SBY VS. Abdullah bin Abbas


Tulisan ini jelas tidak ingin membandingkan SBY dengan Abdullah bin Abbas dari segi kedalaman spiritual atau perbandingan head to head kedalaman keilmuan antara keduanya. Jelas tidak sebanding. Tulisan ini ingin memberikan teladan yang baik bagi orang-orang semacam SBY untuk bertindak dan berperilaku.
***********
AKHIR-AKHIR ini rakyat melihat SBY—yang dulunya lembut dan santun, bahkan dialah orang yang dibesarkan oleh tindakan zalim yang ditujukan kepadanya—sangat arrogant dan cenderung mengabaikan kepentingan bangsa.
Hitung-hitugannya sih masuk akal: bahwa dia akan menang dalam PIPLRES dan sudah tentu berkuasa lagi selama 5 tahun. Namun, 5 tahun kekuasannya akan de javu, yaitu pemerintahan yang kurang solid dan tidak kuat.
Sebagai pemimpin yang hebat, mestinya dia mengedepankan kepentingan bangsa dan negara ketimbang emosi dan gengsi. Dengan menolak Golkar—apapun caranya, karena untuk bergabung dengan PDIP tidak mungkin, SBY telah membuat peta politik menjadi semakin cenderung ke arah destruksi. Parlemen akan terpecah menjadi kubu kuat dan kubu lemah. Celakanya, pemerintah—jika SBY terpilih lagi—menjadi kubu yang lemah. Dimana setiap keputusannya akan berhadapan dengan batu cadas koalisi Golkar, PDIP, Gerindra, Hanura, dan banyak partai gurem yang geram terhadap hasil PILEG.
Jika karena terlalu pede akan memenangkan PIPLRES membuat SBY tak acuh kepada kepentingan negara, maka hal ini sangat berbahaya. Karena masyarakat lagi-lagi dihadapkan pada permasalahan yang sama sepanjang hayatnya: pemimpin hanya mengurusi urusan sendiri ketimbang bekerja untuk rakyat. Alih-alih memikirkan hari depan anak cucu, hari ini untuk diri sendiri saja sudah sangat terdesak. Kemiskinan ibarat teman sehidup semati. Negara dan rakyatnya seperti tak ada korelasinya. Semua urusan menjadi urusan rakyat, sementara urusan negara menjadi urusan rakyat. Pajak semakin banyak. Penghasilan semakin sedikit. Kebutuhan begitu banyak, kewajiban dari negara tambah mencekik. Tiap hari rakyat diberikan tontonan politik dan berita pencapaian pemerintah, namun rakyat tetap bahkan lebih menderita dari sebelumnya.
Atau karena merasa sudah menguasai medan politik? Jika itu yang terjadi, SBY mesti sujud meminta ampun kepada Allah swt. Tidak ada dalam kamus Islam bahwa orang pinter mesti overconfident. Jangankan menyombongkan diri—dengan demikian merendahkan pihak lain, tidak mengamalkan ilmunya saja akan menjadi dosa besar yang tidak mudah terampuni dalam Islam. Dalam Islam, ada hierarki yang jelas. Yang besar mengasihi yang kecil, yang kecil menghormati yang tua. Yang pintar mengasihi yang bodoh, yang bodoh menghormati yang pintar. Yang kaya berbagi kekayaan kepada yang miskin, yang miskin menghargainya dengan doa dan penghormatan. Demikian juga dengan yang di atas angin, dia mesti mengerti betul posisi itu adalah anugerah dari Allah melalui rakyat, dan harus dijaga betul dengan mengedepankan kepentingan bangsa daripada emosi.

Mari kita menuju Abdullah bin Abbas sejenak. Sejak kecil, Abdullah bin Abbas dididik oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekalipun anak-anak, Abdullah bin Abbas sangat memahami apa yang didengarnya dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Dia mengumpulkan banyak masalah dan menelitinya. Ia pernah berkata tentang dirinya. ”Aku menanyakan satu masalah kepada tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.” Motto Abdullah bin Abbas dalam mencari ilmu adalah: Banyak bertanya dan banyak berpikir.
Kenyataan ini menempatkan Abdullah bin Abbas sebagai orang yang teliti dalam menentukan keputusan dan pribadi yang berperilaku. Sebagai anak-anak, tindakannya sangat dewasa, jauh dari pribadi yang emosional, dan berkecenderungan menampakkan tindakan leadership yang sangat dalam. Sebaliknya, SBY—dan banyak pemimpin lain, seperti JK, Megawati dan yang lainnya—lebih sering bersifat reaktif dan emosional, walaupun reaksinya sangat berkaitan erat dengan kehidupan rakyat.
