Euforia Atau Nasionalisme?

Euforia berasal dari kata Euphoria, yang umumnya dianggap sebagai keadaan fisik dan psikologis yang berlebihan, kadang-kadang disebabkan oleh penggunaan obat psikoaktif dan bisa juga dicapai dalam keadaan normal. Namun, beberapa perilaku alamiah, seperti kegiatan yang mengakibatkan orgasme atau kemenangan seorang atlet, dapat mendorong negara singkat euforia ini. -lihat naskah lanjutannya>

Advertisements

Bangsa Mayoritas Islam tapi tak Ber-Islam

Kita ini seperti sampah yang dibuang di tengah-tengah peradaban. Sementara manusia-manusia meraih mimpi dan prestasi, kita di Indonesia dipaksa hidup berhimpitan dengan kemiskinan, kebodohan, pembodohan.

Setiap denyut nadi kita menyuarakan harapan-harapan: yang masih miskin berharap menjadi lebih baik, tapi dengan menjadi tukang becak, buruh tani, tukang cuci, pemulung, penjual nasi uduk dadakan, dari mana mereka mampu membiayai makan keluarga apalagi pendidikan? Atau menjadi pembantu rumah tangga dan TKI, harapan macam apa yang akan mereka rajut? Untuk mereka harapan itu jelas nonsense; -lihat naskah lanjutannya>

SAATNYA MEMPUNYAI TIMNAS YANG KUAT

Wen Jiabao pernah berujar, no strong country without universal education. Negara manapun tak akan pernah kuat tanpa pendidikan universal.

Wen berpendapat, pendidikan universal adalah yang fokus pada reformasi pendidikan-maju (advance education), meningkatkan keseimbangan perkembangan pendidikan wajib, memperkuat pendidikan kejuruan, reformasi sistim admisi dan pembelajaran yang lebih tinggi serta memperbaiki kualitas para guru. -lihat naskah lanjutannya>

TIMNAS YANG LUGU VS. PSSI YANG KROPOS

IRFAN, seorang pemirsa TVOne dan supporter kesebelasan Indonesia menyatakan bahwa Tim Indonesia kalah karena mementingkan otot daripada otak. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, karena kita tahu bahwa tim Indonesia tidak terkalahkan di piala AFF ini, setidaknya sebelum melawan Malaysia di Final leg I. Namun, di atas semua kesalahan non-teknis yang menyebabkan kesalahan teknis dan kekalahan telak 3-0, memang pada kenyataannya bahwa mental pemainlah yang selalu melahirkan kekalahan tim Indonesia. -lihat naskah lanjutannya>

GLOBALISASI INVESTASI

Manusia selama berabad-abad telah membangun hubungan yang lebih dekat secara progressive, bahkan sekarang, proses terbangunnya hubungan itu semakin meningkat secara dramatis. Pesawat super cepat, layanan telepon murah, email, internet, kapal pesiar mewah antar benua, arus modal yang instan, semua ini telah membuat dunia semakin saling ketergantungan dari sebelum-sebelumnya. -lihat naskah lanjutannya>

SKEMA BUILD OPERATE TRANSFER

Akhir-akhir ini, memang, tren investasi swasta bagi proyek-proyek negara swasta semakin marak. Alasan utama trend ini adalah pemerintah, BUMN kekurangan dana pemerintah dan pendekatan yang dinamakan sebagai handsoff approach dari pemerintah. Build Operate Transfer (BOT) adalah pilihan bagi pemerintah untuk melakukan outsourcing proyek-proyek pemerintah ke sektor swasta. Tapi, seperti yang akan dijelaskan nanti, alasan kekurangan dana, walaupun sebagai alasan utama, tetap bukan merupakan satu-satunya alasan. Alasan lain bisa saja adalah proses pembangunan sebuah usaha/fasilitas yang layak operasi dan profitable yang hanya bisa dilaksanakan oleh pihak swasta yang kompeten di bidangnya. Ini dinamakan sebagai proyek yang profitable dengan risiko yang nyaris nol. -lihat naskah lanjutannya>

PUBLIC-PRIVATE PARTNERSHIPS

Akhir-akhir ini, di Indonesia, Pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan kerjasama dalam bentuk Public-Private Partnership (PPP). Apakah PPP itu? David Hall, Robin de la Motte dan Steve Davies dalam Terminology of Public-Private Partnerships (PPP), menulis bahwa terminologi PPP digunakan untuk menggambarkan keterlibatan sektor swasta dalam proyek-proyek pemerintah yang semakin lama bukannya semakin mudah.

Pada tahun 1980-an pemerintahan Thatcher di Inggris memulai strategi politik untuk merestrukturisasi sektor swasta, dimana privatisasi kala itu dipandang sebagai perkembagan radikal yang positif. Term privatisasi dahulu dipakai untuk menamai semua bentuk keterlibatan swasta, dari penjualan industri-industri nasional sampai pensubkontrakan atau outsourcing fungsi-fungsi tertentu dalam pemerintahan. Term privatisasi sendiri kemudian menjadi hal yang kontroversial, bahkan di Inggris sendiri. Lalu, kemudian—untuk meredam kontroversi—dikenalkanlah term lain pengganti privatisasi, yaitu Public-private partnership (PPP). -lihat naskah lanjutannya>

SEKILAS KINERJA BUMN

Budaya Perusahaan
Membahas kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mau tak mau kita mesti membahas soal etos kerja bangsa Indonesia. Karena, jangankan Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Swasta pun akan sangat dipengaruhi oleh perilaku, kualitas, dan karakter bangsa secara keseluruhan. Kenapa? Karena merekalah stakeholder terbesar bagi badan-badan usaha.

Hermawan Kartajaya dalam Siasat: Antisipasi Dinamika Bisnis, Globalisasi Tribes, menulis bahwa era pasca-perang dingin menempatkan etnis dan ras dalam posisi lebih penting ketimbang negara. Kalau batas-batas negara makin lenyap secara ekonomi, maka suku bangsa yang berasal dari etnis dan ras yang sama akan lebih mudah berhubungan satu sama lain, tanpa terhalangi oleh kewarganegaraan masing-masing. Maka yang terpenting menurut Warren Keegan adalah tempat sumber dari segala macam bahan mentah termasuk sumber daya manusia dan pasar tempat sebuah produk atau jasa global dikembangkan dan dijual. (Hermawan Kartajaya, 1996:51) -lihat naskah lanjutannya>