TIMNAS YANG LUGU VS. PSSI YANG KROPOS


IRFAN, seorang pemirsa TVOne dan supporter kesebelasan Indonesia menyatakan bahwa Tim Indonesia kalah karena mementingkan otot daripada otak. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, karena kita tahu bahwa tim Indonesia tidak terkalahkan di piala AFF ini, setidaknya sebelum melawan Malaysia di Final leg I. Namun, di atas semua kesalahan non-teknis yang menyebabkan kesalahan teknis dan kekalahan telak 3-0, memang pada kenyataannya bahwa mental pemainlah yang selalu melahirkan kekalahan tim Indonesia.

Waktu bermain di GBK, Indonesia main layaknya pemain-pemain Eropa. Dribbling yang begitu bagus, set piece yang menawan, kerjasama tim yang sangat kompak, serta permainan setiap pemain yang sangat menjanjikan. Melihat semua itu, seolah kita disajikan sebuah transformasi sepak bola yang akan membanggakan kita di waktu-waktu mendatang.

Masyarakat begitu antusias menyambut transformasi ini. Tak pernah ada antusiasme seperti ini sebelumnya. Kemajuan sepak bola Indonesia agaknya memberikan nuansa baru dalam masyarakat kita. Nuansa yang menggembirakan masyarakat, yang miskin maupun yang kaya.

Namun apa lacur, kemenangan demi kemenangan yang diperjuangkan oleh Timnas Indonesia dianggap sebagai lahan yang bagus untuk berpolitik. Tak lama setelah memenangkan pertarungan melawan the Azkals, Timnas diundang makan-makan oleh ketua Parpol, disumbang ini dan itu. Hati ini masih tenang karena di sana hanya ada makan-makan dan sedikit foto-foto politik. Belum lagi media yang mengangkat Timnas tinggi-tinggi ke atas langit, hingga kaki mereka tak lagi berpijak di bumi. Dua hal ini saja sudah merusak mental pemain Indonesia yang selama ini memang kurang baik dalam menata mental. Mereka mau tak mau terbawa sanjungan seolah-olah mereka sudah layak disejajarkan dengan tim sekelas Uruguay atau, setidaknya, Korsel/Jepang.

Tak kurang dari Presiden SBY menghimbau agar PSSI menurunkan harga tiket Final Leg ke2 di GBK. Himbauan ini pun dipolitisir oleh salah satu pemimpin parpol dengan memberikan perintah yang sama dan mengakui bahwa dialah yang memberikan perintah penurunan harga tiket itu kepada Nurdin Khalid. Secara psychologis, pertengkaran-pertengkaran politik ini berimbas tak baik kepada mental penonton, yang sedikitnya ada rasa dijadikan kambing politik.
Tak lama kemudian, Nurdin Khalid membawa anggota Timnas dan official yang tak semuanya Muslim untuk mengikuti acara istighosah. Konon kata KH. Iskandar SQ, waktu dimana mereka menggelar istighosah itu adalah waktu mustajabah, dimana doa-doa akan dikabulkan. Tapi apa lacur, doanya bukan terkabul malah yang terjadi kebalikannya.

Hal-hal semacam istighosah ini saya yakin yang sangat merusak timnas. Istighosah itu baik, tapi jika dilakukan karena politis, ingin sok ikut-ikutan andil dalam kemenangan timnas, pingin dipuji, tak memedulikan perasaan anggota tim yang beragama non-Muslim, akan jauh dari kebaikan, jika tidak mau dikatakan sangat buruk.

So, PSSI, jika telah memilih Alfred Riedl sebagai pelatih, dan terbukti dia mampu membawa Timnas Indonesia menjadi bermental juara, hendaknya jangan ikut-ikutan menjadi seperti Riedl karena alasan ingin nimbrung beken. Karena jika Timnas baik, baik pulalah PSSI tanpa harus melakukan hal-hal yang norak.

Mengenai apakah Indonesia kalah karena laser atau tidak, sebagai tim yang bermental juara, selayaknya timnas tidak memedulikan itu. Timnas harus menyadari bahwa permainan Malaysia malam itu sangat menawan. Tidak sebanding dengan permainan timnas indonesia yang kedodoran di banyak lini, terutama lini belakang. Semoga kekalahan ini menjadi pelajaran penting bagi timnas, manajemen, PSSI, partai politik, dan supporter.

Di masa mendatang, PSSI hendaknya dikomandoi oleh orang-orang yang kompeten dan concerned terhadap—hanya terhadap—kebaikan timnas dan persepakbolaan di tanah air. Timnas yang lugu akankah dapat mengatasi kekalahan mereka atas emosi yang berlebih serta kekroposan management PSSI? Kita doakan semoga bisa, terutama saat bermain di Final Piala AFF Leg ke2 di GBK Rabu lusa. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s