Petak Umpet ala Politisi


Indonesia adalah negara yang banyak sekali menciptakan berbagai macam produk budaya, termasuk jenis permainan lokal yang unik. Salah satu di antaranya adalah petak umpet, yaitu jenis permainan yang dimainkan oleh beberapa orang, dimana salah satu diantara mereka harus mencari yang lain yang sedang ngumpet alias bersembunyi. Dalam petak umpet ini orang dapat bersembunyi di mana saja asalkan tidak ketahuan. Jika sudah ketahuan, maka yang dia akan menjadi orang yang mencari orang-orang lain yang bersembunyi. Dan demikian seterusnya. Yang menarik dari permainan ini adalah bahwa sebenarnya tempat-tempat persembunyian sebenarnya di situ-situ saja, dan pasti cepat atau lambat diketahui juga, ini hanya masalah siapa duluan yang ketahuan.

Hanya saja, belakangan ini, di Indonesia ada jenis permainan baru, yaitu petak umpet politik. Petak umpet ini dimainkan oleh para politisi yang ingin menjadi pemimpin rakyat (capres dan cawapres). Petak umpet ini dimaksudkan agar mereka lolos dari jerat peraturan penyelenggaraan kampanye menjelang Pemilihan President. Masing-masing tim sukses dari pasangan bakal calon President membentuk lembaga baru untuk mendukung iklan politik (salah satu bentuk dari kampanye) sebelum waktu kampanye yang ditentukan oleh KPU.

Di media-media, baik cetak maupun elektronik, telah sering kita saksikan lembaga-lembaga semacam FOX, LSD, Johans Foundation dan lain-lain yang memberikan testimony keberhasilan salah satu pasangan calon sekaligus juga kekurangan yang lain. Lembaga-lembaga ini menampilkan keanekaragaman tanggapan atas seluruh pasangan calon.

Hanya saja, celakanya, sejak awal telah diketahui, bahkan secara malu-malu diakui oleh masing-masing tim sukses, bahwa lembaga-lembaga itu tidak lain hanyalah bentukan dari tim sukses-tim sukses seluruh capres dan cawapres.

Inilah yang kita namakan dengan petak umpet ala politisi. Seolah-olah mereka dapat bersembunyi dari jeratan peraturan yang mereka buat sendiri dengan—seolah-olah—iklan-iklan yang muncul belakangan di televisi dan Koran-koran adalah dari pendukung dan bukan dari mereka sendiri. Padahal, pada saat yang sama, tempat mereke bersembunyi sudah diketahui oleh masyarakat, baik karena letak persembunyian mereka di situ-situ saja alias gampang ditebak, atau karena secara tidak sengaja tempat persembunyian itu juga diakui oleh tim sukses mereka.

Fenomena ini sungguh sangat menyedihkan. Alih-alih mereka dapat memperbaiki nasib bangsa dengan janji-janji politik mereka, malahan—dengan karakter yang payah begini—mereka hanya menawarkan kebohongan lain yang lebih naïf. Janji apapun yang mereka ucapkan menjadi tidak berharga lagi dengan cara bohong yang konyol begini. Rakyat dari waktu ke waktu hanya disajikan dagelan-dagelan dan bukan keseriusan.

Sedikitnya ada dua hal yang terjadi di balik fenomena ini: 1. Para capres dan cawapres merasa bahwa kebohongan ini tidak diketahui oleh rakyat karena rakyat—menurut pandangan mereka—masih bodoh; 2. Para capres dan cawapres sebenarnya mengetahui bahwa rakyat mengetahui kebohongan mereka, tetapi mereka merasa bahwa rakyat tidak akan marah karena—ya itu tadi—rakyat terlalu bodoh dan miskin untuk berpikir tentang masalah ini.

Tidak peduli yang pertama atau yang kedua yang terjadi di balik ini semua, semuanya menunjukkan bahwa sebenarnya para capres dan cawapres itu tidak serius ingin memperbaiki nasib rakyatnya. Alih-alih ingin meraih simpati rakyat dengan berpura-pura paling bersih dan paling dekat dengan rakyat, malahan semakin menunjukkan bahwa mereka hanyalah kumpulan orang-orang lain yang ingin melanjutkan kebohongan lain kepada rakyat yang mereka anggap bodoh dan harus terus bergelimang dalam kemiskinan dan keterpurukan. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s