BULE LAGI BULE LAGI


Oleh Ahmad Khoiron Musfit

Kalau ada Negara yang selama bertahun-tahun disakiti oleh orang bule tapi masih mengagung-agungkan mereka ya cuma Indonesia, nggak ada duanya bok! Bagaimana tidak? Dari perampokan besar-besaran yang dimotori belanda pada jaman penjajahan dulu sampai kasus-kasus anyar semacam pendudukan secara terang-terangan Sumber daya minyak dan gas Indonesia oleh Exxon Mobil, Caltex, British Petroleum, dan sederet industri migas lainnya. Pertanyaannya adalah, sampai kapan kita begini terus? Tidakkah sebagai bangsa kita merasa sakit hati, direndahkan bahkan dibodohi terus-menerus?

Mungkin jawabannya cliché dan basi—karena jawaban ini sering dipakai oleh para petinggi pemerintahan kita yang nota bene bukan orang bodoh: sementara ini hanya mereka (para bule/investor mancanegara) yang kompeten. Atau malah sebagian kita juga merasa mengetahui bahwa penyebab tunduknya bangsa kita kepada bule-bule adalah karena nilai fee yang cukup besar yang dijanjikan kepada para incumbents yang mau memberikan kemudahan kepada para bule.

Kalau begitu kenyataannya, maka siap-siaplah kita untuk menghadapi beberapa kemungkinan terburuk berikut ini:

Pertama, timbulnya regenerated revenge syndrome, yaitu penyakit dendam yang akan timbul dari generasi satu ke generasi selanjutnya, tidak ada habis-habisnya. Indonesia akan melahirkan generasi-generasi yang suka mengaplikasikan aji mumpung saat berkuasa. Tidak akan ada lagi generasi yang benar-benar ikhlas memperjuangkan kemakmuran negeri apalagi membuat negera ini jaya.

Kedua, dikuasainya, untuk tidak menyebut dirampoknya, sumber-sumber kekayaan alam yang strategis oleh investor asing. Karena, sudah jamak diketahui orang bahwa sebagian besar kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia sudah dikuasai korporasi asing. Sektor pertambangan mendominasi penguasan korporasi asing terhadap eksploitasi kekayaan alam di Indonesia, terutama terjadi pada perusahaan PT Freeport dan LNG Tangguh di Papua, Blok Cepu, Batubara di Kalimantan Selatan (Kalsel), Riau hingga Nanggroe Aceh Darusalam. Dan di saat yang sama kita mengetahui bahwa daerah-daerah penghasil pertambangan tersebut, merupakan kantong-kantong kemiskinan.

Ketiga, tergerusnya mental positive bangsa Indonesia. Karena setelah sekian lama terjajah oleh sejumlah bangsa asing, Indonesia masih saja mempersilakan bangsa asing menjajahnya secara berulang-ulang dan dengan cara yang sangat mudah. Contoh, jika dulu bangsa asing seperti Belanda, Portugis dan Inggris seenaknya mengambil kekayaan alam kita dalam keadaan kita masih bodoh, sekarang bangsa asing pun masih seenaknya mengatur dan menginjak-injak kita dengan gampangnya. Betapa tidak? Di Negara kita tercinta ini, mereka para bule bebas makan-minum, menginap dan melakukan transaksi apa saja menggunakan mata uang mereka sendiri tanpa kesulitan apapun! Sementara bangsa Indonesia yang katanya bermartabat dan sudah agak maju ini dijamin diusir dari rumah makan di Singapore jika membayar memakai Rupiah. Masya Allah, begitu rendahnya kita di jaman serba canggih ini.

Keempat, Indonesia tinggal menunggu runtuhnya saja. Di saat semua sektor sudah dikuasai, sekali lagi untuk tidak mengatakan dirampok, oleh asing; di saat mental positive bangsa kita sudah kembali lagi ke titik nadir, di saat kemiskinan dan kebodohan merajalela, maka Indonesia tinggal menunggu saat di mana rakyat kehilangan arah dan pijakan; saat di mana pemerintah sudah tidak bisa berhutang lagi; saat di mana bencana seperti tanah longsor akibat penambangan yang overload, banjir akibat resapan air telah punah akibat penggundulan hutan, gempa bumi akibat doa orang-orang miskin yang didzalimi tanpa henti.

