President Pilihan Rakyat


Siapakah President pilihan rakyat Indonesia? Ini adalah pertanyaan yang gampang-gampang susah dijawab. Gampang, karena President pilihan rakyat pasti orang yang popular di mata rakyat dengan berbagai cara. Susah, karena semestinya dalam keadaan negara yang pas-pasan (kalau tak mau dikatakan susah) ini rakyat seperti dihadapkan pada tumpukan jerami untuk mencari satu jarum di dalamnya.

Tapi, itu kondisi untuk masyarakat yang sehat dan wajar. Bagi Indonesia, yang masyarakatnya masih sakit, jawabannya gampang saja. Siapa yang dengan mudahnya mendekati rakyat dengan uang tanpa terjerat tuduhan money politics dialah yang akan menjadi President. Itu saja. Karena masyarakat Indonesia didominasi oleh orang-orang yang serba kekurangan dan membutuhkan hal yang riil, yaitu uang, tidak ada lain.

Disamping itu, kebanyakan masyarakat Indonesia telah lama didera kebingungan turun-temurun karena menghadapi hukum alam yang tidak berpihak kepada mereka. Kejanggalan hukum alam itu adalah dimana hukum alam yang berlaku bagi orang normal, tidak berlaku bagi mereka. Seperti hukum alam siapa yang rajin pasti akan berhasil (bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian). Hukum alam ini seolah tidak berlaku bagi mereka. Betapa mereka telah bekerja keras siang dan malam mencari penghidupan yang layak bagi keluarga, tetapi hasilnya adalah sakit terus-menerus, sedangkan waktu untuk bersenang-senang tak kunjung datang. Bagi mereka, mencari pekerjaan yang layak untuk kehidupan mereka laksana memimpikan sesuatu yang disebut sebagai too good to be true alias tak mungkin terwujud. Mereka menghadapi tumpukan masalah super berat yang mereka embank sejak lahir bahkan sebelum mereka dilahirkan. Konkritnya seperti ini, seseorang yang menginginkan pekerjaan yang layak—yaitu penghasilan yang tidak habis untuk makan saja, tetapi juga bisa ditabung, berobat, dan seterusnya—harus memiliki serentetan persyaratan, seperti pendidikan tinggi, penghasilan yang cukup untuk membayar ongkos pendidikan termasuk membeli buku dan mengakses referensi-referensi, dan seterusnya dan seterusnya. Bagaimana kemudian masyarakat yang sejak lahir menghadapi kemiskinan turun-temurun dapat melewati serentetan persyaratan tersebut? Padahal, jangankan berpikir tentang pendidikan, untuk makan yang normalnya 3x sehari saja mereka seringkali melewatkannya. Tak terhitung bayi-bayi yang mengidap busung lapar karena kemiskinan turunan ini, seperti tidak sedikitnya jumlah bayi yang—dari dilahirkan—mengantri untuk jadi tukang becak, tukang parkir, tukang cuci, pemulung, pengemis, dan seterusnya seperti halnya bapak-bapak mereka.

Jutaan bayi-bayi malang itulah yang sekarang menjadi tukang becak dan tukang-tukang yang lain yang jumlahnya sangat dominant di Indonesia kita ini. Mereka hidup dalam kemelaratan dan siap menurunkannya kepada anak cucu mereka tanpa diketahui kapan selesainya. Masyarakat seperti dihadapkan pada realita bahwa menjadi orang miskin adalah keharusan, kelaziman, dan tidak ada yang aneh pada semua itu. Bangun tidur, mereka sudah merasa bahwa mereka memang terlahir untuk menjadi orang miskin.

Kondisi seperti inilah yang disenangi oleh pemimpin atau calon pemimpin saat berkampanye. Kondisi seperti ini adalah kondisi yang sangat nyaman, dimana hanya dengan uang Rp. 20.000 saja orang rela memberikan suara mereka. Karena bagi mereka, uang Rp. 20.000 sama dengan 20 piring nasi atau minimal 5 hari kehidupan. Maka tak salah jika penulis menyimpulkan bahwa siapa saja yang dapat—dengan cara apapun—memberi uang kepada calon pemilih pada detik-detik terakhir, maka dialah yang akan memenangkan suara rakyat. Karena rakyat Indonesia sedang sakit.

Rakyat yang sakit tidak dapat didekati kecuali dengan memberikan obat-obat meskipun sifatnya semu. Obat bagi orang-orang yang didera kemiskinan adalah uang. Dalam hal ini, penulis pernah mempunyai teman, seorang caleg dari salah satu partai pada pemilu tahun 2004 yang silam. Dalam jangka waktu ± 1 bulan, dia memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat sekitar. Tak sedikit diantara masyarakat yang terpaksa dirawat inap di klinik miliknya secara gratis pula. Bahkan juga yang dirawat inap lebih dari 10 hari. Namun apa hasilnya? Ketika sang caleg teman penulis itu bertanya kepada beberapa di antara mereka tentang apakah mereka akan memilihnya, mereka menjawab bahwa mereka akan memilih si A dari salah satu partai. Alasannya karena si A telah memberikan uang Rp 10.000. Padahal, pengobatan gratis yang diberikannya tidak kurang dari Rp. 50.000 per orang atau tidak kurang dari Rp. 2 milyar secara keseluruhan. Teman yang caleg itu akhirnya tidak mendapatkan suara yang cukup untuk menjadi anggota dewan. Itulah ciri-ciri masyarakat yang sakit. Hanya orang-orang yang lihai (memperdaya rakyat)lah yang dapat memanfaatkan kondisi ini.

Jadi siapakah President pilihan rakyat? Jawabanya adalah dia yang dapat memberikan uang politik (money politics) kepada mereka dengan cara apapun.

One thought on “President Pilihan Rakyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s