Lukisan


Cerpen Ak. Mustafit

AKU tidak tahu harus sedih atau senang kehilangan dia. Namun, kerlingan jahat sepasang mata itu, membekas selamanya. Tubuhnya yang bagai sutra, semampai, dan berwarna merah pudar itu, dengan sepasang mata yang berpendar menjerat hati, membuat hidupku tersulut dan mencair perlahan.
Keterpagutan sapuan warna hatiku dan hatinya, membuatku terasing dari daur kehidupan manusia: aku melupakan fenomena alamiah hidup. Aku galau dan berlindung di bawah payung lintingan ganja dan khamr. Aku melahap guratan waktu hanya untuk melukis di atas kulit tangan, kulit kaki, buah dada, malah pernah di atas lidah perempuan gila, juga ekstase dalam lintingan ganja dan khamr di dalam kamar kerjaku, tidak, di dalam ruangan persegi empat yang temaram dan menjijikkan.
Entah bagaimana, kreasi tanganku aneh: dia selalu menggambar seorang lelaki ceking terbungkus baju dekil sobekan kain kafan dan berpose merangkak seperti bayi mendekap bungkusan penuh rambut dan semburat warna merah. Mukanya dibungkus surban putih tulang, terkoyak di bagian atas dan bawahnya. Di bawah, kaki kanannya menginjak sebongkah badan berbalut pagutan warna kematian: hitam dan merah, tampak menderita, dengan tangan masih menggenggam catatan hitam. Lelaki itu berpose merangkak karena kaki kirinya digenggam oleh sehelai tangan cantik sebongkah badan itu.
MALAM baru saja datang terengah-engah. Tanganku sedang tertuntun dalam menyapu pagutan warna membentuk gambar-gambar seperti biasa. Tiba-tiba daun pintu terbuka lebar sebak mulut singa yang menguap setelah melahap bangkai seekor anak jackal. Di ambang pintu, tersembul wajah seorang lelaki tua. Orang itu bertubuh ceking yang wajahnya terbungkus baju dekil seperti kain kafan mayat-mayat gembel hasil perzinahan. Wajah dan kepalanya dibungkus surban berwarna putih tulang. Matanya penuh guratan akar warna darah. Jika menyeringai, gigi depannya terlihat tinggal dua, bagian kanan gigi itu terpotong tidak rata seperti kayu penyanggah pematang tambak yang berlumut, bergerigi di sana-sini karena tersapu air payau, sedang bagian kiri dua gigi itu berwarna perak kusam. Sehingga, jika dia menyeringai, terpampang tontonan yang sangat memuakkan. Kulit muka orang itu keriput dan penuh benjolan aneh. Orang ini mengaku sebagai teman bapakku. Tiba-tiba otakku tersembur kawah kenangan Roma. Kenanganku terbang di suatu senja yang lembab di Centrale Ristotheatre di Via Celsa, saat aku merengkuh suguhan teater, alunan musik, anggur, serta makanan secara ala carte. Saat itu sebuah erangan binal dari wanita berambut jagung membetot perhatianku. Dan kami larut dalam ekstase penuh anggur dan kenangan yang menjijikkan. Tahukah engkau? Iblis berambut jagung itu berbalut kain pagutan warna kematian: hitam dan merah. Bersimbah warnah merah dan kesedihan tak berujung. Kepalanya hilang, rambutnya terurai seperti air terjun musim semi. Menyakitkan, tidak, itu sangat membahagiakanku!
Aku kembali ke kamarku, ke dunia yang bagiku begitu menyiksa dan menjijikkan. Tiba-tiba mataku terbentur pada sekendi tuak di atas keranjang buku-buku dan majalah bekas yang berukir wanita dan lelaki ceking berselingkuh di atas pohon mangga yang condong seperti huruf O terpotong. Keranjang itu terletak menjorok ke dalam bersebelahan dengan lubang angin setinggi setengah meter dari lantai. Wanita dalam ukiran keranjang itu berbalut kain hitam pas di badan dan warna kematian: hitam dan merah.
