SBY-JK: Perpisahanmu Symbol Kebobrokan Politik


Partai Demokrat, dengan SBY-nya, yang merasa di atas angin setelah menggaet lebih dari 20% suara di PILEG, merasa biasa-biasa saja melihat kondisi perpolitikan bangsa yang semerawut.

Partai Demokrat lebih suka bermain catur ketimbang melihat realitas bahwa janji-janji politik mereka di banyak hal masih banyak yang belum tepenuhi: angka pengangguran tahun 2008 8,4%, tidak sesuai dengan janji mereka yang 6,6%; penduduk miskin tahun 2007 15,4%, tidak sesuai dengan janji mereka yang 8,2%; tax ratio 12,1%, tidak sesuai dengan janji meraka yang 13,6%. Dan masih banyak lagi realitas-realitas yang mesti SBY-JK lihat alih-alih berpikir untuk putus-nyambung dan berkutat dengan masalah koalisi dagang sapi alias koalisi cari untung.

Musim Koalisi

Ibarat anak-anak yang sedang kehilangan teman sepermainannya sebagai sekutu, partai-partai sekarang sedang sibuk mencari sekutu-sekutu lain agar kesenangan mereka di dalam bermain tidak hilang. Setelah partai baru seperti Demokrat menjadi pemenang di PILEG, maka partai-partai besar (dulunya) seperti tersadar dari mimpi buruk sibuk membangun komunikasi politik. Saban hari rakyat disibukkan oleh tontonan koalisi partai-partai, atau lebih tepatnya kunjungan politik.

Pertanyaanya, sampai kapan hal itu berlangsung? Tidakkah partai-partai itu sadar—sedikit saja tidak usah banyak-banyak—bahwa tingkah-laku mereka itu ditonton oleh rakyat. Musim koalisi yang mereka ciptakan sungguh merupakan tindakan bodoh yang alih-alih merebut hati rakyat, malahan membuat rakyat jenuh dan, malahan, bertanya-tanya: hari depan macam apa yang akan mereka hadapi dengan calon pemimpin gila kekuasaan seperti itu.

Musim koalisi ini justru memberikan kesadaran bagi rakyat bahwa negara ini belum melahirkan pemimpin sejati, pemimpin yang benar-benar berpikir untuk rakyat dan bangsanya. Pemimpin sejati itu entah di mana adanya, seolah-olah dia bukan bagian dari negara ini.

Bangsa Nol Pemimpin

Jika Amerika Serikat punya Obama, maka siapa yang dimiliki Indonesia? Kyai-kah? Kita pernah memiliki Presiden Kyai, tapi itu gatot alias gagal total. Ilmuwan-kah? Indonesia juga pernah memilikinya, itu pun juga tidak jauh berbeda, gagal dan bahkan Indonesia kehilangan satu provinsi strategis.

Jika demikian, mau ke manakah Indonesia? Padahal, selayaknya perusahaan, Indonesia butuh pemimpin yang mengerti details dari perusahaan tersebut. Hanya pemimpin yang mengerti dengan detaillah yang dapat membawa perusahaan tersebut ke arah yang semestinya. Dia dapat membawa perusahaan itu melewati badai krisis dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, baik SDA maupun SDM.

Justru, jika dilihat dari dua sumber tersebut, Indonesia tiada duanya di dunia ini. Dari sisi SDA, Indonesialah negara idaman di dunia ini. Sumber Daya Alam yang melimpah, gunung yang mengandung emas, laut yang mengandung hydrocarbon, tanah yang mengandung minyak, batu-batu kapur untuk semen, lahan subur yang melimpah baik untuk pangan maupun biofuel, dan seterusnya.

Dari segi SDM, Indonesia termasuk negara padat penduduk. Pemimpin yang baik dapat memberikan sentuhan pendidikan yang effektif dan effisien; cepat dan tepat untuk SDM tersebut. Pemimpin tersebut mengerti bagaimana membangun ekonomi pedesaan dari tangan-tangan SDM-nya sendiri. Dia juga mengerti bagaimana mentautkan kemampuan mereka dengan kemampuan global.

Sekarang yang terjadi adalah sebaliknya, pemimpin-pemimpin Indonesia sibuk memberikan kesan bukan perbuatan. Tak sedikit anggaran negara (untuk incumbent) dan anggaran pribadi (untuk non-incumbent) dihabiskan untuk pameran kesan tersebut. Janji-janji politik mereka sangat umum dan tidak menyentuh sama sekali.

Symbol Kebobrokan

Lalu, kenapa penulis bilang cerainya SBY-JK adalah symbol kebobrokan? Jawabannya begini, kepemimpinan SBY-JK yang mediocre, tidak sukses dan sedikit gagal, yang oleh banyak polling berada di tempat paling tinggi adalah symbol kepercayaan rakyat. Kepercayaan mereka itu dibuktikan dengan urutan besarnya perolehan suara pada PILEG kemarin, di mana Partai Demokrat sebagai President mendapatkan suara terbanyak, dan Golkar mendapatkan suara terbesar ke-2.

Itulah bukti bahwa rakyat masih mengharapkan duet kepemimpinan yang mediocre meneruskan program-program yang masih terseok-seok tersebut. Mungkin rakyat masih menaruh harapan bahwa banyaknya program yang gagal 5 tahun yang lalu dapat diteruskan pada 5 tahun mendatang. Rakyat merasa bahwa pergantian kepemimpinan hanya akan melahirkan keraguan baru: apakah pemimpin yang baru akan lebih baik dari yang sebelumnya?

Jika kepercayaan ini dilanggar, oleh alasan apa pun, apalagi hanya oleh perasaan gengsi atau sebel melihat tingkah salah-satu di antara SBY-JK tersebut, maka itu adalah sebuah symbol kebobrokan sejati. Symbol pemimpin yang sangat tidak arif dan emosional.

Seorang anak, yang tidak pintar, berprestrasi biasa-biasa saja di kelas, dan jauh dari sifat cerdas, dapat melewati masa-masa sulit belajarnya dengan kedewasaan dan ketekunan. Tapi, jika anak yang tidak cerdas dan tidak pintar tersebut tidak dewasa alias emosional dan tidak tekun, apa jadinya? Demikian juga seorang pemimpin. Jika sudah tidak cerdas dan pintar, maka pemimpin mestinya arif, dewasa, dan bekerja keras demi rakyatnya.

One thought on “SBY-JK: Perpisahanmu Symbol Kebobrokan Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s