BALITA SYNDROME


Oleh Mustafit

Kalau orang bilang bahwa orang Indonesia sukanya mengada-ada memang benar. Tapi, lebih benar lagi kalau kita bilang bahwa politikuslah yang paling suka mengada-ada. Mereka lebih sering berada di luar realita ketimbang berada di dalamnya. Alih-alih memperbaiki keadaan malah memperunyam masalah.

Belum lama, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir, Selasa (14/10) mengatakan, “Yang wajib dilakukan oleh para Capres, Cawapres dan tokoh-tokoh politik saat ini adalah menyatukan energi positif dari seluruh komponen bangsa untuk mencari solusi ancaman krisis global itu terhadap Indonesia.” Pada awalnya, saya kagum dengan semangatnya memberikan arahan kepada Presiden dan Wapres. Tapi mendadak saya terbentur pada keadaan yang biasa saya rasakan ketika Bachir mengatakan, “Presiden dan wapres sebaiknya menghentikan politik tebar pesona dan lepaskan atribut dan kegiatan-kegiatan berbau partai. Sebagai nakhoda, presiden dan wapres harus mengantisipasi krisis agar tidak terjadi situasi seperti pada tahun 1998.”
Kenapa saya merasa kecewa? Karena pesannya pak Bachir lebih mengarah kepada akal-akalan ketimbang pesan moral. Mudah-mudahan dugaan saya salah, tapi yang saya takutkan adalah bahwa politik tebar pesona pak Bachir di berbagai media, terutama di televisi, baik pada momen sebelum Ramadhan, Ramadhan, piala Euroa dan Idul Fitri telah menguras banyak sekali uangnya, sehingga pak Bachir menyarankan agar pesaing terkuatnya SBY-JK tidak beriklan di televisi.
Hal senada juga pernah dilakukan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada pidato ulang tahun partainya di Bali, 10 Januari lalu meminta pemerintah menghentikan kegiatan yang sekedar untuk memoles citra di mata rakyat. Demikian juga pada jaman pemerintahan Gus Dur. Ketika Gus Dur sedang giat-giatnya mempromosikan Indonesia dan berusaha menyelesaikan masalah dengan gayanya, politikus berteriak bahwa Gus Dur bisanya cuma jalan-jalan, menghabiskan uang negara.

Politik Balita

Saya jadi ingat anak saya yang sekarang berumur 3 tahun. Di matanya, saya selalu salah apabila saya tidak menuruti permintaannya, walaupun tidak mungkin tindakan saya sebagai seorang bapak adalah mencelakakannya. Hal yang paling sering dilakukan adalah berteriak, ujung-ujungnya menangis meminta saya menuruti permintaannya. Jika tidak berhasil juga, dia pasti berulah dengan mengajak ibunya, kakeknya, neneknya, om-om dan tante-tantenya agar berada di pihaknya.

Hal yang dilakukan Megawati, Soetrisno Bachir dan para politikus Indonesia pada umumnya tidak jauh berbeda dengan politik anak saya. Mereka tidak pernah bisa menerapkan prinsip keadilan, kejujuran dan objective dalam menilai. Yang ada di kepala mereka adalah motto: lawan politik selalu salah, kawan selalu benar. Jika teriakan-teriakan mereka tidak didengar, mereka akan mencari dukungan kepada rakyat dengan dalih membela kepentingan rakyat.
Alih-alih membela kepentingan rakyat, hampir semua komponen bangsa mengetahui betul tingkah-laku mereka di parlemen dan di pemerintahan: mereka hanya mencari keuntungan untuk mereka dan golongannya saja. Lain tidak!

Akan tetapi, entah karena amnesia atau tidak tahu malu, pada saat kampanye, mereka berkata, berorasi, bertindak seolah-olah mereka pro rakyat, mikirin rakyat, hidup demi rakyat. Atau paling tidak, karena mereka mengetahui bahwa rakyat tahu bahwa partai mereka terdiri dari koruptor-koruptor, mereka mengesankan bahwa mereka tidak termasuk di dalamnya.

Inilah yang kita sebut sebagai politikus lebih suka di luar realita ketimbang ada di dalamnya. Mana bisa sebuah partai politik beranggotakan malaikat dan iblis? Kalau anggotanya malaikat, ya malaikat semua. Kalau iblis, ya iblis semua. Begitu kok repot.

Coba saja kita pikirkan sejenak. Dalam sebuah rumah tangga saja, jika suaminya orang saleh dan isterinya orang bejat, maka rumah tangga tidak akan berjalan dengan mulus, malah seringkali karam di tengah jalan. Apalagi partai, yang notabene lebih menginginkan kesatuan suara dan pendapat. Jika suatu partai mengetahui anggotanya korupsi, masa iya partai tersebut tidak minta bagian? Atau tidak dibagi? Walah, bisa direcall itu anggota. Iya gak?

2 thoughts on “BALITA SYNDROME

  1. Keren euy tulisannya…dipikir-pikir emang benar laku politik persis laku anak2, mencari aliansi untuk memenangkan kepentingannya

    1. Eh, sorry…. baru lihat comment-nya, eh salah, baru lihat blog-ku lagi setelah selama berbulan-bulan mengurusi negara hahahaha… Apa kabar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s