Dengan tujuan menyuguhkan sesuatu yang istimewa kepada tamu teman bapakku ini, aku menghampiri sekendi tuak. Kutarik lengan bajuku yang berwarna putih kafan untuk memudahkanku mencapai tuak. Saat tangan cekingku mencapainya sempurna, mataku menemukan sebuah rumah yang membelakangi rumahku: halaman depan rumah itu mempertontonkan sosok lelaki tua berbadan ceking terbungkus baju dekil kain kafan. Lelaki tua itu merangkak seperti bayi mendekap bungkusan penuh rambut dan semburat warna merah. Mukanya dibungkus surban putih tulang, terkoyak di bagian atas dan bawahnya. Kaki kanannya menginjak wanita yang berbalut kain hitam dan pagutan warna kematian: hitam dan merah, tampak menderita, dengan tangan masih menggenggam buku berwarna hitam. Wanita itu berkerenjal memegang kaki kiri lelaki tua itu hingga lelaki itu berjalan merangkak.
Saat lelaki tua itu bangkit, kulihat wanita berbalut kain hitam dan warna kematian itu berdiri tanpa kepala, tetapi seperti melototkan bola matanya yang tiada kepada keberadaanku di balik lubang angin dekat sekendi tuak. Mata itu berpendar menjerat hati, membuat hidupku tersulut dan mencair perlahan.
Dengan botol tuak di tangan, aku melompat ketakutan. Tubuhku gemetar, menggigil, meronta, memutih, dan dalam waktu yang bersamaan, kejang dan meradang. Kepalaku terasa terbenam, entah selama berapa hari? Aku tak tahu. Saat sadar, kusambar lagi botol tuak itu dan kembali ke kamar. Lelaki yang mengaku teman bapakku itu hilang, sementara pintu dibiarkan terbuka.
********
Seperti biasa, para pelanggan lukisan anehku berdatangan ke rumah. Ada yang ingin dilukis di bagian ketiaknya, terpagut dengan rimbunan rambut dan aroma apak. “Saya bermimpi bertemu dengan arwah nenek moyangku dari garis bapak. Mereka dahulu orang-orang kebal, sehingga rambut ketiaknya pun tidak bisa dipotong,” katanya sambil menyodorkan ketiaknya yang tampak seperti rimbunan dosa yang tak berakar tapi kokoh sebak kawat baja berduri. Ada juga yang datang ke kamar kumalku dengan keinginan agar telapak kakinya ditato. Dia bercerita bahwa telapak kaki itu selalu menginjak lantai-lantai rumah bordir, rel kereta, atau warung-warung remang pelacur murahan. Dengan tato itu, dia berharap kakinya tak lagi menggetarkan isyarat-isyarat liar. Yang paling susah adalah saat ada pelanggan setia yang minta anak perempuannya yang gila ditato lidahnya. Dia ingin lidah itu tak lagi berkata-kata sarkastis dan memuntahkan omelan-omelan yang mengatakan bahwa ibunya adalah pezina menjijikkan. Kulukis lidah perempuan gila itu saat terjulur dan mengeluarkan lendir-lendir berbau nyinyir. Dia tertawa, entah karena apa, dan menatapku dengan tatapan hampa. Tahukah kau, saat itu perempuan gila itu mengenakan baju berwarna hitam dan merah. Perempuan hina ini tewas saat kutusukkan pena terakhir dalam usahaku menggambarkan wanita tanpa kepala yang meregang dan memegang kaki lelaki ceking itu. Aku sedih sekali, tidak, aku tertawa keras dalam hati, hingga tak ada manusia biasa yang dapat mendengarkannya, selain aku dan perempuan sampah itu.
PAGI yang ranum baru saja menjuntai. Tiba-tiba sebuah wajah melongo dari balik pintu kamarku yang terbuka seperti mayat yang mati tercekik.
“Hello, honey!” sapanya sambil terus mengetrapkan kaki-kaki tak bersepatunya ke lantai kayu kamarku. Wajahnya yang tersapu juntaian rambutnya itu sedikit tertekuk oleh senyumnya yang dilemparkan kepadaku. Matanya memandang ke arahku, menghempaskan debaran yang biasa aku rasakan bercampur peluh bersamanya. Dia melangkah melewatiku yang sedang bercumbu dengan lintingan ganja sisa pestaku semalam bersama para wadam dan para gelandangan idiot.
