GLOBALISASI INVESTASI


Manusia selama berabad-abad telah membangun hubungan yang lebih dekat secara progressive, bahkan sekarang, proses terbangunnya hubungan itu semakin meningkat secara dramatis. Pesawat super cepat, layanan telepon murah, email, internet, kapal pesiar mewah antar benua, arus modal yang instan, semua ini telah membuat dunia semakin saling ketergantungan dari sebelum-sebelumnya.

Perusahaan Multinasional memproduksi dan menjual produk-produknya kepada konsumen di seluruh dunia. Uang, teknologi dan bahan baku yang semakin bergerak dengan cepat melewati batas-batas negara. Bersamaan dengan produk dan keuangan, ide-ide dan budaya lebih bebas beredar. Akibatnya, hukum, ekonomi, dan gerakan sosial terbentuk di tingkat internasional. Bagi sebagian orang/entitas, kenyataan ini menimbulkan peluang tersendiri untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tetapi, bagi miliaran orang di dunia, bisnis yang digerakkan oleh globalisasi berarti mencerabut cara hidup yang lama dan mengancam pekerjaan dan kebudayaan mereka: setidaknya bagi manusia gelombang ke-1.
Kemajuan-kemajuan dalam bidang komunikasi dan teknologi transportasi dikombinasikan dengan ideologi pasar bebas, misalnya, telah menghasilan peralatan, jasa, dan pergerakan modal yang tak terbendung. Negara-negara Maju ingin membuka pasar dunia bagi produk-produk mereka dan mengambil manfaat dari berlimpahnya tenaga kerja murah di negara-negara berkembang. Mereka menggunakan pendanaan internasional dan kesepakatan-kesepakatan regional untuk mendorong negara-negara miskin bersatu menurunkan tarif, privatisasi badan usaha milik negara, dan melonggarkan standar-standar lingkungan dan tenaga kerja. Hasilnya, investor mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan—sebaliknya—para buruh mendapatkan tekanan-tekanan hebat dalam hidup mereka.
Namun, seharusnya, keadaan seperti ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi untuk ditakutkan, karena keadaan dunia (baca: negara-negara maju) sudah tak semaju dulu lagi. Dari resesi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa, bangkrutnya banyak perusahaan Multinasional seperti perusahaan perusahaan keuangan Lehman Brothers, perusahaan mobil Chrysler, sampai perusahaan raksasa General Motors. Ini mendandai dimulainya era baru, era kemajuan negara-negara yang mempunyai sumber-daya alam yang melimpah seperti Indonesia.
Bahkan, Negara seperti Dubai pun, yang begitu gencar melakukan pembangunan fisik di negaranya, sehingga negara di kawasan Teluk ini dari luar terlihat begitu gemerlap dan menjadi daya tarik yang luar biasa, kini harus menanggung malu akibat krisis utang yang dialami Group Dubai World. Dubai World tidak bisa memenuhi jadwal pembayaran utangnya sehingga meminta penundaan pembayaran utangnya sebesar 59 milyar dollar selama enam bulan.
Bukan cuma itu, perusahaan ini juga mengumumkan akan melakukan reorganisasi bahkan sampai pada tingkat akuisisi. Pengumuman ini berdampak dahsyat bagi perekonomian dunia yang sedang dalam proses pemulihan dari krisis keuangan global. Bursa saham dunia dan bursa valuta asing terguncang, harga minyak mentah berjangka dan harga emas berjangka berturut-turut menurun tajam dan kepanikan melanda para investor. Total utang Dubai dipekirakan mencapai 88 milyar dollar. Krisis utang negara itu memicu kekhawatiran akan terjadi krisis keuangan global babak kedua, setelah krisis keuangan global yang dipicu oleh kebangkrutan institusi keuangan Lehman Brothers, salah satu perusahaan keuangan raksasa di AS.
Di sisi lain, Bank Dunia (3/12) melaporkan bahwa krisis keuangan global dapat mendorong 11 juta orang kedalam kemiskinan dan 23 juta lainnya ke tepi jurang kemiskinan di Eropa timur dan Asia tengah pada tahun 2010. Studi ini mengungkapkan bagaimana keluarga-keluarga menghadapi efek krisis serta menujukkan bahwa mereka terimpit suku bunga kredit yang mencekik, harga yang meningkat, dan angka pengangguran yang bertambah.
Pada krisis sebelumnya, keluarga-keluarga masih dapat mencari pekerjaan tambahan di luar negeri. Namun tidak kali ini. Bank Dunia mengatakan, lebih dari 20 persen keluarga yang memiliki hipotek dan sejumlah utang lain di Lithuania, Estonia, dan Hongaria dapat berada dalam posisi gagal bayar atas utang-utang mereka. Ditambah lagi, meski harga minyak global sudah turun, namun harga-harga belum pernah kembali ke level sebelumnya.