Sa’ad bin Abi Waqqash pernah menggambarkannya bahwa dia tidak pernah melihat seorang pun yang lebih tepat pemahamannya, lebih luas otaknya, lebih banyak ilmunya, lebih santun pergaulannya selain Ibnu Abbas. Dia menyaksikan Umar sering memanggilnya untuk masalah-masalah pelik padahal, di sampingnya terdapat para sahabat pengikut perang Badar yang terdiri dari sahabat Muhajirin dan Anshar. Manakala Ibnu Abbas mengungkapkan satu keterangan, Umar pasti mendukungnya. SBY di sisi lain adalah pribadi yang menawan dan santun. Namun, tidak salah jika JK, sang wakil President, memploklamirkan dirinya sebagai orang yang lebih cepat dan lebih baik. Karena, seringkali jika berhadapan dengan masalah pelik, SBY kelihatan ragu dan demam panggung, alih-alih memberikan ketenangan, justru JK-lah yang akhirnya turun ke lapangan, atau mengambil alih keputusan rapat.
Seperti halnya Sa’ad bin Abi Waqqash, Ubaidillah bin Utbah menggambarkan Ibnu Abbas sebagai orang yang sangat mendalam dalam bidang fiqih, syair, bahasa Arab, tafsir al-Qur’an, matematika, dan faraidh. Hari pertama ia duduk di majelis untuk mengajarkan fiqih, hari berikutnya mengajarkan tafsir, keesokannya mengajarkan maghaziy (kisah-kisah), dan hari selanjutnya lagi mengajarkan tentang hari-hari besar dan sejarah Arab. SBY di sisi lain adalah seorang Doktor Pertanian. Dia juga tampak hebat menyampaikan visi-visinya di hadapan khalayak internasional. Tapi, tidak seperti Ibnu Abbas, SBY tampak kesulitan mengatur waktunya dalam menangani keseluruhan masalah yang dibebankannya dalam RPJM. Ini terbukti dengan banyaknya janji yang tidak terselesaikan sampai hampir akhir masa pemerintahannya. Alih-alih mengakui semua itu, malahan mengklaim bahwa pada masa pemerintahannya banyak sekali prestasi yang diraih: hutang dari IMF lunas, angka kemiskinan menurun, dan seterusnya. Padahal sebaliknya, hutang pada masa pemerintahannya sangat fantastis, sekitar USD 1 milyar. Sedangkan angka kemiskinan turun 1% dengan anggaran 1.000 trilyun.
Tak kurang dari Imam Ali bin Abi Thalib menggambarkan Ibnu Abbas seperti ini: “Dia mengambil tiga hal dan meninggalkan tiga hal lain: Mengambil hati para pemimpin manakala ia bicara, mendengarkan dengan balk manakala orang lain berkata, dan memilih yang paling ringan dari dua urusan bila harus menjalaninya. Meninggalkan perdebatan. meninggalkan berteman orang-orang jahat, serta meninggalkan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya.” SBY di sisi lain, tidak seperti dulu, setelah PIPLPRES yang berkecenderungan memenangkan partainya, SBY lebih kelihatan arogan, tutup mata atas carut-marut politik dan segala konswekwensi logisnya, kelihatan seperti orang yang tak acuh atas bahaya yang ditimbulkan oleh keputusannya menciptakan kekacauan politik di Indonesia.
Ilmu dan pemahaman Ibnu Abbas begitu luas dalam berbagai disiplin keilmuan. Kuat hapalannya, cemerlang otaknya, dan mampu meyakinkan kelompok Khawarij sehingga mereka tidak lagi memusuhi Ali. Sedangkan SBY di sisi lain sama sekali tidak mampu menangani arogansi partainya yang mabuk kemenangan. Tidak mampu meyakinkan mereka bahwa kemenangan partainya adalah hadiah manis dari rakyat untuk dijaga, bukan untuk dibangga-banggakan.
Abdullah bin Abbaslah yang menasihati Husain bin Ali ketika hendak keluar menuju Iraq. Manakala ia mendengar berita tentang kematian Husain, ia pun menangis. Semoga Allah meridhai Abdullah bin Abbas. Hingga suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya, “Ya Allah, berilah ia pemahaman tentang agama dan ajarkanlah kepadanya ta’wil (pemahaman AlQur’an).” (HR. Ahmad)
Semoga SBY pun mendapatkan hal yang sama seperti yang didapatkan oleh Abdullah bin Abbas, doa, minimal dari rakyatnya. Itu jika SBY menjaga amanat dan tidak sok pinter, sok berkuasa lalu lupa diri, dengan menekan pihak yang lemah. Rendah hati dan senantiasa dekat dengan hati rakyat adalah kunci merebut suara dan doa rakyat. Jangan sampai dukungan rakyat di PILEG berubah menjadi kebosanan karena melihat tingkahnya atau tingkah partainya yang tidak terkendali. Bagi partai lain yang tidak mendapat dukungan sebesar dia, berlaku demikian adalah hal yang tidak dihiraukan. Tetapi, bagi partai yang mendapat dukungan sebesar itu, maka tindakan apa pun yang tidak pro kebaikan, kerendahan hati, keikhlasan, maka akan berakibat fatal. Kita tunggu, apakah SBY dapat melupakan emosinya dan berpikir jernih demi rakyat? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s