Bodohmu adalah Kemakmuranku


JIKA ADA makhluk yang paling brengsek—tapi masih saja ada dan makmur—di dunia ini tak lain tak bukan adalah politikus. Mereka mencari dukungan rakyat dan memanfaatkan dukungan itu hanya untuk keperluan pribadi, keluarga dan golongannya. Bahkan, mereka dengan ikhlasnya membodohi rakyat pemilihnya berulang-ulang untuk berbagai alasan: melanggengkan kekuasaan, meraih simpati—sembari menyukuri kebodohan rakyat, dan seterusnya dan seterusnya.

Prilaku ini terus saja dilakukan tak mengenal waktu. Baik pada saat kampanye maupun pada saat memerintah. Tindakan seperti ini sudah pasti dilakukan karena mengira bahwa pendengarnya, yaitu rakyat, tidak mengerti tipuan-tipuan yang sedang dilakukan. Mereka ada benarnya, tapi banyak salahnya. Rakyat Indonesia terbagi dalam tiga bagian: rakyat bodoh, rakyat pintar tak berdaya dan rakyat pintar yang berdaya. Rakyat bodoh, memang tidak sedikit jumlahnya di Indonesia. Mereka terdiri dari anak balita, orang jompo, dan orang-orang idiot. Sedangkan bagian kedua, yaitu orang pintar tak berdaya adalah bagian terbesar dari rakyat Indonesia. Mereka terdiri dari berbagai lapisan masyarakat: dari tukang becak sampai Direktur dan Menteri-Menteri.

Lho, apa tidak aneh tuh? Kalau tukang becak tidak berdaya itu wajar, lah ini Direktur dan Menteri? Kok bisa? Bisa dong. Masa tidak melek juga? Di Indonesia ini apa sih yang tidak bisa? Begini, cobalah kita melek sedikit, tidak usah banyak-banyak. Kita pasti mengetahui bahwa reformasi di Indonesia ini dibuat agar negara ini mempunya masyarakat yang madani (civil society), yaitu masyarakat yang beradab dan berkeadilabn baik secara ekonomi, sosial, politik dan budaya, dimana hal ini diterapkan oleh pemerintahan yang mempunyai kekuasaan terbatas dan tidak bisa mengintervensi hak-hak individu. Dengan otoritas yang kecil ini, penguasa tidak bisa memaksakan kehendak politiknya kepada rakyat dengan cara apapun. Tapi, jika kita lihat-lihat lagi, tengok-tengok lagi, Indonesia masih jauh dari yang namanya masyarakat madani. Kalau kita lihat di Indonesia ini, begitu seseorang menjadi President, maka dialah yang serasa pemilik negara. Dia bisa mengatur sesuatu yang impossible menjadi possible. Seorang President dengan leluasanya tidak menghadiri undangan DPR agar dilakukan hak angket dengan alasan yang absurd. Dia juga bisa dengan leluasa mengajukan anggaran trilyunan untuk melakukan sesuatu yang gagal dengan t-a-n-p-a risiko. Dan kegagalannya pun diakui menjadi keberhasilan.

Nah, inilah yang kita sebut golongan rakyat yang pinter yang berdaya: berdaya untuk mengatur, memerintah, mengontrol, mengintervensi, mempertontonkan dagelan konyol, bertindak bodoh, dan seterusnya dan seterusnya. Tak aneh jika terbit sebuah cetakan exclusive yang mengklaim begitu banyak keberhasilan pemerintah. Penulis sih yakin, partai atau seseorang atau banyak orang yang menerbitkannya meyakini betul bahwa hal seperti itu dapat mengelabuhi rakyat. Rakyat yang mana dulu? Anak balita? Orang-orang jompo? Atau orang yang telah mati? Hehe.. Rakyat Indonesia sudah pada pintar, bung. Mereka dapat membedakan yang mana yang penipu dan yang mana yang bukan.

