Mohammad Jevera Lateef


SEMAK-SEMAK yang dilaluinya berduri. Tangan dan kakinya berdarah. Dia berlari terengah menuju arah sinar kecil di ujung matanya. Tanah yang gembur oleh hujan terasa menggelitik sela-sela jari kaki. Udara yang lembab seperti memeluk seluruh tubuh, terasa seperti selimut lembut membalut kulit. Sinar kecil semakin membesar. Ujung matanya tak pernah lepas dari sinar itu. Sesekali terdengar lolongan anjing. Jangkrik juga tak henti-hentinya bersuara. Semakin ke depan, gundukan tanah semakin mengeras, tak lagi gembur. Terasa oleh telapak kakinya seperti ada karang. Hentakan kakinya membauat sakit tulang tumit. Tapi duri semak sudah berlalu. Sinar itu semakin jelas. Itu berasal dari rumah. Terengah-engah nafasnya terdengar. Diraba ujung kanan pinggulnya, tercerabut sebuah tempat minum. Tetapi dia memasam saat mengetahui kocokannya terhadap tempat minum itu tak berbalas air. Dia tersedu, mengeluarkan air mata. Terduduk memegangi lutut. Merebahkan kepala di atas lutut.

SEPERTI BIASA, semak-semak itu disibak satu demi satu. Kali ini tangannya tidak tergores oleh duri-duri. Tapi kaki-kakinya masih berdarah. Sinar di ujung matanya semakin besar. Angin berdesir di sekujur tubuh. Lolongan anjing terdengar sangat samar. Jangkrik yang masih sekeras hari-hari sebelumnya. Ia hentakkan kakinya, rumput berembun membalas dengan suara seperti orang berdecak. Saat engahan nafasnya mulai bersahutan, tempat minum yang digantung di pinggang kanannya bergemericik entah dari mana. Tapi dia tetap menangis. Dia tersedu. Melihat sinar yang semakin jelas. Mendengar alunan musik yang samar-samar. Jari-jari tangannya bergoyang. Dia terduduk sambil memegangi lutut dan merebahkan kepala di atasnya. Sinar semakin besar, tampak sebuah rumah mewah di seberang sana. Rumah itu seperti ada di atas awan. Semakin sering dia memandangi rumah, semakin perih kerongkongan dan perutnya. Ada alunan musik terdengar lirih lagi. Pandangan matanya menghentak ke kanan ke kiri: bertanya, dari mana datangnya suara.

HARI ITU tidak ada semak. Tidak ada duri yang menusuk. Tidak ada lolongan anjing dan jangkrik. Tidak ada karang atau rumput. Dia tidak menangis dan terengah-engah. Hari itu sinar tak lagi kecil. Hari itu sinar mengurungnya dari segala arah. Sinar putih matahari. Dia bisa melihat rumah mewah itu. Tapi tatapan matanya menghentak-hentak ke segala arah. Tak terdengar olehnya musik samara semalam. Dia lihat lagi rumah itu, rumah yang dikenalnya sejak dia bayi. Semakin dekat langkah kakinya menuju rumah itu. Terasa aroma bunga menyengat hidungnya. Daun pintu rumah yang terpampang menggambarkan wajah dan senyumnya. Di sana tampak seorang wanita menyambutnya dengan senyum. Dia melangkah mendekat, mempertanyakan alunan nada. Perempuan itu isterinya, dia menjawab dengan telunjuk mengarah ke sebuah piano coklat. Dia menatap tak ada lelaki di sana. Matanya tertuju pada foto yang tertempel di dinding. Dia bertanya keberadaan orang di foto itu. Perempuan itu menuntunnya ke arah taman dimana ditanam ribuan bunga. Harum bunga semakin menusuk hidungnya. Dia melangkah kea rah alunan nada mulai terdengar lagi. Kali ini tidak dari piano, tapi dari sebuah gitar. Bunyinya aneh, karena terdengar seperti suara seruling dipadu dengan gending dan gitar. Tapi dia hanya melihat satu orang yang memainkannya. Dia terus melangkah sambil memanggil, “Jevera, musik yang kau mainkan sungguh indah. Papa ingin mendengarnya berjuta hari lagi,” dia berkata sambil menangis. “Pa, tak perlu takut perpisahan, karena pertemuan baru saja dimulai. Abadikan terus musik ananda dalam hati Papanda. Maka kehidupan (Jevera) akan abadi di hati kita: mama, papa dan Jev.”

HARI ITU semua tak bertemu semak. Suara jangkrik dan lolongan anjing tidak ada. Sinar tidak lagi kecil. Rumah beraroma bunga semerbak. Musik bersenandung di langkah-langkah anggota keluarga. Waktu dini hari anak itu lahir, terdengar suara zikir dari alam lain. Terdengar suara takbir dari alam keabadian. Mimpi harimau memakan kambing. Mimpi ayam jago berkokok dengan bangganya. Mimpi terlahir anak ajaib dari rahim isteri. Mimpi teralun musik dan zikir di ladang bunga hati dan nurani. Mimpi itu sekarang telah nyata. Terlahir anakku Mohammad Jevera Lateef. Semoga hidup selalu ramah kepadamu wahai kehidupanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s