Globalisasi Investasi
Itulah kenyataan global yang mesti kita lihat bersama yang tak mungkin terelakkan. Tapi, apa mungkin kenyataan ini lalu memundurkan langkah untuk maju? Dalam konteks Indonesia, krisis global yang terjadi semakin mengancam negeri ini, karena selama ini pilihan ekonomi bangsa ini hanya mengikuti ideologi ekonomi dunia yang rentan krisis. Dana stimulus pemerintah, hanya 10 persen yang dianggarkan bagi sektor riil, selebihnya diperuntukkan bagi penyelamatan di sektor finansial yang justru menjadi sumber krisis ekonomi dunia.
Kekayaan alam Indonesia telah dikuasai oleh sekelompok kecil korporasi dan kelompok pemodal yang dekat dengan kekuasaan dalam melahirkan kebijakan-kebijakan negara yang hanya menguntungkan kelompoknya dan secara massive meminggirkan hak-hak rakyat.
Ini semua bukan saja merupakan dampak buruk dari krisis keuangan global yang melanda negara ini, tapi—lebih-lebih—juga merupakan pelajaran penting bagi kita untuk mengoreksi sistem restrukturisasi dan privatisasi BUMN kita. Penjualan asset negara sama artinya dengan melanjutkan penyebab resesi dunia agar terjadi resesi (lokal) berikutnya. 85 persen sumber minyak bumi dan gas alam kita telah dikuasai oleh korporasi asing, akankah kita melanjutkan kebijakan yang aneh ini? Menjual asset-asset negara hanya untuk menutupi defisit APBN? Ini sama saja dengan—maaf bukan berarti meremehkan—logika orang kecanduan obat bius: jika tak ada uang untuk membeli obat-obatan terlarang, yang dipikir ya tidak lain hanya menjual apa saja yang dapat dijadikan uang. Pemikiran seperti ini sama saja dengan menghina diri sendiri; mengumumkan bahwa kita adalah bangsa bodoh, bangsa yang pengetahuan bisnisnya hanya menjual asset.
Kembali pada isu globalisasi. Bukankah term globalisasi telah mengajarkan kepada kita bahwa kita semua harus mengglobalkan visi dan perspektif kita? Bahwa apa yang terjadi di dunia (global) tidak hanya ressesi, tapi juga pintu keluar dari ressesi itu. Di dunia ini ada banyak negara yang dengan cerdasnya menyikapi masalah kekurangan dana dalam rangka membangun negaranya. Bagaimana caranya? Dengan cara menjual asset-asset produktifnya? Ternyat jawabannya tidak.
Pemerintah Inggris, misalnya, dengan bangga mengembangkan web http://www.parthershipsUK.com dengan motto Delivering Investment through Public-Private Partnership. Apa maksud dari motto ini? Maksudnya adalah bahwa Inggris membangun seluruh fasilitas negara melalui program public-private-partnership (kerjasama pemerintah-swasta). Kerjasama ini ditujukan untuk membangun fasilitas negara seperti fasilitas komersialisasi, pertahanan, pendidikan, lingkungan dan sampah, perumahan, informasi, teknologidan lain sebagainya.
Perdana Menteri Inggris pada waktu itu, Tony Blair, cenderung kepada kerjasama pemerintah-swasta ini kaarena dia percaya bahwa inilah cara terbaik untuk mengamankan pembangunan fasilitas negara yang juga dapat menciptakan lapangan kerja. Dia percaya bahwa perusahaan swasta seringkali lebih baik dan lebih effisien dalam membangun dan mengoperasionalkan fasilitas negara daripada birokrat. Dia juga percaya bahwa dengan cara inilah pemerintah dapat berharap terjadinya alih manajerial skill dan keuntungan financial yang pada gilirannya akan meningkatkan nilai tambah bagi para pembayar pajak.
Di Inggris dan di banyak negara, PPP seringkali dipakai sebagai kendaraan bagi perbaikan jasa dan menciptakan, bukan saja effisiensi tetapi juga penciptaan hasil yang baik bagi negara. PPP sering dipakai untuk mengembangkan pada sektor industri seperti: transportasi (jalan, kereta api, dan bandara), listrik, gas, pengairan, saluran air. telekomunikasi perumahan, akomodasi dan sebagainya.
Di bawah ini adalah daftar negara-negara yang telah mengadopsi PPP dalam berbagai jenisnya, seperti BOT, BTO, joint venture, dan seterusnya yang berbentuk kurva.