Tentu saja, kita tidak ingin hal-hal di atas terjadi. Sebagai ayah/ibu dari anak-anak, sebagai anak yang berbakti kepada orangtua; sebagai guru dari murid-murid, atau sebagai apa saja yang mesti melindungi mereka-mereka yang patut dilindingu, kita pasti tak akan membiarkan hal-hal di atas terjadi. Jika begitu, maka penulis kira belumlah terlambat untuk bangkit dan sadar bahwa kita sama dengan para bule itu.

Kebangkitan dan kesadaran itu penting karena jika kita mau melek, maka kita akan mengetahui bahwa Indonesia mempunyai segalanya yang bule-bule itu punya, bahkan yang mereka tidak punya. Tentu kita tahu, Indonesia punya, malahan kaya, Sumber Daya Alam, sesuatu yang para bule itu tidak punya. Indonesia juga punya orang-orang berduit yang lebih rajin berinvestasi keluar dengan alasan yang masuk akal, yaitu kenyamanan, keamanan dan pendapatan yang lebih daripada berinvestasi di Indonesia. Indonesia juga punya Sumber Daya Manusia yang tak kalah handalnya jika pemerintah mau membuka diri.

Dari SDM ini, mari kita sama-sama buktikan. Saat Indonesia diberikan peringkat ke 107 kalah oleh Palestina yang sedang berkecamuk pada level Human Development Index (HDI), Indonesia membuktikan bahwa negara ini masih, di tingkat intelektualitas, masih layak diperhitungkan. Pada penyelenggaraan olimpiade fisika baik yang ke 37 sampai dengan yang ke 39, Indonesia dapat menempati posisi teratas, alias juara! Tak hanya itu, posisi perak, dan perunggu pun ikut bisa diboyong oleh tim olimpiade kita. Pada penyelenggaraan olimpiade matematika internasional, Indonesia juga mampu berbicara banyak dengan meraih emas, perak, dan perunggu pada tahun-tahun berbeda.

Apakah hanya olimpiade? Tidak dong. Indonesia pernah menjadi juara ke-3 pada kompetisi bisnis tingkat internasional “L’oreal e-Strat Challenge ke-6” di Paris Perancis yang diwakili oleh Tim Concorde yang terdiri dari Dharma Satriadi, Arif Medianto dan Aan Budiarto (mahasiswa angkatan 2003) Fakultas Ekonomi UI. Pada tahun 2007, Indonesia juga mampu menjadi juara top coder. Dan masih banyak lagi prestasi yang dapat dijadikan acuan bahwa sebenarnya Indonesia sangat bisa bangkit.
Intinya, jika mau, Indonesia sangat bisa bangkit dari keterpurukan bahkan menjadi bangsa yang berjaya. Yang lalu biarlah berlalu. Biarlah Exxon, Freeport dan konco-konconya telah mengambil kekayaan kita. Tapi jangan biarkan mereka terus-terusan mengambilnya. Jika tidak dihentikan dari sekarang, kapan lagi? Karena penulis pikir, jika alasan yang dipakai oleh pemerintah untuk membiarkan bule-bule itu merampok kekayaan kita adalah karena ketakutan kita akan dikucilkan di dunia internasional, maka, menurut penulis, pemerintah dalam kesalahan besar. Kenapa kesalahan besar? Lah iya dong, apa mereka tidak tahu bahwa Indonesia ini termasuk Negara yang paling diincar kekayaan alamnya? Apa yang telah diambil Exxon dan konco-konconya itu hanya segelintir dari kekayaan alam kita yang sesungguhnya. Belum lagi baru-baru ini diketemukan sumber hydrocarbon di laut Aceh. Konon jumlah debit dari hydrocarbon tersebut mengalahkan apa yang ada di Saudi dan Brazil. Wow, apakah ini tidak membuat kita sombong minimal percaya diri di hadapan dunia?
Ya sudahlah pak dan bu pemerintah, mbok yo jangan bule lagi bule lagi. Kita-kita ini bangsa besar dengan kekayaan yang besar. Mbok punya harga diri sedikit. []

2 thoughts on “BULE LAGI BULE LAGI

  1. yah tetep dijajah pak, wong kita ada durian belanda ama terong belanda. apa mang tuh buah buahan dari belanda! ato cuma mereka yang temuin dinegara kita trus dikasih nama negara tuh

  2. Negara kita negara penuh toleransi, orang nyolong pun ditoleransi selama itu bule. Tapi kalau bangsa sendiri nyolong sandal jepit pun pasti babak belur sampai terkecing-kencing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s