NEGARAKU SARANG PARA KORUPTOR


Negara ini tidak saja kaya dengan potensi bencana alam, dari gempa sampai banjir, yang kalau perspektif Islam mengatakan disebakan oleh tindakan dhalim manusia baik kepada Allah, sesama manusia dan lingkungan, tapi juga kaya dengan bencana sosial disebabkan oleh kejahatan sosial yang dilakukan oleh baik masyarakat maupun—terutama—oleh pemerintah yang terdiri dari lembaga eksekutif, legislative, kepolisian, bahkan sampai aparat kelurahan sekalipun.

Tak terbayang sebelumnya begitu mudahnya seorang anggota masyarakat biasa mengatur aparat penegak hukum untuk menentukan kebenaran dan kesalahan. Juga tak bisa dilogikakan oleh otak orang waras tindakan negara yang membiarkan ribuan nasabah Bank Century kehilangan uangnya oleh tindakan manajemennya, sementara ada aparat kepolisian yang tanpa malu-malu mengutarakan bahwa dia harus menolong nasabah di Bank Century itu karena alasan besarnya dana yang diinvestasikan di bank tersebut. Tak kalah bedebahnya adalah pernyataan anggota Komisi III DPR RI Nudirman Munir yang tidak dibantah oleh Jaksa Agung bahwa di Kejaksaan ada semacam target jumlah kasus yang diwajibkan kepada anggotanya per harinya. Carut-marut ini begitu memukul perasaan keadilan masyarakat yang sejak bertahun-tahun memang didera oleh ketidakadilan yang berakibat pada kemiskinan turun-temurun, kebodohan, kehilangan hak sekolah, hak sehat, dan seterusnya. Pertanyannya, berapa banyak kasus-kasus brutal seperti ini yang masih tersimpan dan belum terkuak di negeri ini? Berapa banyak kebobrokan yang masih dapat disimpan rapih oleh Pemerintah?

Belum lama ini, ketua TIM 8 bentukan Presiden Adnan Buyung Nasution mengatakan dalam rangka menanggapi kesaksian Kombes Wiliardi Wizard yang memberatkan kepolisian, “Artinya perkara tidak diteruskan atau dihentikan demi kepentingan umum, yaitu maksudnya lebih banyak mudarat (jeleknya) daripada manfaatnya kalau diteruskan,” (Kompas, 12/09)

Saya bilang, wow, pernyataannya sungguh luar biasa. Sejak kapan keputusan hukum mempertimbangkan manfaat dan mudharat bagi masyarakat umum yang tidak mempunyai kaitan dengan kasus tertentu? Sejak kapan seorang maling ayam tak dipenjara demi mempertimbangkan kemaslahatan keluarganya yang membutuhkan si maling tersebut sebagai kepala rumah tangga? Sejak kapan negara menggagalkan penggusuran rumah-rumah “liar” demi memikirkan mudharat dan maslahah keluarga-keluarga yang tergusur itu? Sejak kapan negara menggagalkan penggusuran lapak-lapak yang berdiri di jalur hijau demi memikirkan kehidupan (kemaslahatan) keluarga para pedagang itu agar terhindar dari susahnya mencari pekerjaan (kemudharatan)?

Belum lagi ada sebuah forum yang menamakan dirinya sebagai Komunitas Masyarakat Anti Korupsi (KOMPAK). Saya kira keberadaan mereka sangat-sangat janggal. Mereka begitu memaksakan Chandra-Bibit mesti bebas. Padahal, mestinya, kalau mereka memang berdiri untuk membela pemberantasan korupsi (KPK), mestinya dibiarkan saja proses peradilan berlangsung sehingga terbukti siapa yang benar dan salah. Tidak perlu terlalu memaksakan bahwa Chandara-Bibit tidak bersalah. Perasaan keadilan saya berpikir, “Ada apa dengan mereka semua?”

Dan wow, lagi-lagi ketua TIM 8 berkata, ”Hal ini seharusnya dipahami juga oleh masyarakat. KPK juga bukan malaikat. Kita melihat ada keteledoran prosedur yang perlu kita klarifikasi juga. Di KPK juga sering ada kesalahan. Ini akan kita cek silang lebih dahulu.” (Kompas, 12/11/09).

Ya benar, KPK memang bukan malaikat, oleh karena itu bisa saja anggotanya melakukan kejahatan. Maka, menurut saya, bagi pihak-pihak yang memalaikatkan Chandra-Bibit, berhentilah membodohi masyarakat dengan mengajak mereka membela Chandra-Bibit seolah-olah mereka TIDAK MUNGKIN melakukan kesalahan. Karena sejak kasus suap Antasari Azhar terkuak—meskipun kasus pembunuhannya terhadap Nasrudin Zulkarnaen agak janggal, sudah mulai terlihat bahwa KPK pun tak luput dari kasus-kasus korupsi seperti yang terjadi pada DPR dan lembaga-lembaga lainnya. Dan tak dapat ditolak bahwa negara ini memang masih menjadi sarang para koruptor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s