olah raga. Negara manapun, siapapun, boleh saja menklaim atlet-atletnya adalah yang terbaik karena telah melatih mereka dengan kompetisi yang baik. Tapi, sepak bola tidak cukup dengan latihan rutin (kompetisi rutin). Dibutuhkan banyak hal untuk itu. Salah satu yang terpenting dan tidak ada di Indonesia adalah lapangan yang standar.

Apa yang dimaksud dengan lapangan yang standard? Anda pernah menonton pertandingan-pertandingan di Liga Indonesia? Jika Anda rajin menontonnya, maka Anda akan tahu arah pertanyaan ini. Ya, tidak ada lapangan di Indonesia (kecuali GBK dan Stadion Jakabaring Palembang) yang mempunyai kerataan dan kualitas rumput yang standar. Bahkan penonton tak jarang disuguhi pertandingan sepak bola sawah, pemain seperti bermain di sawah yang sangat becek.

Akibatnya, kualitas permainan pemain Indonesia tak ada peningkatan. Mutu permainan seperti mendribble, menkeping, menghentikan bola, gerakan-gerakan tanpa bola, dan seabrek tipuan lainnya (baik yang sudah ada maupun yang bisa jadi tercipta secara personal) tidak dapat berkembang. Alih-alih berkembang, malah semakin memperbodoh pemain sendiri.

Inilah bukti kualitas olahraga, dalam hal ini sepakbola, yang dikemas oleh negara lemah. Dimana negara-negara kuat telah menyuguhkan hal-hal sebaliknya, yaitu atraksi sepak bola yang semakin lama semakin maju. Yang didukung oleh fasilitas lapangan yang baik untuk berkompetisi, serta pendidikan terintegrasi.

Jika ingin sepakbola kita maju, jadikanlah negara Indonesia ini negara kuat, yang tidak hanya mengejar prestasi instant tanpa peduli kepada syarat-syarat untuk meraihnya. Bangunlah lapangan yang bagus di semua daerah. Bentuklah manajemen PSSI yang professional, yang tidak hanya concerned pada uang dan keuntungan, tapi pada prestasi persepakbolaan nasional. Saatnya menjadi kuat.[]
emba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s