Bilik Zikir


Hujan mengguyur bumi sangat lebat. Orang-orang di jalan berlari berteduh di toko-toko sepanjang trotoar. Para pengendara motor berebut tempat parkir di emperan toko. Pedagang kaki lima bergegas mengemas dan menutupi barang dagangannya dengan terpal. Hanya mobil-mobil angkot yang tetap antri dalam pengapnya kemacetan. Di Seberang jalan dekat tiang listrik yang hampir roboh, seperti berhari-hari sebelumnya, seorang pemuda berpayung tertegun di tengah guyuran hujan. Sesekali pemuda itu mengusap keningnya yang terkena tampyas. Wajahnya yang cekung terhapus oleh sorot matanya yang bagaikan ingin menerkam apa saja. Mata itu memandang ke langit. Dari mata itu terlahir idealisme: jangan pernah mengaku manusia, jika tak dapat menjadi yang luar biasa.
Air hujan semakin lebat mengguyur, seperti ribuan air ember disiramkan secara bersama-sama. Kemacetan semakin menjadi. Bunyi klakson saling sahut, melahirkan irama sumbang yang mengiringi deru geluduk dan hujan. Sesekali kilat menyambar, melahirkan kesumbangan lain. Para pedagang terlihat gelisah. Pemuda itu masih berdiri mematung dengan payungnya. Bibirnya yang menghitam karena rokok itu gemetar, entah karena dingin atau sathahat. Tak henti-hentinya tangan kanannya memegang payung, sedang tangan kiri memegang pipi kirinya dengan jari-jari menyentuh telinga; mendengarkan suaranya sendiri mengalun: Tuhan Yang Maha Besar, laut yang maha dalam, aku berpijak di atas segala jiwa. Tatkala aku bersuara, maka suaraku didengarkan. Bagaikan harimau mengaumkan pijaran suara api, suaraku. Bagai malam membentang sayap kemegahan gelap, suaraku. Jadilah-jadilah, maka apa yang aku harapkan terjadi.
Pemuda itu begitu yakin bahwa kilat dan gemuruh adalah jawaban yang terlontar demi seribu kata-kata yang mengitarinya. Bahwa tak ada jiwa yang tak tersentuh oleh rajutan katanya. Bahkan, air hujan itu adalah wujud nyata dari rimbunan doa yang terangkat ke mendung, mengembun dan turun ke bumi menjadi apa saja.
Payung itu tetap dipegang. Mata yang tadinya tajam menjadi sayu. Pandangan yang tadinya ke langit turun ke bukit-bukit. Warna-warna pelangi bergelayut di mata itu. Melapisi jalanan yang terendam air. Dalam sekumpulan warna itu dia melihat bayangan Walarsih, isterinya. Tersenyum, melambai dan menangis. Sudah hampir 1 jam dia berdiri di pinggir jalan itu.
Air hujan tak lagi mengguyur deras, menjadi gerimis kecil, membalut kesejukan. Genangan-genangan air tercipta sebak danau toba tercipta di mana-mana. Kemacetan masih terjadi. Pengendara motor sudah mulai berani menjalankan motornya. Satu dua pedagang tampak merapikan kios-kios. Tubuh pemuda itu bergetar. Bibirnya yang menghitam menjadi membiru buah Kecombrang bercermin warna langit. Dengan tubuh bawah kuyup dan bergetar, dia mulai menggulung payung tuanya dan berjalan ke arah pasar.
“Kenapa berhenti bertapa, Ja’far? Bukankah ajaranku belum semuanya kau laksanakan?” Suara itu begitu jelas terdengar di telinganya.
Pemuda yang akrab dipanggil Ja’far itu menoleh dan berkata, “Aku tahu. Tapi aku tidak kuat lagi. Semua orang sepertinya menganggapku gila.” Pemuda itu pun terus berjalan ke arah pasar dan hilang di balik kios rokok.
“Kok cepat pulang, Bang? Tanya Walarsih, isteri Ja’far.
“Hari ini sepi, Sih, jadi Abang cepat pulang,” Jelas Ja’far mengelak.
“Lalu, pendapatan hari ini?”
“Hanya ini,” sambil memberikan uang 10 ribu, seperti biasa, Ja’far pun ngeloyor ke arah kamar khusus.
