NEGERI PARA PENGEMIS


Kita tak pernah tau anak2 siapa yang mereka exploitasi untuk mengemis
Kita tak pernah tau anak2 siapa yang mereka exploitasi untuk mengemis
Kita tak mungkin tidak mengetahui masalah-masalah seperti anak-anak mengemis di jalan, ibu-ibu membawa bayi sambil mengemis, anak kecil—bahkan masih balita—mengamen. Semua itu adalah hal-hal yang sepertinya tidak aneh kita tonton setiap hari. Namun, apakah benar fenomena di atas adalah hal yang wajar-wajar saja? Coba kita bahas sebentar saja.

Pertama, Indonesia adalah negara yang melarang mempekerjakan anak di bawah umur 14 tahun. Jika demikian kenyataannya maka, apapun alasannya, anak-anak di bawah umur yang mengemis di jalanan atau ibu-ibu yang mengemis sambil membawa orok adalah hal yang melanggar hukum. Lalu, apakah pemerintah memperhatikannya? Apakah calon president dan wakil president sempat menyinggung fenomena ini? Atau apakah fenomena ini adalah wajar begi mereka?

Kedua, UUD 1945 menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Jika demikian kenyataannya, maka selayaknya tidak ada kaum fakir yang berkeliaran mengemis di jalanan dengan alasan apapun. Tapi, baiklah, jika pemerintah berdalih bahwa itu adalah hak azasi manusia, maka bagaimana dengan anak-anak terlantar? Bukankah mereka berhak dilindungi? Anak-anak adalah jenis manusia yang masih belum dapat berpikir jernih dan menentukan sendiri maksud dan tujuan hidupnya. Karena itu, keberadaan mereka di jalan sudah pasti bukanlah keinginan mereka. Terutama mereka yang mengemis atau dipaksa untuk diajak mengemis. Apalagi jika menilik tingkat penculikan anak di Indonesia sangatlah tinggi. Yang ditakutkan adalah, di antara bayi-bayi yang dibawa oleh perempuan-perempuan pengemis itu, adalah mereka yang menjadi korban penculikan. Jika ini terjadi dan dibiarkan, sungguh ini fenomena mengerikan yang sangat mengancam kehidupan kita sebagai bangsa.

Ketiga, orang-orang seperti kak Seto Mulyadi yang “seperti pahlawan” memberantas pernikahan anak di bawah umur oleh Syeh Puji di manakah gerangan mereka? Kenapa hanya Syeh Puji dan Mariana Ulfah yang diurus, yang kalau diingat-ingat Syeh Puji menyelamatkan kehidupan miskin keluarga Mariana Ulfa? Lalu, apakah, menurut orang seperti kak Seto, anak-anak terlantar yang dipaksa mengemis dan diajak mengemis itu tidak penting untuk diurusi kehidupan mereka? Belum lagi ketidakjelasan status bayi-bayi malang itu, anak para pengemiskah atau anak hasil menculik.

Sesungguhnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengurusi hal-hal yang remeh tapi besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang peduli terhadap sesama bangsanya: pengemis, tukang becak, pemulung, dan seterusnya. Artinya, bangsa yang memiliki pemimpin yang hanya mengejar harta dan sibuk berkampanye di saat masa-masa kekuasaannya hampir habis alias mau melanggengkan kekuasaan tanpa peduli terhadap nasib-nasib mereka yang terlantar, hanyalah bangsa kerdil dan pecundang, yaitu bangsa yang terdiri dari para pecundang dan orang-orang bodoh.

Jika demikian, marilah kita sama-sama berdoa, semoga pemimpin yang seperti itu cepat-cepat diambil oleh Yang Kuasa dan digantikan dengan pemimpin yang benar-benar memikirkan rakyat, bukan hanya retorika! Karena sesungguhnya, bagi pemerintah, menangkap para pengemis itu: mengidentifikasi mereka apakah anak-anak itu adalah anak mereka atau hasil menculik, dan memberikan mereka pekerjaan yang layak adalah masalah yang sangat mudah asalkan mempunyai kemauan. Karena bagi pengemis-pengemis itu, yang mereka butuhkan tidak lebih dari makanan sederhana dan hidup. Itu saja. Meskipun tidak menutup kemungkinan di antara mereka adalah orang-orang yang dipaksa untuk mengemis oleh mafia-mafia tertentu. Justru di sini letak peran dari pemerintah. Menangkap mereka tidak berarti menghilangkan penghidupan pengemis, tetapi menolong mereka-mereka yang terpaksa, diculik, dan seterusnya. JIka pun tidak diculik atau dipaksa, minimal mereka dapat dibina oleh pemerintah agar lebih kreatif. Atau memang, keberadaan pengemis ini sengaja dipertahankan agar Indonesia mempunyai image yang baru: NEGERI PARA PENGEMIS? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s