Inilah yang dinamakan sebagai globalisasi investasi. Maksudnya adalah pandangan yang mengglobal tentang tata-cara penanganan fasilitas negara, termasuk BUMN: sebagaimana pengertian PPP adalah an agreement or contract, between a public entity and a private party, under which : (a) private party undertakes government function for specified period of time, (b) the private party receives compensation for performing the function, directly or indirectly, (c) the private party is liable for the risks arising from performing the function and, (d) the public facilities, land or other resources may be transferred or made available to the private party. (Praptono Djunedi)
Dasar praktik ini adalah sebuah pemikiran bahwa pihak swasta dalam banyak hal lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan pihak pemerintah. Pandangan ini juga dapat kita klaim sebagai pandangan yang mengglobal, karena ini terucap menanggapi kenyataan yang ada secara global. Inilah yang pernah diucapkan oleh Tony Blair bahwa PPP adalah kendaraan yang baik untuk mentransfer effisiensi korporasi swasta kedalam tubuh pemerintah atau badan-badan usaha milik pemerintah.
Di banyak negara, dana Pembangunan Internasional semakin diakses melalui program PPP. Sukses PPP di banyak negara telah diketahui oleh banyak institusi internasional. Banyak negara sekarang berusaha mendapatkan pendanaan seperti Bank Dunia, the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan the European Investment Bank (EIB). Porsi pendanaan dari organisasi-organisasi ini lebih cenderung menjadi PPP yang berbasis pembangunan infrastruktur, seperti transportasi, pengairan dan telekomunikasi. OECD malahan telah membuat seperangkat prinsip bagi partisipasi sektor privatisasi dalam infrastruktur yang menawarkan assistensi kepada otoritas pemerintah (BUMN) dalam membuat partnership yang menjawab kebutuhan akan investasi telekomunikasi, transmisi dan distribusi kelistrikan. Irlandia, Spanyol dan banyak negara Eropa juga menggunankan pinjaman dari the European Commission dan European Bank for Re-Construction and Development (EBRD) untuk mendanai proyek-proyek mereka.
Salah satu contoh negara yang sukses melaksanakan PPP adalah Korea Selatan. Korsel telah berhasil meningkatkan fasilitas infrastruktur seperti perkeretaapian, pelabuhan laut, komunikasi, sumber daya air, energi, lingkungan, logistik, bandar udara, kebudayaaan dan pariwisata, akomodasi militer, fasilitas pendidikan, kehutanan, perumahan rakyat, dan fasilitas kesejahteraan. Dengan partisipasi swasta yang semakin baik. Peran swasta dalam program kemitraan penyediaan infrastruktur meningkat dari tahun ke tahun.
Dari beberapa skema implementasi PPP, Korsel kerap menggunakan 2 (dua) skema, yaitu skema BTO (Build-Transfer-Operate) dan BTL (Build-Transfer-Lease). Dengan menggunakan skema BTO, sektor-sektor infrastruktur yang telah dikerjakan oleh swasta per Juni 2007 adalah infrastruktur jalan (32,1%), pelabuhan (30,2%), logistik (20,7%), perkeretaapian (11,3%), dan lingkungan (5,7%). Dalam skema BTL, swasta lebih tertarik pada sekolah (63,4%), lingkungan (26,6%), budaya (5,0%), asrama militer (2,9%), sektor perkeretaapian (1,4%), dan balai latihan kerja (0,7%).
PPP Bagi BUMN
Selaku badan usaha milik negara, BUMN memainkan perannya sebagai asset negara yang harus memberikan sumbangsih keuntungannya untuk APBN dan penyerapan tenaga kerja, seperti yang diterangkan dalam bab-bab sebelumnya. Agar dapat mencetak laba, yang sebesar-besarnya untuk kepentingan negara dan rakyat, BUMN harus bekerja secara effisien dan tidak ketinggalan tren. Salah-satu cara terbaik agar selalu survive dan—terlebih menang dalam persaingan usaha (business competition) adalah agar BUMN berpikir global. Karena berperspektif dan berpikir global, BUMN dapat—setidaknya—menyerap tren investasi dunia yang baik, tentunya, untuk diterapkan dalam strategi perusahaannya.
Setidaknya inilah yang disebut oleh Aristoteles sebagai mimesis as the perfection and imitation of nature, peniruan bagi demi kesempurnaan dengan penyempurnaan. Malahan, seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, konon, produktifitas perusahaan Jepang, kecuali Sony, Canon dan Sega, hampir semuanya adalah hasil dari meniru dan mengemulasi (mencontek dengan perbaikan-perbaikan). (Porter, 1998: 43-44) Menurut Porter, perusahaan Jepang rata-rata adalah perusahaan yang hanya memiliki efektivitas kerja tanpa menerapkan grand strategy tertentu, tapi menurut penulis justru `inilah grand strategy mereka, mimesis.
Jika keadaan produktifitas dan efisiensi BUMN seperti sekarang ini, maka mengikuti tren global yang terbukti sukses adalah salah satu pilihan terbaik yang seyogyanya dilakukan oleh BUMN. Pada alinea-alinea pertama di atas telah dijelaskan tentang begitu suksesnya konsep investasi PPP yang diterapkan oleh banyak negara maju. Konsep ini jika digambarkan akan seperti ini prosesnya:

Sumber: Praptono Djunedi

Dalam Perpres No. 67 tahun 2005 dinyatakan bahwa pelaksanaan PPP dilakukan diantaranya berdasarkan prinsip adil, terbuka, transparan, dan bersaing mencukupi kebutuhan pendanaaan secara berkelanjutan melalui pengerahan dana swasta; meningkatkan kuantitas, kualitas dan efisiensi pelayanan melalui persaingan sehat; meningkatkan kualitas pengelolaan dan pemeliharaan dalam penyediaan infrastruktur serta mendorong dipakainya prinsip pengguna membayar pelayanan yang diterima, atau dalam hal tertentu mempertimbangkan daya beli pengguna.
Pengadaan yang transparan dan berbasis persaingan ini akan menciptakan manfaat antara lain:
– Terjaminnya mendapatkan harga pasar yang terendah dengan kualitas terbaik;
– Terjaminnya keterbapakaian (operetable) fasilitas pemerintah;
– Mendorong kesanggupan lembaga keuangan untuk menyediakan pembiayaan tanpa sovereign guarantees;
– Mengurangi risiko kegagalan proyek;
– Dapat membantu tertariknya bidders yang sangat berpengalaman dan berkualitas tinggi;
– Mencegah aparat pemerintah dari praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Term privatisasi, semenjak menjadi kontroversi secara politis saat diperkenalkannya pada tahun 1980an oleh Margaret Thatcher, diperkenalkan dengan istilah public-private partnership yang disingkat PPP atau PSP (public sector participation). PPP atau PSP dimaksudkan untuk membentuk keterlibatan pihak swasta pada proses pembagunan. Term lain yang semakna dengan privatisasi adalah konsesi, yaitu dimana pemerintah memberikan hak kepada pihak swasta untuk menggunankan hak monopoli dengan menarik investasi dengan risiko ditanggung pihak swasta sendiri (à ses risques et perisl). Istilah lain yang semakna dengan privatisasi adalah PFI (private finance initiative) dan BOT (build operate transfer). (David Hall, Robin de la Motte, Steve Davies, 2003) Oleh karena itu, maka bentuk privatisasi atau PPP atau PSP bisa begitu banyak, termasuk BOT, joint ventures, dan joint operations.
Inilah yang disebut sebagai cara pandang global. Di banyak negara, seperti yang telah digambarkan pada kurva di atas, maka negara-negara semacam Inggris, Jerman, Irlandia, Amerika Serikat dan lain-lain, adalah negara-negara yang sukses memanfaatkan PPP sebagai kendaraan untuk membangun sebesar-besarnya untuk kepentingan negara. Ini juga yang disebut sebagai globalisasi privatisasi: cara investasi global yang terbukti sukses di banyak negara selama bertahun-tahun. Negara tidak menjual assetnya dengan harga murah, tidak juga ngoyo melakukan sesuatu yang sulit diwujudkan dengan tangan mereka sendiri.
Akhirnya, judul globalisasi ini menjadi judul terakhir di buku ini; berharap agar kata globalisasi ini menjadi kata pengingat buat kita semua bahwa globalisasi adalah fakta yang tak mungkin terelakkan oleh siapa pun termasuk kita. Mengasingkan diri dari kenyataan global adalah tindakan kerdil. Menutup mata atas apa yang terjadi secara global adalah tindakan bodoh, sebagaimana mengingkari kenyataan global adalah kejanggalan yang perlu dipertanyakan. PPP adalah jenis privatisasi yang selama ini terbukti ampuh diterapkan oleh negara-negara global. Maka, berbesarhatilah kita semua melihat kenyataan ini.

One thought on “GLOBALISASI INVESTASI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s