Dalam kamar khusus itu—begitu Ja’far selalu menyebut kamar tempatnya melamun, Ja’far selalu menghabiskan waktunya di malam hari. Tapi, tidak seperti biasanya, siang itu di kamar khusus itu, Ja’far merebahkan diri. Tidak lagi membaca mantra.
“Bang, sudahlah, saya tidak akan menuntut macam-macam lagi,” Walarsih berteriak agar suaranya terdengar oleh suaminya.
“Kamu diam saja. Aku ini masih sadar. Masih waras.”
“Tapi, Bang, hari ini aku harus mengajar. Bagaimana nanti kalau Abang ngurung di kamar terus?”
“Ngajar saja sana. Sebentar lagi, aku yang akan bayar kamu. Dan kamu tidak perlu mengajar.”
‘Mengapa tak pernah ada yang mengerti rahasia alam?’ Gumamnya. ‘Orang hanya mengerti soal-soal yang remeh-temeh: bekerja pagi-pagi dan berharap pulang membawa hasil. Di era posmo seperti ini, pemikiran gila masih saja ada, dan bahkan kebanyakan orang melakukannya. Ini saatnya orang harus menyadari, bahwa hidup itu sebenarnya sederhana. Di mana orang yang bisa menyatukan diri dengan alam dan berbaur dengan yang mbaurekso, dialah yang akan memenangkan pertarungan. Coba lihat Pak Suharno, dia dulu kaya-raya. Bahkan tidak ada yang bisa mengalahkan kekayaannya. Nyatanya sekarang dia kéré. Itu karena dia tak tahu rahasia hidup.’ “Larsih, kauhitung saja berapa kauingin aku gaji nanti,” Ja’far berteriak kepada isterinya.
“Bang, saya berangkat dulu ya. Pintu tidak aku kunci.”
“Ya, berangkatlah. Hati-hati di jalan.” Dan Ja’far pun melanjutkan kontemplasinya; menjalani kehidupan yang diyakininya hanya segelintir orang yang terpilih yang rela tarak sepertinya. Aku ini orang pilihan. Dipilih oleh Tuhan, yang dititiskan kepadaku roh-roh suci sepanjang sejarah. Sudah selayaknya menderita sesaat dan hidup abadi di ruang di mana manusia biasa tak dapat menjangkaunya. Dan aku bukan orang gila. Rupanya aku termasuk orang-orang beruntung karena dianggap gila. Padahal merekalah yang gila. Isteriku? Sebentar lagi dia akan takluk kepadaku. Aku yang hanya lulusan SMA ini akan memiliki berjuta hikmah yang tak dimiliki oleh isteriku yang mempunyai gelar Master itu.
Sore tiba, Walarsih belum juga datang. Ja’far pun keluar dari ruang kontemplasinya. Ja’far yang merasa sudah dirasuki roh-roh hebat pelaku sejarah itu, mulai gelisah. Ah, tak mungkin orang besar seperti aku ini gelisah. Tapi, isterinya belum pulang juga sampai maghrib datang. ‘Larsih, kau pasti mulai kagum kepadaku. Kau mulai merasakan wibawaku sebelum kau meninggalkan rumah tadi. Atau mungkin, sebenarnya kau mengetahui sejak sebulan yang lalu, bahwa aku memang orang yang luar biasa? Ha ha ha, rupanya kau hanya pura-pura. Dasar wanita…’
Ja’far memejamkan mata, berharap ada kata-kata dari kumpulan orang terpilih yang akan membimbingnya. Dan dunia pun mulai hening.
