Menimba Teladan dari Abdullah Bin ‘Amr Al-Anshari


Jika ada orang yang paling tepat untuk dijaikan icon konsistensi dan kesetiaan, maka Abdullah bin ‘Amr-la orangnya. Abdullah bin’ Amr adalah seseorang yang masuk Islam pada peristiwa Bai’at al-Aqabah. Setelah masuk Islam, dia termasuk dari 12 orang pemimpin yang diutus oleh Rasulullah SAW ke Madinah. Abdullah bin ‘Amr pun merupakan salah seorang yang ikut serta pada pertempuran Badar. Pada perang Uhud, ‘Amr termasuk dari sedikit orang yang setia melakasanakan perintah Rasul sementara banyak lainnya desersi. Pada perang Uhud itulah, tentara musyrik akhirnya membunuh Abdullah bin’ Amr dan menyayat-nyayat mukanya.
Saat putranya yang bernama Jabir bin Abdullah, salah seorang perawi Hadits, mencoba membuka wajah ayahnya yang telah meninggal, Rasulullah SAW mencegahnya. Fathimah, Puteri Rasul, yang sempat melihat wajah itu, menjerit. Mendengar jeritan itu Rasulullah SAW berkata, “Janganlah engkau menangis. Sesungguhnya para malaikat terus-menerus menaunginya dengan sayap-sayap mereka.” Kepada Abdullah bin ‘Amr Nabi bersabda, “Allah telah menjadikan ayahmu hidup dan bicara dengan-Nya langsung, padahal tidak ada seorang pun yang diajak bicara langsung oleh Allah, melainkan dari balik tabir. Allah berfirman kepadanya, “Hai hamba-Ku, apa yang engkau inginkan?’ Ayahmu menjawab, “Ya Allah, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat gugur kembali di jalan-Mu.” Allah menjawab, “Hal itu telah menjadi ketetapan-Ku bahwa manusia yang telah mati tidak akan kembali ke dunia.” Maka, ayahmui berkata, “Ya Tuhanku, kalau begitu sampaikanlah kepada orang-orang di belakangku.” Lalu turunlah ayat:
“Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur fi sabilillah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan,^ gembira disebabkan karunia Allah yang dianugerahkan-NyoM kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati. ” (QS. AH Imran:169-170)
Maka, Abdullah bin ‘Amr Al-‘Anshari menjadi seperti seorang Mukmin yang disebutkan dalam surat Yasin, “Dikatakan [kepadanya], “Masuklah ke surga. ” la berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui. Apa yang rnenyebabkan Rabbku memberi ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (QS. Yasin: 26-27)

Bad Politician Good Politician

Sebenarnya, pengertian politisi awalnya sangat sederhana, yaitu orang-orang yang berkecimpung dalam politik praktis, muaranya adalah partai. Orang-orang partai ini ada yang berhasil menjadi legislator atau anggota DPR ada yang cuma bermain di dalam partai saja. Namun, saat ini tidak bisa disebut begitu, karena jika kita berbicara masalah politik, maka kita berbicara masalah seluruh kekuasaan yang ada di negara: dari eselon 2, eselon 1 yang terdiri dari para dirjen, irjen dan seterusnya, menteri, gubernur, walikota, dan seterusnya dan seterusnya. itu artinya, mengartikan politisi sekarang tidaklah sesederhana itu.

Jika begitu, maka peran dari para politisi ini sangatlah luas. Terutama adalah peran dalam memainkan peta kekuasaan di negara. Seorang jaksa, bisa jadi adalah seorang politisi, yaitu orang partai yang ditempatkan untuk menyelamatkan banyak kader suatu partai atau penguasa. Seorang ketua suatu Komisi, semisal KPK, bisa jadi adalah orang partai (meskipun pada kenyataannya dia bukan anggota partai tertentu) yang ditempatkan untuk tujuan-tujuan politis tertentu.

Begitu dominannya peran politik para poli-tikus sehingga hanya menyisakan ruang kecil bagi selain mereka. Jalan yang rusak di prime site bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak dihirukan bisa terjadi jika politisi, dalam hal ini pejabat pemda, tidak menemukan keuntungan dalam perbaikan jalan yang rusak tersebut. Sebuah kompleks pelacuran yang jelas-jelas merusak, bisa saja menjadi arena meraup keuntungan bagi politisi sehingga dibiarkan tanpa hambatan. Premanisme dapat saja merajalela tanpa ada penanganan serius jika pelakunya, yaitu para preman, dianggap patuh dan berjalan sesuai dengan plot politik para politisi.