Baru-baru ini Andi Malarangeng mengatakan seperti ini, “Partai Demokrat adalah partai yang paling konsisten mendukung setiap kebijakan pemerintah atau menjadi ”bumper” pemerintah. Bukan partai lain yang memang bukan partai politik pengusung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-M Jusuf Kalla pada Pemilu 2004. Pak Jusuf Kalla menjadi Wapres itu bukan karena Partai Golkar, tetapi karena dukungan Partai Demokrat. Itu perlu diingat. Baru belakangan saja Golkar mendukung.”

Inilah yang kita sebut satu di antara banyak kekonyolan kaum-kaum berdaya ini, antara tanggapan dan yang ditanggapi tidak nyambung, tapi ini dilakukan tanpa malu-malu (mungkin menyangka bahwa rakyat bodoh, hiks). Di banyak kesempatan, banyak diberitakan bahwa JK tidak mempermasalahkan siapa yang menjadikan siapa. Yang mendukukng JK jadi Wapres memang Demokrat, tapi yang mendukung pemerintahan ketika pemerintah, bukan hanya Demokrat yang hanya mengantongi perolehan suara 7% saja kala itu. Tapi Golkar juga yang memperoleh perolehan suara terbesar yaitu 25%. Itu masalahnya, pak Andi yang pinter. JK mempermasalahkan itu, bukan yang itu. Hehehe… yang ono, bukan yang ono. Masa nggak ngerti juga? Golkar itu merasa bahwa PD tidak tau terimakasih itu pantas, pantas banget malahan. Begitu sering, kalau tidak boleh dikatakan hanya dia, JK menghadapi rakyat atas kebijakan Pemerintah yang tidak populis. Eh, giliran sukses, buru-buru SBY maju. BLT sukses, SBY yang maju, JK ngilang. Perdamaian di Aceh sukses, SBY juga maju, JK menghilang. Saat menaikkan harga BBM JK muncul dan berani bertanggungjawab untuk itu; tetapi saat menurunkannya, hehehe pasti sudah bisa menebak siapa yang akan muncul, SBY yang muncul dengan gagahnya dan muka berseri-seri. Saat Tsunami terjadi, JK dulu yang mengambil risiko agar dibuat procurement dengan melanggar aturan-aturn tertulis yang cenderung lamban. JK-lah yang waktu itu dicerca habis-habisan atas tindakan cepatnya. Eh, setelah sukses, SBY yang nongol, JK ngilang. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Golongan-golongan rakyat yang pintar dan berdaya inilah yang merajalela di negeri ini. Begitu rentannya negeri ini, bergantung dari kebetulan-kebetulan politik yang tidak sengaja diciptakan. Jika jalanan masih banyak yang lobang-lobang, maka tunggulah kebetulan rakyat golongan ini kebetulan terdesak dan harus melakukan perbaikan, maka jalanan jadi baik. Tapi jika kebetulan itu tidak terjadi, jangan berharap jalanan jadi baik. Itu baru jalanan lho, barang mati yang tidak perlu pemikiran untuk mereparasinya. Bagaimana dengan kemacetan? Ealah… yang seperti ini sih perlu pemikiran, sesuatu yang tidak bakalan dilakukan oleh rakyat jenis terakhir ini. Tunggu saja sampai negara ini dibeli oleh asing, maka kemacetan akan teratasi. Apalagi yang berkaitan dengan penyelesaian masalah banjir. Hehe, seolah-olah masalah banjir timbul sendiri ya? Padahal banjir kan akibat ulah pemerintah yang rakus, yang dengan gampangnya memberikan izin pembangunan tanpa mengindahkan aturan resapan dan Kawasan Terbuka Hijau. Masalah banjir ini–untuk rakyat jenis ke-3 ini–lebih rumit lagi daripada kemacetan dan jalan rusak. Padahal, cara menyelesaikannya hanya membutuhkan keseriusan saja, tidak ada lain. Atau bagaimana dengan penciptaan lapangan pekerjaan? Ah, jangan bermimpi ya, itu cuma omdo saja.