Tuhan Yang Maha Agung, pohon-pohon yang maha teduh dan kokoh. Aku berpijak di atas segala jiwa. Tatkala aku bertanya, didengarkan suaraku dan dikabulkan jawabannya. Bagaikan harimau mengaumkan hembusan angin suara. Bagaikan halilintar mendenguskan ribuan amarah. Jika aku berharap sesuatu, terkabullah harapan itu. Maka, jawablah, ke mana isteriku pergi. Jika dia tersesat, temukan olehnya jalan searah guratan-guratan telapak tanganku. Kugenggam dan kembalilah…
Dalam semedinya menuju jurang-jurang, Ja’far melihat isterinya dalam kegelapan, tertawa dan menari-nari. “Tuhan,” katanya kaget, “Ada apa ini? Siapa yang sedang bersamanya?” Tangannya menggenggam tasbih erat-erat. Diputar-putarnya tasbih itu ribuan putaran sampai memutih hingga tampak seperti cahaya menyilaukan. Dalam kilatan cahaya itulah dia melihat seseorang bersama isterinya berbagi duka. Bercerita tanpa bahasa. Berbicara tanpa kata-kata. Tertawa dan merintih dialiri berliter-liter keringat, yang entah kenapa, keringat itu mengalir tanpa ada kain penyerap. Dia melihat hal-hal yang begitu menyakitkan hatinya sebagai suami. Tangannya menggenggam kehampaan. Mulutnya berteriak tanpa suara. Matanya terbuka tanpa daya pengelihatan. Tubuhnya gemetar. “Hanya Tuhanlah yang mengetahui apa yang akan terjadi kepadamu, Larsih.”
********
Cuaca tak lagi hujan. Orang-orang tak lagi berlari menghindari guyuran air langit itu. Jam di dinding berdentang 9 kali. Sudah 4 jam Ja’far menunggu isterinya. Berbagai perasaan bergejolak di hatinya. Tampak di wajahnya kebingungan: hukuman Tuhan atau kasih sayang suami? Lagi-lagi, jiwa-jiwa itu meyakinkannya bahwa dia hidup bukan untuk dirinya sendiri apalagi untuk isterinya. Kepada Tuhanlah dia mengabdi. Dan semua pemandangan kontemplatif tadi sore adalah petunjuk aksiomatik: seorang isteri yang berkhianat kepada suaminya memang harus mendapat hukuman.
“Sudah datang kau, Larsih?”
“Ya, Bang.”
Ribuan tahun yang lalu, kejadian seperti ini juga pernah terjadi. Dan Tuhan menghukum wanita itu dengan hukuman yang amat berat. Lebih-lebih, seorang terpilih tidak akan menanyakan kejadian yang jelas diketahuinya dari Tuhan kepada hamba yang hina-dina.
“Dari mana saja kau?”
“Ngajar, Bang.”
“Kok lama?”
“Mmmm..”
“Macet, ya?”
“Nah, itu Abang tahu.” Sambil meletakkan tumpukan berkas di meja, Larsih pun pergi ke dapur.
Tumpukan berkas itu lebih mirip seperti tumpukan kata-kata yang menghina Ja’far. Bahwa dia hanya seorang lulusan SMA yang tak akan mengerti dengan bahasa-bahasa teknis yang dikuasai isterinya yang S-2 itu; bahwa lembaran-lembaran itu adalah bukti kelemahan Ja’far atas isterinya; bahwa seorang suami seharusnya lebih bisa membanting berkas-berkas yang lebih berkualitas dan lebih banyak dari yang baru saja dibanting isterinya. ‘Kaupikir siapa kau itu? Kau sama saja dengan orang-orang awam di luar sana, melihat orang hanya dari wujud fisiknya saja. Semua sudah terekam di sini, di otak ini. Di mata ini tak ada lagi rahasia. Karena alam sudah menyatu denganku. Dan aku bukan lagi suami dengan jiwa seorang pedagang buah. Ribuan tahun silam aku sudah hidup. Tentu saja pengalamanku melebihi raja-raja Majapahit sekalipun.’ Jadi, Ja’far berdiri mendekati isterinya.
Ja’far tampak tegang. Wajahnya memerah, bagaikan seorang Nabi yang sedang menerima wahyu. Tangannya mengepal. Matanya melotot. Dalam keadaan demikain, dia sempat berpikir, ‘Apakah yang dia lihat tadi benar adanya? Tidakkah hal itu perlu aku pertanyakan dulu kepada isteriku? Ah, tidak. Semuanya sudah jelas! Tuhan tidak akan pernah salah. Tapi.. ah, sekali aku tergoda dengan godaan, maka keterpilihanku akan luntur!’
“Larsih, kau sekarang sedang senang.”
“Kok Abang tahu? Hebat!”
“Kau pasti telah mengalami sesuatu yang ingin kaurahasiakan kepadaku.”
“Mmmm..?”
“Jawab saja, ya atau tidak.”
“Abang seperti mengetahui sesuatu?”