“Aku tak bisa kali ini, untuk saat ini aku ingin menjadi begini saja.” Kataku kepada Yohana yang sedang siap-siap berpose bugil di atas kursi kayu jati berwarna hitam pudar. Namun, Yohana hanya membatu. Bibirnya seolah terbebani ribuan dosa yang tak terampuni. Matanya yang sedari tadi temaram membetotku ke alamnya, terpejam bergetar, tampak bahwa ia menahan agar mata yang ingin melihat itu terus terpejam. “Aku tak ingin kita melangkah terlalu jauh, melebihi kodrat kita.” Aku melanjutkan pembicaraan.
Yohana lalu berdiri dengan pose tegak, kedua tangan tersilang di seberang dadanya, mengingatkanku pada Menara Pisa di Kota Pisa, ingin tegak tapi akhirnya miring. “Kau tak bisa mengelak lagi, sudah berkali-kali kaumenjanjikan lukisanku, bukan lukisan jelek itu!”
Yohana yang mengenakan baju ketat warna hitam dan nuansa hitam-merah itu berdiri persis berseberangan denganku. Matanya memandang tajam. Seulas senyum mengering di sudut bibir. Dari atas tempat tidur tempatku melukis tato beberapa pasang muda-mudi seperti biasa, kusaksikan matanya yang begitu mempesona, mata yang memikat dan sekaligus menghempaskan. Pada bola mata itulah cahaya hidupku seperti dibetot keluar kedalam lubang hitam Stephen Hawking. “Aku tak bisa!” kataku sambil berteriak dan menghempaskan seonggok daging makanan anjing yang baru saja kukunyah. Bagiku, melukiskan tubuh bugil, seperti mengkhianati kejujuran. Karena melukis tubuh seseorang tanpa balutan busana, adalah menggambarkan detail lekukan tubuh, serta guratan-guratan warna kulit, tanpa melewatkan sehelai ramput pun. Apakah Yohana tidak sadar bahwa tubuhnya banyak mempertontonkan benjolan benjolan aneh, cipratan warna putih bulat-bulat pada bagian punggungnya, atau produksi keringat berlebih saat dia bernafas sebak dengus kuda penarik kereta mayat? Padahal, sudah berapa ribu kali manusia seperti Yohana ini menutupi kelemahan dan dosa-dosa tubuhnya di hadapan Tuhan atau manusia lain? “Aku tidak mau, sana, kaucari saja pelukis gila lain yang hendak membohongi mata dan kejujuran mereka!”
ENTAH kenapa tanganku selalu menuntutku melukis lelaki tua ceking yang sedang merangkak dan wanita tanpa kepala berbalut kain warna kematian? Aku sendiri tidak mengerti. Dan entah kenapa, tak sedikit orang yang memintaku melukiskan hal yang sama di atas kulit tubuh mereka. Juga Yohana. Begitu banyak benjolan tubuhnya yang kulukis bergambar lelaki tua ceking yang sedang merangkak, dan wanita tanpa kepala berkerenjal di bawah telapak kaki lelaki ceking itu. Pada kulit tubuhnya, tak ada lagi jarak untuk dilukis, seluruhnya penuh dengan lukisanku yang aneh itu.
Yohana kali ini memaksaku melukis dirinya bersamaku sebagai nuansa baru lukisanku, menggantikan nuansa lama yang biasa aku sapukan. Kali ini dia memaksaku agar melukis di atas tubuhku tentang tubuhnya dan tubuhku. Dan aku tak bisa melakukannya, karena seseorang harus merasakan akibat dari setiap kehendak yang dikenakan atas diri dan jiwanya. Begitu juga aku dan Yohana. Aku tak mau merasakan sesuatu atas kulitku yang hendak aku rajam karena melukiskan sapuan-sapuan bernuansa Yohana dan aku. Seharusnya, Yohana melukai dirinya sendiri untuk kehendak yang hendak ia berlakukan atas diriku. Dan aku tak mau melakukannya, tidak, aku mau, tapi aku jijik!
