Anakku Yang Autis, Anakku Yang Beruntung


Pertama kali mendengar bahwa anakku, Mohammad Jevera Lateef (lahir tahun 2005), autis aku dan isteri begitu panik. Hampir seluruh tempat therapy sudah kami datangi. Juga, tidak sedikit dokter ahli autisme atau psycholog yang kami kunjungi. Bahkan, kami pernah pergi ke Hypnotherapy dengan harapan bahwa dengan menghipnotisnya, kami dapat mengontrol prilaku tak biasa pada anak kami.

Dari kecil, memang, kami melihat ada yang tak biasa pada J (nama panggilan Jevera). Energi yang serasa tiada pernah habis, tidak pernah bisa diam, selalu membuat gaduh, susah dipeluk, serasa tidak merasa sakit kalau jatuh, suka berteriak-teriak tanpa sebab biasa, dan seterusnya. Tapi kami tidak menyangka bahwa itu adalah sedikit dari tanda autisme. Saat kami mendaftar ke TKAI (Taman Kreativitas Nak Indonesia binaan mbak Romi), kami baru mengetahui dari mbak Romi bahwa ada kemungkinan J mengidap autisme.

Dari sanalah kepanikan itu berawal. Isteriku yang awalnya seorang pekerja, mengundurkan diri dari pekerjaannya hanya untuk mengurus J. Aku yang biasa bekerja pagi, juga sebisa mungkin untuk dapat mengantar J sekolah dan melakukan therapy journey. Ya, aku namakan perjalanan terapi karena memang selama melakukan terapi kami tidak menemukan yang kami cari: perkembangan J kearah kesembuhan. Kebanyakan dokter mendiagnosa J mengidap PDD NOS (pervasive developmental disorder not otherwise specified), yaitu jenis autisme yang hanya berada pada spectrum autis, tapi belum pada taraf autisme yang berat. Seringan apapun, yang namanya autis ya autis, itu kata istri dan aku.

Kembali lagi ke tadi, kami tidak menemukan yang kami cari, yaitu perkembangan J kearah kesembuhan. Yang ada hanyalah spending more money, spending a lot of useless time, dan ya selain menambah kenalan orang tua yang sama-sama mempunyai anak autis, hehe. Tapi, akhirnya kami menemukan seorang terapis, namanya mbak Rini (aku lupa nama lengkapnya, yang tau itu isteriku). Dari dialah aku mengetahui sebenarnya bagaimana dan apa autisme (terutama PDD NOS) itu. Dia tidak lebih suatu penyakit yang mencederai keseimbangan anak (Sensory Integration). Jika gangguan keseimbangan ini dapat disembuhkan, maka sembuhlah si penderita autisme (terutama PDD NOS) ini. Begitulah kesimpulan yang kami dapat. Dan ya, betullah, setelah mengikuti terapi SI selama beberapa bulan, J terlihat perkembangannya. Dari yang awalnya tidak bisa menggoes sepeda, kini dia bisa menggoesnya. Dan dengan terapi gosok badan, J juga lebih tenang.

Sepengetahuan kami, anak yang mengidap autis itu arousal-nya tidak normal, bisa lebih tinggi (emosional) atau lebih rendah (kelemak-kelemek). Nah, pada J, dia cenderung pada high arousal atau emosional. Nah, setelah melakukan terapi gosok badan dengan menggunakan sikat khusus, kini dia lebih tenang.

Yang lebih menyenangkan lagi, kami menemukan bahwa autisme itu ujung-ujungnya system organ tubuh juga. Jadi, pada anak autisme biasanya ditemukan ada system organ tubuh yang tidak normal. Misalnya tulang tengkorak yang twisted, tulang punggung yang keluar, seperti yang terjadi pada J (biasanya orang normal tulang punggungnya kedalam), tangan yang tidak bisa memegang dengan sempurna karena ada tulang yang tidak proporsional, dan banyak lagi. Kebetulan, kami sedang mau mencoba terapi The Masgutova Method of Neuro-sensory-motor Reflex Integration – MNRI, yaitu pelatihan yang ditujukan untuk mengembalikan pertumbuhan saraf dan integrasi dari gerakan-gerakan utama, refleks, system koordinasi anggota tubuh, skill untuk memungsikan, mengembangkan dan melatih anggota tubuh secara optimal. Metode Masgutova ditujukan untuk menstimulasi model-model refleks yang berguna untuk membangunkan koherensi sensory motoric yang natural, sumber motori secara genetic, pengembalian secara mandiri kekuatan dari memory motoric. Latihan-latihan ini berguna untuk membangunkan potensi-potensi dengan kemampuan gerak dan skill yang dipelajari.