Begini, kok mau cariin kerjaan buat rakyat yang jumlahnya jutaan, untuk kerabat-kerabat dan tim suksesnya pun mereka susah lho. Ceritanya, dahulu, SBY-JK itu punya tim sukses, jumlahnya banyak. Ada orang-orang yang memegang peranan penting dalam tim sukses itu, yang membantu suksesnya SBY-JK melaju menjadi President dan Wapres. Ada yang membantu ratusan juta untuk kaos. Milyaran untuk konsumsi, juga yang cuma sekedar tenaga dan pemikiran. Mereka ini, yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang, sampai hampir habisnya masa pemerintahan SBY-JK, tidak diperdulikan. Dananya tidak dikembalikan, rasa terimakasih pun tidak ada. Bahkan ada yang sampai menganggur lho.

Bukannya kita menganjurkan SBY-JK untuk KKN, tetapi, berterimakasih atas jasa orang tanpa harus KKN—bisa saja melalui mekanisme yang benar tetapi diendorse—adalah ciri orang yang bijak. Sungguh kasihan mereka yang menganggur dan harus kehilangan banyak sekali dana karena menjadi tim sukses.

Lalu, bagaimana dengan nasib rakyat pertama dan kedua? Pertama, rakyat pertama dan kedua yang hanya sedikit yang masuk kedalam jajaran tim sukses SBY-JK dulu saja tidak diperhatikan, apalagi rakyat yang tidak ikutan jadi tim sukses, pasti terlintas dipikiran saja tidak. Kalau ini terdengar oleh telinga SBY, pasti dia akan bilang, “Saya menjadi President ini adalah amanah rakyat, saya pasti akan menyejahterahkan mereka dan memikirkan mereke,” begitulah kurang lebih deh… Tapi, semua jawaban pasti dicari kebenarannya. Dan kebenaran jawaban itu tergantung dari realitasnya. Jika realitasnya tidak mendukung, maka jawaban menjadi salah. Dan sebaliknya. Untuk masalah ini, cobalah kita lihat bersama realitas Indonesia. Mencari pekerjaan yang semakin susah, harga-harga yang kian tak terjangkau oleh rakyat jelata, sekolah-sekolah yang katanya (spp-nya) gratis tapi (iuran lain yang harganya lebih mahal berlipat-lipat dari spp) tetap bayar juga, jalanan rusak dicuekin saja, layanan kemasyarakatan makin semrawut (eit jangan bilang makin modern lho, lah wong urusan DPT yang gampang banget saja bisa kacau: eh, apa disengaja ya? hehe), listrik yang byar pet, layanan kesehatan rakyat yang ngaco, dan banyak lagi deh. Maka, sudah pasti jawaban di atas salah besar, karena realitasnya tidak mendukung.

Lalu bagaimana dengan nasib rakyat kemudian? Jawabannya adalah terletak pada kita sendiri. Jika kita bergantung kepada rakyat jenis ketiga, maka kita akan terpuruk selamanya. Tapi, jika kita mau bergerak dan tidak gampang memberikan kepercayaan kepada rakyat yang tidak jelas untuk menjadi rakyat jenis ketiga, maka nasib kita akan membaik (pasti!). Karena, pada rakya jenis ketiga ini ada motto: rakyat, bodohmu adalah kesejahteraanku. Trust me, mereka yang berkuasa hanya berpikir bagaimana melanggengkan kekuasaan dan berkorban sebesar-besarnya untuk kepentingan mereka sendiri. Lalu kepada siapa kita harus percaya? Wallahu A’lam bisshawab. Mungkin ini tanda-tanda kiamat, dimana tidak ada lagi pemimpin yang adil sampai datang masa al-Mahdi, sang Ratu Adil. []

2 thoughts on “Bodohmu adalah Kemakmuranku

    1. Terimakasih telah membaca tulisan saya. Bagi saya ini bukan tulisan saya, tapi suara bangsa Indonesia yang menginginkan pemimpin sejati, yang mau merubah nasib kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s