“Kau tak lagi menghargaiku seperti kau menghargai gadismu kala kau sedang meradang dalam kemiskinan yang renta!” Yohana berteriak di telinga kiriku sambil memegangi kepalaku, atau, menjambak rambutku yang menjuntai hingga ke bahu, ya dia menjambakku dengan begitu keras. “Kau tak bisa membiarkanku tercampakkan dalam keinginanku, padahal kau bisa memenuhinya, honey!” Cuih, dia mendengus seperti ular yang amis dan licik. Dengusan itulah yang membakar wajah dan harga diriku.
Aku tersungkur, bergetar, warna kulitku memucat, dua bibirku saling bertabrakan berulang-ulang, gigiku terkatup, kepalaku seperti terbentur bongkahan karang, dan terbenam di antara rengkuhan kedua tanganku. Entah berapa lama, aku tak tahu. Tapi teriakan itu terus terdengar, “Aku hanya inginkan kau melukisku telanjang di tubuhmu bersamamu, menggantikan lukisanmu yang usang itu, honey!” Suara itu menggema seperti kawah keluar dari bumi yang menyembur di kepalaku. Kepalaku yang kubungkus kain surban yang terkoyak di bagian atas dan bawahnya, tersayat oleh pisau lipat yang dikeluarkan oleh gadisku dari balik saku jeans-nya. “Aku yang mengajarimu melukis indah di atas tubuh-tubuh itu,” Yohana masih berteriak, “sekarang aku terangsang ingin kaulukis bersama denganmu di atas tubuhmu, honey!”
“Tidak, aku tidak akan melakukannya,” kataku kepadanya dengan mata terbelalak, rambut yang terjuntai. Tangannya yang sedari tadi memegang rambutku yang lengket dan berkeringat, mencapai sebuah tas kulit kecil yang selalu ditentengnya ke mana dia pergi. Tangannya menyembulkan sebuah buku hitam kecil. “Honey, aku menyimpan sejuta kenangan bersamamu di saat itu.” Dia membuka buku itu, tertawa, tersenyum, sejenak meneteskan air mata, dan tertawa lagi.
Buku hitam. Dengan tubuh bergetar, aku terkenang Roma. Di suatu pagi yang renyah di Via Vittorio Veneto di kamar 213 hotel Ambasciatori Palace, pada sebuah ruangan, aku terhempas di sebuah sofa kulit berwarna coklat susu yang menghadap ke televisi 29 inch, sebotol rakia, asbak berukir kelamin dengan selinting rokok yang masih menyala, tas kulit, sepiring daging mentah moluska dan sebuah patung kayu antik berwarna hitam pudar. “Honey,” sapa Yohana kepadaku dengan suara sopran perokok yang sangat kental, “Inilah rumahku selama aku study di Italia.” Bisiknya sambil membuka rakia yang diaduk-aduk bersama daging mentah moluska pada sebuah gelas ukiran, ukiran Jepara, kukira. “Namaku Yohana, dan, ups, I know your name, Andrey?” dia memperkenalkan diri dan menebak namaku, dan memang benar. Saat itu seindah rangkaian bunga, yang jika dipisah, maka rangkaian itu terberai begitu rupa, hingga tak dapat disatukan lagi. Moment-moment itu sepanas the Creation karya Michael Angelo yang membara di atap sixteen chapelle. Ya, panas sekali, dan baranya membakar wajahku, sehingga aku tak lagi punya nyali menjulurkan wajahku yang sejak itu tersembunyi di balik surban berwarna putih tulang. Sejak saat itu, aku menjadi alien dalam daur kehidupan manusia, berlindung di bawah naungan lintingan ganja dan khamr.
