ANAKKU AUTIS ATAU INDIGOKAH KAU?


Selama bersekolah di TKAI (Taman Kreativitas Anak Indonesia), anak saya, Mohammad Jevera Lateef (dipanggil J) begitu gembira. Hari-hari bersekolah di sana tampak begitu menyenangkan bagi kehidupannya, walaupun—seperti yang akan dijelaskan pada pembahasan nanti—anak-anak seperti J ini mestinya sangat susah untuk menyenangi tempat seperti sekolah.

Dahulu, sebelum bersekolah di TKAI—di tingkat Taman Kanak-Kanak A—J begitu sulit tidur, baik pada siang maupun malam hari. Bagi J, tidur jam 02.00 sudah biasa baginya, padahal siang harinya dia tidak tidur sama sekali. Bahkan, tidak jarang pula J tidur malam jam 04.00 dini hari. Tetapi, setelah beraktivitas di Taman Kanak-Kanak A, J tidurnya mulai teratur, yaitu antara jam 21.00 dan jam 21.30 wib.

Sebagai anak yang diidentifikasi mengidap autis PDD NOS (Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified) J memang sering menunjukkan perilaku autistic: tidak bisa tenang, sering berteriak, mempunyai rasa khawatir yang berlebihan, “anti sosial”, gerakan badan yang tidak seimbang, refleks yang jelek, dan seterusnya. Tetapi, belakangan saya menemukan fakta-fakta yang lain, dan saya menjadi tercengang-cengang dibuatnya. Fakta-fakta inilah yang membuat saya berkesimpulan, bahwa tak semua anak yang kelihatannnya anti sosial, susah diatur, mempunyai kekhawatiran yang berlebihan adalah autistic atau—untuk tidak menyebut anak ini tidak perlu penanganan medis—tidak perlu terlalu dikhawatirkan sebagai anak autis yang harus menjalani pengobatan yang ketat.

Ciri-Ciri Fisik

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya begitu tercengang membandingkan cirri-ciri fisik anak saya, J, dengan ciri-ciri anak Indigo. Hanya sedikit saja dari ciri-ciri fisik anak Indigo itu terlewat dari anak saya, yaitu lebih pada kemampuan motorik.

Pada banyak referensi, saya dapat menyimpulkan cirri-ciri anak Indigo sebagai berikut:

1. Anak Indigo terlahir dengan jiwa yang tua, atau tingkat kedewasaan dini pada usia masih anak-anak.
2. Anak Indigo mengalami perkembangan jiwa yang luar biasa sejak usia bayi, seperti kemampuan berpikir analitik dalam memahami fungsi benda-benda, menilai karakter orang dewasa, mengungkapkan maksud hatinya kepada orang di sekitarnya, dan lain sebagainya. Mereka juga mengalami pertumbuhan fisik seperti gigi yang muncul lebih cepat, atau kemampuan motorik seperti berjalan dan berbicara yang lebih dulu dari bayi pada umumnya.
3. Ciri yang khas adalah bentuk kepala yang sedikit agak lebih besar dari bayi atau anak-anak pada umumnya, terutama pada bagian lingkar kepala, dan dahi serta kening yang lebih lebar. Kuantitas otak anak Indigo biasanya lebih besar disebabkan penggunaannya relatif lebih sering sejak usia dini tadi. Mereka berpikir dan menganalisa setiap apa yang dilihat, didengar atau dirasakannya. Pelebaran pada lingkar kepala menunjukkan penggunaan kemampuan telepati, pada kening adalah analitik, sedangkan dahi adalah visualisasi dan imajinasi citra-citra supranatural.
4. Bentuk daun telinga pun mempunyai bentuk yang sedikit lebih keluar dari kepala, memanjang pada bagian ujung atas, dan agak menekuk ke atas pada bagian cuping bawah. Lebih kuatnya “insting reptil” merupakan sebab kemunculan ciri binatang yang tergambar pada bentuk daun telinga ini.
5. Begitu juga dengan mata, terutama tatapan mata yang sangat tajam dan dalam, dengan bagian pupil atau orang-orangan mata yang lebih besar, sehingga tampak hanya tersisa sedikit ruang untuk warna putih mata.
Pandangan mata anak Indigo bertolak belakang dengan pandangan mata anak autis. Kalau anak autis tidak bisa menatap mata orang lain, atau tidak bisa berkonsentrasi pada satu titik dalam waktu yang lama, sedangkan anak Indigo sebaliknya, mereka dengan berani menatap–sambil menganalisa karakter–orang dewasa di depan mereka, dan tingkat konsentrasinya terhadap sesuatu sangat tinggi untuk ukuran mereka.

