Janji Politik Yang Dapat Dipercaya


Dalam keseharian, kita sering berjanji atau menerima janji-janji dari orang lain. Kadangkala, janji-janji yang kita ucapkan enak didengar dan meyakinkan alias dapat dipercaya. Sering juga kita menemui janji-janji yang dari awalnya saja kita sudah dapat merasakan apakah janji-janji tersebut dapat dipercaya. Maka dari itu, kita dapat membedakan apakah sebuah janji dapat dipercaya atau tidak. Bagaimana caranya?

Tidak ada ciri-ciri khusus mengenai apakah sebuah janji dapat dipercaya atau tidak. Namun demikian, sebuah janji jika tidak mempunyai juntrungan atau korealasi dengan logika dan realita maka bisa dipastikan janji tersebut adalah ngawur. Misalnya, seorang bapak yang berpenghasilan Rp. 2 juta per bulan yang menjanjikan mobil kepada anaknya apakah bisa dipercaya? Bisa saja, asalkan janji tesebut ada juntrungannya. Jika si bapak memberikan alasan bahwa bulan depan dia akan mendapatkan promosi sebaai manager yang bergaji Rp. 10 juta per bulan dan mobil itu adalah fasilitas dari perusahaannya, maka janji tersebut masih bisa diharapkan—meskipun janji promosi meski dipertanyakan lagi.

Seorang anak yang biasanya mendapatkan nilai 3 dalam pelajaran matematika dan 4 dalam pelajaran bahasa Indonesia—yang oleh karena itu dia sering tidak naik kelas—yang menjanjikan kenaikan kelas kepada orangtuanya bisa saja dipercaya jika dia mempunyai alasan-alasan logis seperti: dia sudah lulus segala tes matematika dan bahasa Indonesia dalam les privatnya. Seorang murid yang seringkali terlambat sekolah karena sering terlambat bangun akibat suka tidur larut malam bahkan pagi, yang berjanji tidak akan terlamba sekolah lagi, bisa saja dipercaya janjinya kalau dia memiliki alasan logis seperti: bahwa dia suda berlatih tidur jam 20.00 malam dan berangkat pagi-pagi sekali.

Demikian juga—apalagi—dengan janji seorang President atau calon President. President atau cawapres bisa saja memberikan janji perbakan dalam berbagai hal: seperti pengetasan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan, menurunkan harga sembako, mengurangi jumlah kemiskinan, memberikan jutaan lapangan kerja, dan seterusnya dan seterusnya. Namun, semua janji yang diucapkan mestinya disertai dengan alasan-alasan yang tidak sederhana.

Seperti janji pengetasan kemiskinan, ini adalah janji yang mestinya disertai dengan juntrungan atau alasan-alasan logis yang menyertainya. Alasan-alasan atau cara-cara logis ini tidaklah sederhana, karena menyangkut begitu banyak karakteristik kemiskinan yang dialami oleh beraneka ragam suku bangsa di Indonesia ini. Janji seperti ini mesti diikuti oleh alasan-alasan kenapa kemiskinan di Indonesia dapat dikurangi dalam jumlah yang signifikan. Misalnya, bisa saja President atau cawapres mesti menyatakan bahwa dia akan menerapkan peraturan yang sangat ketat dan mengikat bahwa setiap orang yang berpenghasilan Rp 10 juta per bulan akan dikenakan pajak kemiskinan sebanyak 10% yang hasil dari pungutan pajak tersebut disalurkan langsung kepada rakyat yang miskin atau dengan cara lain seperit menkonversi pajak kemiskinan tersebut untuk membuat perusahaan export-import (yang sudah didesain sedemikian rupa sehingga sudah pasti exis) dimana pekerjanya adalah orang-orang miskin dan pengangguran. Ini pun tidaklah mudah mewujudkannya, karena mesti dibuat peraturan-peraturan turunan serta berbagai tata cara penerapannya sehingga dapat terhindar dari manipulasi perusahaan atau kegagalan-kegagalan lainnya.

Bisa juga President atau cawapres menyatakan bahwa Pemerintah akan benar menerapkan UUD 1945 dimana setiap fakir miskin dan anak-anak terlantar akan diberikan jaminan social dan kesehatan dengan cara apapun, misalnya dengan cara menyediakan anggarannya dalam APBN yang anggarannya didapatkan dari peningkatan nilai jual CPO dengan membuat pabrik excract vitamin E dan olein. Ini kan baru masuk akal. Ini pun, lagi-lagi, tidak gampang mewujudkannya, karena mesti diikuti oleh pembuatan peraturan yang tepat dan penerapan yang ketat pula.

Tetapi, jika janji-janji President dan cawapres hanya sekedar janji tanpa alasan, ini bisa digolongkan dengan janji ngawur janji yang tidak ada dasarnya. Dan oleh sebab itu janji tersebut tidaklah dapat dipercaya kebenarannya. Seorang President atau cawapres adalah mereka yang mestinya berkapasitas untuk mengetahui alasan-alasan yang logis dalam rangka mendukung janji tersebut. Karena memang mestinya begitu. Seorang kepala rumah tangga mesti mengetahui betul bagaimana caranya membawa rumah tangganya menuju ke arah yang benar dan sukses. Jika tidak, maka rumah tangganya akan karam dan tak dapat bertahan. Seorang direktur mesti menghetahui cara yang effektif untuk membawa perusahaanya ke dalam kesuksesan dan mampu melewati rintangan-rintangan dan pesaing-pesaingnya. Jika tidak, maka perusahaan tersebut akan cepat bangkrut.

Demiikian juga President atau cawapres, mereka mesti tau betul bagaimana mewujudkan visi missinya dari sejak awal. Karena pengetahuan itulah yang dapat menjamin kelangsungan sebuah negara dan sekaligus kemajuannya. Dalam era globalisasi ini, segalanya menjadi mengglobal, krisis yang terjadi di Amerika dan Eropa dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh negara secara global, dan seterusnya dan seterusnya.

Kesimpulannya, President atau siapapun yang berani menjadi cawapres mesti tahu seluk beluk negeri ini beserta semua masalah dan kelebihan-kelebihannya. Pengetahuan tersebut tidaklah cukup, tetapi harus ditambah dengan pengetahuan bagaimana cara mengatur dan mengatasi masalah-masalahnya. Bagaimana cara kita mengetahui bahwa President atau cawapres itu capable? Gampang saja, caranya lihat saja apakah janji-janji yang mereka buat itu disertai dengan metode untuk mencapainya atau tidak? Jika tidak? Jangan percaya, itu semua bohbes alias bohong besar. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s