“Wake up, honey!” Yohana itu masih berteriak sambil menendangku di bagian perut dan kepalaku. Suaranya menggema seperti berasal dari ngarai pegunungan, tidak, dari pemakaman orang-orang berpenyakit lepra. Menjijikkan, tidak, aku suka kepadanya, ah, andai dia tidak membentakku dan memerintahkanku melukis dirinya dan diriku di atas tubuhku. Tak mengapa kobaran nafsunya masih membekas di wajahku hingga kini. Matanya sebenarnya indah, dan mata itu menarikku kedalam kebahagiaan tak bertepi. Tapi, mata itu juga menghempaskan dan menarikku ke lubang hitam tak berdasar. Aku melahap onggokan waktu hanya untuk melukis di atas kulit tangan, kulit kaki, buah dada, malah pernah di atas lidah perempuan gila, juga ekstase dalam lintingan ganja dan khamr di dalam kamar kerjaku, tidak, di dalam ruangan persegi empat yang temaram dan menjijikkan. Aku menghilang di tengah-tengahnya. “Hari ini aku sabar, besok, kau tak ada piliha lain,” katanya sambil memanting daun pintu.
MALAM baru saja menetas, sebak seonggok telur yang keluar dari dubur ayam berpenyakit, berwarna pudar dan lembab. Tanganku sedang tertuntun dalam menyapu pagutan warna membentuk gambar-gambar seperti biasa. Tiba-tiba dari balik daun pintu, yang bergoyang seperti lidah anjing yang menjulur-julur, tersembulah wajah seorang lelaki tua yang bertubuh ceking yang wajahnya terbungkus baju dekil seperti kain kafan. Matanya penuh guratan akar warna darah. Jika menyeringai, gigi depannya yang tinggal dua terlihat menjijikkan. Kulit muka orang itu keriput dan penuh benjolan aneh.
Lelaki tua itu hanya berdiri membatu di tengah mulut pintu yang sekarang sudah mengaga seperti mulut budak yang ditarik kulit kepalanya ke arah belakang. Bulu kudukku meremang. Mata hitamku membasah. Kulit keningku mengernyit. Tubuh cekingku bergetar, mengajak bibirku mengikutinya bergetar. Gigiku terkatup sebak terbebani oleh nafsu dan balas dendam. Aku menarik kepalaku di bawah kedua telapak tanganku yang menekannya sampai ke posisi di bawah dada. Aku memucat. Kulihat lelaki itu sebagaimana cermin menyerupai diriku. Aku terheran, tapi tak punya daya, seperti orang tidur yang hendak bergerak tapi tak kuasa menggerakkan anggota tubuhnya. Seringainya seperti seringaiku. Matanya memandang, menebarkan kekosongan ruang dan waktu. Kedatangannya menebarkan aroma aneh dan menjijikkan. Lagi-lagi dia menyeringai.
Dengan bergetar, aku hendak menyuguhi tamu aneh ini dengan sekendi tuak istimewa yang pernah kubeli di Pasar Turi. Gemetaran, aku mengembangkan tangan kananku ke arah sekendi tuak yang terserak di bawah ruangan bengkok menyerupai huruf b ini. Di dekatnya ada lubang angin sebesar kepalan tangan orang dewasa berjejer 4, saat itu mataku terbentur sebuah rumah yang membelakangi rumahku: halaman depan rumah itu mempertontonkan sosok lelaki tua berbadan ceking terbungkus baju dekil kain kafan. Sambil merangkak, dia mendekap kepala perempuan yang berlumuran darah dan muncrat. Mukanya dibungkus surban putih tulang, terkoyak di bagian atas dan bawahnya. Kaki kanannya menginjak wanita yang berbalut kain hitam dan pagutan warna kematian: hitam dan merah, dengan tangan masih menggenggam buku berwarna hitam.
Saat lelaki tua itu bangkit, wanita itu berdiri tanpa kepala, tetapi kepala yang telah putus itu, melototkan matanya kepadaku, di balik dekapanku. Mata itu berpendar menjerat hati, membuat hidupku tersulut dan mencair. Aku sedih, tidak, aku senang, ah tidak, andaikata dia tidak memaksaku melukisnya dan diriku di atas tubuhnya! Namun, sampai saat ini, kerlingan jahat sepasang mata itu, membekas selamanya. Tubuhnya yang bagai sutra, semampai, dan berwarna merah pudar itu, dengan sepasang mata yang berpendar menjerat hati, membuat hidupku tersulut dan mencair perlahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s