MENIPU RAKYAT ADALAH DOSA BESAR


Dalam Al-Qur’an sedikitnya ada 5 istilah perbuatan dosa yang mengakibatkan turunnya siksaan Allah. Istilah-istilah itu adalah:
1. al-Khati’ah (penyelewengan) yaitu melakukan perbuatan dosa yang dilakukan secara sengaja.
2. Al-Dzanb (perbuatan salah) seperti dosa perbuatan maksiat kepada Allah Swt.
3. Al-Sayyi’ah (perbuatan jelek) seperti tidak jujur terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, sombong, bakhil, dan seterusnya.
4. Al-itsm (perbuatan dosa) yaitu perbuatan yang tidak dihalalkan (haram), seperti menipu.
5. Al-Fusq (kelur dari jalan yang benar) yaitu berbuat maksiat yang melanggar perintah Allah.
Rasulullah bersabda:
“Apabila seorang mukmin melakukan dosa, hatinya akan ternoda oleh titik hitam. Apabila ia mau bertaubat dan tidak mengulangi perbuatan dosa lagi dan beristighfar, hatinya akan menjadi bersih kembali. Apabila berbuat tambah dosa, titik hitamnya juga tambah. Titik hitam itulah yang dimaksud dalam firman Allah: sekali-sekali tidak (demikian) sebenarnya yang mereka lakukan membuat noda hitam dalam hatinya (HR. Ibn Majjah dan Imam Ahmad).
Dosa, dengan demikian, adalah sesuatu yang menyeleweng dari kebaikan seperti tidak jujur, menipu, mendengki, korupsi dan maksiat kepada Allah swt. Lalu, bagaimana mengetahui bahwa sesuatu telah menyeleweng dari kebaikan? Ada dua cara untuk mengetahuinya: dari nash (al-Quran dan al-Hadis) dan dari kriteria. Dari Nash, tentu kita harus bereferensi kepada keduanya untuk menghakukumi suatu perbuatan. Tetapi, untuk menentukan perbuatan itu salah atau tidak selain dari nash adalah seperit yang disabdakan oleh Rasulullah:

Perbuatan baik adalah suatu perbuatan yang membuat jiwa tenteram dan membuat hati tenang. Perbuatan dosa adalah perbuatan yang menjadikan jiwa guncang dan hati gusar, sekalupun kamu mendapatkan petuah dari ahli fatwa (mufti) (HR. Imam Ahmad).
Yang dinamakan dosa ialah sesuatu (perbuatan) yang menggelisahkan jiwa dan kamu tidak mau menampakkannya kepada orang lain. (HR. Imam Ahmad)
Sebagaimana dijelaskan dalam kitab tahrir al-wasilah, yang berkenaan dengan tolak ukur dosa-dosa besar, dalam hal ini Imam Khomaeni menyebutkan bahwa:
1. Dosa-dosa besar adalah yang tertulis dalam Al-quran dan diriwayatkan untuk memberikan ancaman (atas pelakunya dengan) siksaan api neraka.
2. Dosa-dosa yang dilarang oleh syariah atau hukum-hukum agama
3. Adanya dalil-dalil yang menunjukan bahwa dosa tersebut lebih besar dari dosa-dosa lainya, seperti syirik, munafik, kufur, dan lain-lain sebagainya.
4. Akal yang menghukumi bahwa dosa tersebut adalah dosa besar.
5. Dalam pandangankaum muslimin, berdasarkan hukum Allah, Al-quran dan hadist, telah ditetapkan bahwa dosa tersebut termasuk di antara dosa-dosa besar.
6. Terdapat penjelasan dari Rasulullah Saw. Dan para imam bahwa perbuatan tersebut termasuk di antara dosa-dosa besar yang harus dihindari.
Diantara dosa besar yang tercatat di dalam al-Quran adalah PEMIMPIN YANG MENIPU RAKYAT.
Pemimpin adalah mereka yang diberi amanah oleh rakyat untuk menjalankan pemerintahan dengan benar dan sesuai dengan baik hukum maupun janji-janji politis seperti yang tertuang dalam RPJM.
Amanah yang diberikan kepada mereka harus dikembalikan kepada rakyat berupa pembangunan, kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, pemberantasan kebodohan, kemanan, dan seterusnya, oleh karena itu ini disebut sebagai hak-hak rakyat. Hak-hak rakyat ini harus dipenuhi oleh seorang pemimpin apapun yang terjadi. Alasan-alasan seperti krisis global, bencana alam, tidak ada dukungan dari pihak lain, adalah alasan the chicken leader.
Jika hak-hak rakyat tesebut tidak terpenuhi, maka sudah bisa dipastikan bahwa pemimpin sedang dan telah menipu rakyat. Dengan anggaran ribuan trilyun rupiah, dengan dukungan infrastruktur dan kekuatan hukum dan aparatnya (dari gubernur hingga lurah, dari dirjen hingga pegawai cleaning service) tidak layak jika rakyat masih miskin, masih bodoh, banyak pengangguran, jalan-jalan rusak parah yang dibiarkan, lalu-lintas yang semerawut, keamanan yang masih mengkhawatirkan, baik oleh bencana rutin seperti banjir maupun oleh ulah preman dan penjahat. Inilah yang kemudian kita sebut dengan perampasan hak-hak rakyat.
Pemimpin manapun yang melakukan perampasan hak-hak rakyat tersebut, maka dia sedang dan telah melakukan PENIPUAN TERHADAP RAKYAT. Menipu rakyat adalah dosa besar yang tidak gampang diampuni. Menipu rakyat sama dengan menipu ibu, bapak, nenek, kakek, mertua, anak, handaitaulan dan seluruh rakyat yang mempercayakan amanah mereka kepadanya. Menipu rakyat jelas tidak terampuni kecuali rakyat memaafkan. Lalu, rakyat mana yang mau memaafkan kesehatan anaknya yang hanya seharga sepiring nasi padang terenggut oleh kerakusan penguasa? Rakyat mana yang mau memaafkan masa depan anak-cucunya bercita-cita tak lebih dari menjadi pegawai berupah UMR? Rakyat mana yang memaafkan pemimpin yang memperkosa sahabat-sahabat dan kerabat dengan membiarkan terjadinya traficking dan pelacuran hanya karena ingin bertahan hidup? Rakyat mana yang memaafkan anak-anaknya menjadi maling dan dipenjara karenanya hanya karena ingin memberikan makan anak-isterinya? Oh raykat mana? Oleh karena itu, menipu rakyat jelas tak terampuni.
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat aniaya kepada manusia dan melampui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat siksa yang pedih. (Qs Assyura:42)
Dan janganlah kamu sekali-kali kamu (Muhammad ) mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang menganiaya. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka ) terbelalak. (Qs. Ibrahim:42)
Manusia yang paling berat sisksanya dihari kiamat nanti adalah (siksaan) bagi pemimpin atau penguasa yang aniaya (tidak adil). (HR. Tabrani dan Abdullah ibn Mas’ud )
Siapa saja pemimpin yang mencurangi rakyatnya, maka ia akan masuk neraka.(HR. Tabrani)
Celakalah para penguasa, celakalah para pemimpin, dan celakalah orang-orang pembawa amanat. Sungguh banyak orang-orang yang berangan-angan kecurangan-kecurangan mereka tergantung di atas bintang tsurayya. Mereka akan disiksa karena mereka dahulu tidak mau melakukan sesuatu yang diamanatkan kepada mereka. (HR. Ahmad)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s