Sedangkan orang-orangan mata yang lebih besar menunjukkan kemampuan melihat makhluk gaib dan hal-hal yang tersembunyi lainnya dari dimensi-dimensi lain.
6. Susunan gigi-geligi mereka biasanya terlihat rapi dan bagus, dan terasa sangat tajam apabila anda merasakan gigitannya. Pada usia bayi ketika mulai tumbuh satu dua gigi, mereka cenderung melakukan kegiatan gigit-menggigit yang lebih sering dan intensif.
7. Ada semacam tanda aneh yang mungkin ditemukan pada saat kelahirannya–dan mungkin terbawa sampai usia beberapa tahun. Tanda itu terdapat di dahi, di antara kedua mata, sedikit agak di atasnya. Tanda yang pada sebagian anak Indigo terlihat cukup jelas seperti bekas pukulan yang membekas dalam dengan warna agak gelap samar. Tanda ini seperti “mata ketiga” yang menampakkan dirinya secara fisik.

Nah, semua ciri-ciri anak Indigo di atas dipunyai oleh anak saya, J. bahkan, pada ciri-ciri ke 7 J sering menampakkan tanda-tanda aneh, yaitu sinar putih di kening saat hendak tidur malam—tanda-tanda ini tidak dilihat oleh isteri saya tapi baru oleh saya. Baiklah, tanpa memperpanjang cerita kesesuaian ciri-ciri di atas dengan ciri-ciri anak saya, J, saya akan melanjutkan bacaan saya tentang ciri-ciri anak Indigo.

Perilaku Indigo Mirip Perilaku Autistic

Tahukah Anda? Ada satu hal yang mungkin—untuk tidak mengatakan pasti—dialami oleh orang-tua anak-anak yang diklaim autistic adalah merasa kikuk dengan tingkah anak-anaknya yang terlalu energik, tidak bisa tenang, tak mudah bergaul dengan teman-temannya (orang bilang antisosial), tak tahu malu, dan seterusnya. Pertanyaannya, apakah perilaku “antisosial”, energic, tak bisa tenang, suka semaunya sendiri adalah pasti perilaku autistic?
Dalam website: http://www.copperwiki.org Tober dan Carroll menyatakan bahwa anak-anak indigo memiliki rasa harga diri yang kuat-mereka dilahirkan dengan perasaan bahwa mereka orang-orang mewah dan pantas mendapatkan tempat mereka di bumi. Mereka akan merasa terkejut ketika orang lain tidak berbagi sudut pandang dengan mereka. Mereka sangat membenci mutlak otoritas tak terbantahkan. Sebagai orang yang kreatif, cerdas/autoritatif, sistem dan ritual hanya akan membuat mereka frustrasi. Mereka mungkin memiliki cara yang lebih baik melakukan sesuatu daripada yang ditentukan; sehingga, mereka mungkin tampak tidak sesuai dan pemberontak kepada banyak hal.

Lebih lanjut, Tober dan Carroll menyatakan bahwa anak-anak indigo biasanya merasa asing dalam situasi sosial, terutama jika mereka tidak dengan anak-anak indigo lain. Lebih sering, sekolah adalah tempat yang sulit bagi mereka-tidak untuk belajar, juga untuk lingkungan sosial dimana mereka merasa tidak pada tempatnya. Anak-anak ini sangat individualistis, energik, tanpa kompromi dan percaya diri.

Jika Anda dapat mengidentifikasi anak Anda sebagai anak indigo, Anda perlu menyadari hal-hal tertentu. Pertama dan terutama, tidak memperlakukannya berbeda dengan anak-anak lain. Mendorong mereka, tetapi jangan biarkan mereka berpikir bahwa mereka lebih unggul atau lebih baik daripada yang lain dengan cara apapun. Kedua, pola energi anak-anak indigo dapat dilihat oleh beberapa orang sebagai gejala Attention Deficit Disorder Hyperactive (ADHD), tetapi sebagai orangtua, Anda dianjurkan untuk melihat ini sebagai hal yang positif daripada negatif. Mereka mungkin tidak membutuhkan bantuan medis tetapi hanya dukungan Anda.