Prilaku politik ini akan terus terjadi sesuai dengan kemauan politik pejabat-pejabat teras politik yang berkuasa. President, Wapres, Para Menteri, dan para cukongnyalah yang berkuasa menentukan langgengnya prilaku politik semacam ini. Mereka seolah-olah punya rencana besar untuk menggerogoti bangsa ini dan membodohi rakyat yang sebenarnya mengetahui tapi tidak berdaya.

Tapi, sebenarnya, ketidakberdayaan rakyat ini berakar dari satu hal, yaitu tidak adanya prinsip hidup yang jelas. Sejauh rakyat takut mati, cinta dunia, mengagung-agungkan harta dan kekuasaan, hormat berlebihan kepada uang dan kekayaan—dalam hal ini orang-orang kaya dan penguasa, maka mereka akan terus ditindas dan dibodohi. Hidup mereka akan terus menjadi ladang yang paling subur untuk kampanye para penguasa dan cukongnya.
Ketiadaan prinsip hidup yang jelas inilah sumber malapetaka bagi rakyat jelata. Takut miskin, tapi nyatanya sudah miskin. Cinta harta, tapi nyatanya tidak punya harta. Hormat berlebihan kepada orang kaya atau penguasa, tapi nyatanya tak ada dari mereka satu pun yang menghargai penghormatan tersebut. Mestinya ini merupakan cambuk yang paling menyakitkan bagi rakyat untuk berbenah. Jangan takut miskin (lah wong sudah miskin), ikuti hati nurani, dan jangan lupa, ikuti anjuran agama.

Apa anjuran agama untuk kita? Salah satunya meneladani Rasul dan para sahabatnya. Kisah hidup Abullah bin ‘Amr harus menginspirasi rakyat bahwa hidup ini perlu pemimpin yang membawa kita ke jalan yang benar. Apa itu jalan yang benar? Yaitu jalan yang sesuai dengan cita-cita agama: kemakmuran, pemerataan kekayaan, anti kemiskinan, anti kebodohan, keadilan dan seterusnya. Pemimpin yang seperti itu tidak lahir dari kampanye, politik uang, intimidasi, dan politik pencitraan. Pemimpin seperti itu lahir di tengah-tengah rakyat, yaitu bahwa pemimpin tersebut tidak lahir ujug-ujug. Dia lahir saat rakyat membutuhkan pekerjaan. Dia lahir saat rakyat membutuhkan pasar untuk produk-produk dagang mereka. Dia lahir saat puso. Dia hadir saat kebodohan menjerat rakyat. Dia terlahir di tengah-tengah wabah, kelaparan, bencana, kemiskinan, tangisan orang-orang yang tidak bisa berobat, dan seterusnya. Kelahirannya tentu saja membawa solusi bagi mereka.

Nah, untuk pemimpin yang seperti inilah rakyat harus berkommitmen, seperti komitmennya Abdullah bin ‘Amr. Mati untuk mereka adalah syahid. Darah yang mengalir untuk mereka adalah perjuangan bagi anak cucu. Peluh yang membanjir adalah sedekah jariyah. Untuk pemimpin seperti inilah prinsip rakyat harus diteguhkan. Artinya, no way untuk pemimpin lembek! No way untuk pemimpin karbitan kampanye atau pencitraan. No way untuk pemimpin yang bisanya ngomong doang tapi pada kenyataannya tidak bisa berbuat banyak menghadapi masalah-masalah. No way untuk pemimpin yang bisanya hanya excuse, menyalahkan kondisi global, menyalakan keadaan alam, menyalakan orang lain dan seterusnya. no way untuk pemimpin palsu.

Tapi, apakah Indonesia punya pemimpin yang tidak lahir ujug-ujug seperti itu? Nah, justru di sinilah prinsip rakyat dipertaruhkan. Mau terus-terusan seperti sekarang, miskin, bodoh, diremehkan bangsa lain, looser? Itu semua tergantung kita masing-masing.

One thought on “Menimba Teladan dari Abdullah Bin ‘Amr Al-Anshari

  1. assalamualikum Wr. Wb. saya sangat tertarik dengan salah satu sahabat nabi ini, yaitu abdullah bin amr bin ash. maka dari itu tolong dikirimimkan chalib biodata beserta cara ibadahnya ke alamat email saya. saya tunggu! terima kasih……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s