KRISIS GLOBAL: STARTING POINT KEMAJUAN BANGSA


Oleh Ahmad Khoiron Mustafit

Bulan Syawwal tahun ini adalah bulan syawwal terseru sekaligus terpanas. Awal-awal Syawwal 1429 H ditandai dengan jebloknya bisnis property di Amrik yang berpengaruh global. Pengaruhnya menggucang seluruh sector financial di hampir semua Negara di bumi ini. Ada apakah gerangan? Apakah benar ini pengaruh keperkasaan kapitalisme Amerika? Atau cuma pikiran picik kita saja yang terlalu mengagungkan ‘keperkasaan’ Amerika? Marilah kita cari jawabannya bersama-sama.

Secara ekonomi, penulis bukanlah ahlinya untuk mengomentari ini semua. Makanya, penelusurannya mungkin saja akan sedikit sekali sestting ekonominya. Penulis lebih tertarik menelusurinya memakai bantuan mata hati keikhlasan. Karena penulis merasa yakin bahwa segala kekacauan ini bersumber dari cara berpikir kapitalis yang cenderung liberal dan tidak memihak kepada pemerataan, oleh sebab itu tidak punya hati. Maka dengan hati yang jernih, segala sesuatu bisa ditelusuri pemecahannya.

Belajar dari Kebodohan

Secara umum, mestinya, dampak dari krisis keuangan Amerika Serikat tidak banyak, lebih-lebih pada sector riil. Namun, karena Indonesia ini adalah Negara ajaib, maka sekecil apa pun dampak yang ditimbulkan oleh Negara tertentu, apalagi Amerika Serikat, maka tak ayal lagi akan berpengaruh kepada sektor apa pun di negeri ini. Minimal jika kita ingat bahwa pengelolaan Sumber Daya Alam di Indonesia masih belum profesional mandiri dan masih bergantung kepada asing.

Tambang emas, misalnya, pengelolaan sumber daya ini masih dikuasai asing. Padahal, emas ini sebenarnya bisa menjadi salah satu pilar perekonomian dunia yang dapat menunjang pilar ekonomi Indonesia juga tentunya.

Hasil laut juga belum dikelola secara maksimal. Pemerintah seperti jalan di tempat dari tahun ke tahun; terbukt dengan masih minimnya fasilitas nelayan tradisional yang kalah jauh dari nelayan Negara-negara lain. Dari sisi pengamanan, pemerintah juga masih nol besar. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam mengamanankan wilayah perairannya, sehingga hasil laut lebih banyak dicuri oleh negara lain.

Di bidang perkebunan dan pertanian, yang notabene merupakan sector yang bisa diandalkan, Indonesia malah kalah dengan Malaysia, Thailand, dan banyak Negara lain. Ada-ada saja penyebabnya, dari pencurian lahan oleh masyarakat, seperti yang terjadi di PTPN II, dan sebagian besar PTPN, sampai sengketa lahan seperti yang terjadi di PTPN IV Takalar.

Di sektor industri, Indonesia masih belum bisa bersaing dengan Negara-negara sesama Asean, India dan China. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya barang import.

Oleh karena itu, Indonesia harus belajar dari kesalahan-kesalahannya dalam menata Negara ini. Ketergantungan terhadap asing di segala bidang harus dikurangi sedikit demi sedikit. Tidak ada salahnya memang berdagang dengan Negara lain, bahkan harus, demi kelangsungan neraca Negara. Hanya saja, jika tingkat kerjasama tersebut menjadikan Negara ini bergantung kepada Negara lain, maka hasilnya adalah keterpurukan. Karena tidak ada Negara manapun yang benar-benar ikhlas memberikan bantuannya kepada Negara yang lain tanpa pretensi tertentu, untuk tidak mengatakan niat jahat. Jika itu kenyataannya, maka yang harus digugah adalah kesadaran bahwa kita ini sama dengan Negara lain, butuh pengakuan dan oleh karena itu prestasi dan kejayaan. Jika ingin jaya, equality harus dipertahankan. Tidak ada lagi bule dikedepankan daripada orang lokal; tidak ada lagi investor mancanegara lebih ok daripada investor lokal. Bahkan, jika perlu, Indonesia mesti membanggakan bahasanya sendiri ketimbang mengagung-agungkan bahasa bule. Bahwa orang berbahasa Inggris lebih diperlukan daripada yang berbahasa Indonesia.