Ja’far terdiam. Tampak di wajahnya guratan kekecewaan dan kesenangan. Kecewa atas kelakuan isterinya; dan senang karena pengelihatan gaibnya benar adanya.
“Aku tahu, kau habis berzinah dengan lelaki lain.”
Belum lagi isterinya menjawab Ja’far berkata lagi, “Jangan berkata apa-apa. Aku tahu segalanya. Kau sekarang tidurlah. Jika aku masih melihatmu bangun, maka jangan salahkan aku kalau aku membunuhmu,” suara Ja’far begitu meyakinkan ditambah pukulan tangan kanannya ke atas meja.
“Jika aku tidak memandang Bapakmu, aku sudah ceraikan kamu. Tidurlah, dan jangan macam-macam!”
Larsih pun pergi ke kamar tidur. Terdengar suara sesenggukan dari kamar itu. Sambil memegangi kado kejutan yang akan diberikan kepada suaminya, Larsih pun tertidur.
********
Malam itu Ja’far tak tidur; duduk bersila di kamar khususnya. Sepanjang malam dia hanya bersila dan termenung. Betapa rahasia tidak ada lagi baginya. Apa yang dia inginkan, tidak lagi menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan. Dia bilang A, maka jadinya akan A pula. Begitu hebatnya. Sungguh luar biasa. Di depan matanya ada sejuta pilihan, dan suara-suara orang merintih, tertawa, menangis, menjadi satu. Gelap dan terang tak lagi persoalan. Setumpuk kesengsaraan tampak menjauh berwujud bayang. Tangan-tangannya kini bak belati tajam yang siap menghukum hamba-hamba pembangkang. Jreb, jreb, jreb, maka semua dosa terampuni. Heh, termasuk dosa isterinya. Jadi, apa juga yang aku cari? Katanya bertanya kepada dirinya sendiri. Bisnis yang selama ini aku jalankan terlalu kecil. Ini dia buah dari kesabaran dan ketenangan. Air hujan yang selama 1 bulan ini mengguyurku, mendatangkan begitu banyak hikmah. ‘Ohoi, begitu hebatnya diriku sekarang. Larsi, larsi, kau begitu bodoh. Semua perbuatanmu aku maafkan. Bukankah begitu sikap seorang pilihan? Esok pagi, kau akan mendapat kejutan.’
Dalam keadaan seperti itu, Ja’far menjadi begitu yakin akan manunggalnya jiwanya dengan alam. Jadi, dia mencoba untuk diam hening dan memejamkan mata.
Tuhan Yang Maha Agung, hujan yang maha teduh dan bijak. Aku berpijak di atas segala jiwa. Tatkala aku menginginkan sesuatu, didengarkan suaraku dan diwujudkan keinginanku. Bagaikan harimau melaksa di halaman didengar suaraku. Bagaikan gajah meringkih, didengar suaraku. Jika aku berharap sesuatu, terkabullah harapan itu. Maka, wujudlah, apa yang harus aku lakukan. Dengan suaraku, temukan untukku jiwa-jiwa. Ampunilah untukku dosa-dosa…
Malam telah lewat. Pagi itu tak lagi mendung. Udara begitu sejuk. Awal yang baik untuk memulai aktifitas. Terdengar kegaduhan dari belakang rumahnya. Ja’far pun terbangun dari semadinya. Wajahnya yang cekung, semakin kelihatan seperti tak berdaging. Matanya menjadi semerah darah. Tapi, ada guratan kebahagiaan di wajah yang pucat itu.
“Permisi..,” terdengar suara beberapa orang di depan rumahnya.
Ja’far beranjak dari tempat duduknya dan membukakan pintu.
“Maaf, siapa ya?”
“Saya dari kepolisian mencari saudara Ja’far.”
“Ya, saya sendiri. Ada masalah apa?” Ja’far tampak bingung. Inikah hasil semediku? Kepolisian? Apa hubungannya?
Lalu, Polisi pun mengajak Ja’far pergi ke belakang rumahnya. Di situ tampak banyak sekali tetangganya mengerumuni sesuatu. Setalah kerumunan itu tersibak, tampak sosok mayat perempuan roboh dengan beberapa tusukan di kepala dan perutnya. Mayat itu adalah isterinya, Larsih. Di perut mayat itu, tertancap pisau dapur milik Ja’far. Di tangan Ja’far pun menempel banyak bercak darah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s