Andai tahu? Sebelum menjalani proses ini, kami menemukan sesuatu, bahwa pijatan-pijatan kecil yang diajarkan oleh terapisnya J, mbak Rini dari Liliput, sangat-sangat berguna bagi J. Saya sangat meyakini bahwa MNRI akan lebih berguna bagi kesembuhan J selanjutnya.

Inti dari tulisan ini adalah bukan pada proses yang kami jalani, tetapi bahwa yang terpenting bagi orang tua yang anaknya mengidap autisme adalah: 1. harus bersabar menghadapi tingkah anak yang tidak biasa itu; 2. jangan biarkan terbuai oleh terapi-terapi yang mendahulukan hal lain selain SI (sensory integration), karena hanya dengan SI (sebagai langkah awal, baru kemudian setelah SI bisa dilakukan okupasi dst); 3. stay away from giving our autism children drugs, karena hanya akan merusak otaknya.

Anda tahu kenapa saya memberikan judul anakku yang autis anakku yang beruntung? Tidak lain adalah karena otaknya yang luar biasa. Dia dapat mengenali karakter suara dengan sangat detail. Dengan kemampuannya ini maka kemampuan musikalitasnya begitu menakjubkan. Sekali mendengar sebuah lagu, maka dia dapat mengetahui kekurangan dari lagu tersebut atau kelebihannya. Dia sangat tidak suka lagu yang dinamikanya sangat rendah. Dia pun sudah mahir memainkan piano atau keyboard, minus chord (karena jari-jemarinya belum nyampek). Salah satu lagu kegemarannya adalah Fur Ellis tanpa ada yang mengejari. Pada pengetahuannya tentang piano atau keyboard ini, dia bisa mengetahui jika ada orang yang memainkan kunci yang salah tekan. Biasanya, kalau saya yang salah, J langsung mematikan keyboard yang saya mainkan. Sebaliknya, kalau saya sempurna memainkannya, dia mendengarkan atau malah diiringi permainan drums oleh J.

Dia pun sangat pandai memainkan alat musik drums. Herannya, lagu apa pun, asal dia familiar, dia bisa menirukannya walau lagu itu baru saja dia dengar. Ya, meskipun beat-nya seringkali dia tinggal, entah apa maksudnya. Hafalannya pun begitu kuat dan cepat. 2-3 kali mendengar, dia sudah bisa menghafalnya dan tidak akan lupa. Kami sudah mencobanya, yaitu dengan memberikan hafalan al-Quran surat-surat pendek. Kemudian, 1 tahun kemudian kami mengujinya dan dia masih hafal, padahal hafalan itu tidak pernah diulang-ulang.

Para orang tua, so, berhentilah khawatir mempunyai anak yang autis. Sesungguhnya dalam diri anak-anak itu ada banyak tersimpan potensi. Ada yang cepat diidentifikasi oleh orang-tua atau guru, ada juga yang lambat. Tapi, semakin kita intens dengan mereka, maka saya yakin, kita akan semakin cepat mengungkap kelebihan-kelebihan anak-anak autis kita. Selamat berjuang!

19 thoughts on “Anakku Yang Autis, Anakku Yang Beruntung

  1. Terimakasih banyak atas infonya sangat membantu… kebetulan anak saya juga mengalami gejala yg sama dengan J, mengingat biaya yg sangat besar untuk terapi2 tsb, bolehkah saya dpt alamat email bp, sehingga saya bisa bertanya lebih lanjut ttg hal tersebut. trimakasih banyak sebelumnya.
    Salam,

  2. Salam kenal pak. Anak saya 3, yg tertua perempuan normal. Sementara adiknya 22 autis. Mudah2 bisa saling sharing lewat email (sofiannur.st@gmail.com) maaf lancang naro email disini🙂

  3. Sy baru mengetaui mlm ini bhw kt dokter anak yg spec syaraf, bhw anak sy PDD nos. Apakah ini berbahaya?menghambat pertumbuhan dan apakah bs dsembuhkan? Bgmn dg anaknya?

  4. Salam kenal ….

    Anak saya 2 th 5 bln didiagnosa PDD, dan sekarang masih terapi SI dan okupasi di Pela 9. Kalu boleh tahu J terapi dimana?

  5. Pak mohon bantuannya .anak sy umur 3thn di diagnosa pdd nos dr 2.7bln sekarang lg terapi si.mohon info lbh byk lg untuk menanganinya pak.trimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s