Kenapa kita tidak berkaca kepada Negara-negara maju semacam Jepang dan China? Mereka tidak kemudian menjadi terpuruk gara-gara anti berbahasa asing. Sebaliknya, malahan, orang-orang asing yang ingin berinvestasi, bekerjasama, memanfaatkan kelebihan Jepang, dan seterusnya, menyesuaikan diri dengan belajar bahasa Jepang atau minimal dipandu oleh penerjemah lokal. Begitu juga China.

Nah, Indonesia pun bisa berbuat demikian. Diawali dengan menyatakan bahwa tidak ada bahasa di Indonesia selain bahasa Indonesia, penulis yakin, semua hal-hal besar akan dimulai. Kenapa? Karena dari sini keran kepercayaan diri akan mengucur. Di mana masyarakat akan tersadarkan bahwa bukan mereka yang harus mengemis kepada para bule/asing. Melainkan mereka yang mesti menyesuaikan diri dengan kita.

Alangkah indahnya jika orang-orang asing, termasuk IMF dan institusi lainnya yang biasa menakan kita, akhirnya menghargai kita setinggi-tingginya selayaknya bangsa yang mempunyai begitu banyak Sumber Daya Alam.

Bangsa Perkasa

Pertanyaannya adalah, apakah mudah melakukan semua itu? Jawabannya, memang tidak mudah. Namun, tidak ada sesuatu yang sulit dapat terpecahkan jika tidak mulai dipecahkan. Jika demi harga diri bangsa kita mesti berkeringat darah selama 10 tahun, kenapa tidak dimulai sekarang? Karena 10 tahun akan menjadi 20, 30 bahkan ratusan tahun jika tidak dimulai dari hari pertama. Malah bisa jadi, jika inisiasi tidak diambil, setelah sekian lama, setelah begitu banyak sumberdaya alam Indonesia terkuras, setelah begitu banyak korban (akibat kemiskinan dan kebodohan), setelah begitu banyak penderitaan, Indonesia semakin terpuruk. Alih-alih menjadi bangsa bermartabat, dipandang pun tidak oleh Negara-negara lain.

Kita awali dengan 1 langkah, maka langkah ke-2, ke-3, ke-100 dan seterusnya akan tertapaki. Tentu saja harus dengan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, terutama dari para elite baik di bidang politik maupun ekonomi. Karena selama ini, kemakmuran dan kekayaan hanya berputar di kalangan mereka saja. Jika mereka tersadarkan untuk melakukan yang terbaik untuk bangsa ini, penulis yakin betul masyarakat pun akan secara ikhlas membantu tanpa pamrih.

Tidak disangsikan lagi, ketimpanganlah yang selama ini menjadi batu cadas yang menghalangi kebersamaan bangsa ini. Di saat orang-orang biasa (seperti tukang becak, buruh pabrik, kuli bangunan, pedagang pasar, pengrajin, tukang jahit dan sebangsanya) menjalani hukum alam seperti semakin rajin bekerja semakin banyak duit terkumpul, juga sebesar-besar hasil yang mereka peroleh dari pekerjaan mereka sebagai orang biasa, ketika berhadapan dengan kebutuhan hidup maka impas bahkan nihil lagi, maka pada saat yang sama para elite baik politik maupun ekonomi di luar hukum alam itu—kenyataan menunjukkan bahwa seorang pejabat tidak butuh waktu lama untuk membeli mobil, rumah mewah, membuat pabrik, berinvestasi di berbagai bidang dan seterusnya.

Jika ketimpangan semacam ini ditiadakan dengan niat baik, maka bangsa ini akan bersatu kembali. Jika bangsa yang mempunyai sejarah perjuangan mengagumkan ini bersatu seperti sedia kala, tak ada bangsa yang dapat menandigi keperkasaannya. Dan tidak mungkin, suatu hari nanti, Indonesia akan menjadi Negara perkasa baru menggantikan Amerika Serikat yang pada dasarnya has nothing but a lot of trick. []

One thought on “KRISIS GLOBAL: STARTING POINT KEMAJUAN BANGSA

  1. Cool.. Anda cocoknya jadi Presiden.. Kalau kesadaran semacam ini mengemuka pada masyarakat dan bangsa indonesia, maka saya pun yakin indonesia akan keluar dari keterhinaan ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s