Pada kasus J, ciri-ciri tersebut adalah sama dengan ciri-cirinya atau dalam bahasa gaul “Itu J bangett”, dimana hari-harinya adalah hari-hari yang energic, ramai, membuat pusing kami sebagai orang tua, dan seterus-nya dan seterusnya. Tapi, pada akhirnya, ketika mengetahui ini semua, yang ada hanyalah rasa syukur yang tak habisnya kepada Allah SWT karena telah diberikan anak yang luar biasa. Alhamdulillah.

Apa kata orang-orang Skeptis?

Apakah konsep ‘anak-anak indigo’ pseudosains? Dalam ketiadaan bukti yang substansial, ada banyak di antara ilmiah maupun non-komunitas ilmiah yang percaya demikian. Mereka berpandangan bahwa lebih banyak anak-anak yang dicap sebagai indigos sebenarnya bisa menunjukkan tanda-tanda ADHD, Asperger’s Syndrome, dan masalah perilaku lain yang memerlukan perhatian medis. Dengan menyebut mereka ‘khusus’ dan ‘berbakat’, orang tua dan pendidik yang hanya berusaha untuk menghindari alasan medis sebenarnya untuk anak-anak mereka sebenarnya perilaku dan berpotensi membantu menunda pengobatan. Di sisi lain, alih-alih ‘khusus’, anak-anak ini hanya bisa menjadi egois, antisosial dan sombong.

Pada akhirnya, itu tetap terserah pada Anda untuk percaya pada konsep atau memperlakukannya dengan ketidakpedulian. Anda dapat menghubungkannya dengan evolusi atau perubahan sosial, atau menyangkal keberadaannya sama sekali. Mungkin salah satu hanya dapat mengatakan bahwa anak-anak sekarang berbeda dari orang-orang dahulu kala, dan berhenti di situ sampai ditemukan bukti yang meyakinkan.

Hanya orang-tua yang intens dengan anak-anaknya—termasuk yang autistic—yang mengetahui apakah ciri-ciri di atas terdapat pada anak-anaknya. Dan hanya intensitas yang tinggi yang mampu memastikannya. Dahulu, kami hanya mengetahui kekurangan (jika tak mau mengatakan kenakalan) J, tanpa tau kelebihan-kelebihannya. Setelah kami (saya dan istri) secara intens menanganinya, J adalah buah hati yang sangat manis. Umur 3,5 tahun dia bisa membaca sendiri tanpa diajari, dan di waktu yang bersamaan kami menemukan bahwa feeling bermusiknya bagaikan berlian yang telah di-cutting begitu indah dan berkilauan–saat itu J memainkan lagu fur ellis tanpa guru. Sekarang, J bisa memainkan lagu apa saja yang dia mau mainkan tanpa harus diajari dengan irama yang (menurut guru musiknya sekarang) sangat benar. J juga mempunyai pengertian yang lebih cepat dari anak-anak normal lainnya. Hobby-nya membaca membuatnya mengetahui banyak hal. Jadi, kami sebagai orang tua, sering juga tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Jadi, kesimpulannya, bisa jadi anak-anak yang autistic adalah anak-anak indigo, yaitu anak-anak yang mengalami ketakseimbangan pada struktur tubuh atau alergi pada makanan-makanan tertentu seperti makanan yang mengandung glutten dan seterusnya. Tapi, sangat bisa jadi anak-anak yang hanya Indigo tapi diklaim sebagai ANAK YANG NAKAL, TAK BISA DIATUR, TIDAK PEDE dan seterusnya. Tapi, bagaimanapun keadaan mereka, mereka adalah berlian-berlian kita. Karena hal-hal yang tidak nampak belum tentu tidak ada. []

7 thoughts on “ANAKKU AUTIS ATAU INDIGOKAH KAU?

  1. Pak Mustafeet, terima kasih untuk sharing pengalaman nya soal autisme. Putri tunggal saya 2 thn 2 bulan didiagnosa PDD-NOS. Baru mau mulai terapi SI. Boleh minta info dimana J terapi ? atau info ttg terapis-nya ? sekali lagi terima kasih ..salam buat J🙂

  2. Thanks untuk semangatnya pak,,,,putra saya 3th 8bln juga di diagnosa pdd-nos dan hyperaktif,,sdh terapy dri usia 2th 8bln,,sampai sekarang juga blm bisa bicara,,,boleh minta infonya pak J therapi dimana??
    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s